Fenomena lagu corona u can’t touch this kembali mencuat di media sosial Indonesia, meski lagu aslinya sudah berumur puluhan tahun. Di tengah ingatan kolektif tentang pandemi Covid 19 yang masih kuat, kemunculan kembali potongan lagu bernuansa corona ini memantik perdebatan, tawa, sekaligus nostalgia di berbagai platform. Bagi sebagian orang, ini sekadar hiburan kreatif, namun bagi yang lain, ini menyentuh memori pahit tentang masa krisis kesehatan global yang belum sepenuhnya terlupakan.
Asal Usul Lagu Corona U Can’t Touch This dan Versi Parodinya
Sebelum menjadi bahan parodi bertema corona, lagu ini berakar dari salah satu ikon musik rap era 90 an. U Can’t Touch This yang dipopulerkan MC Hammer adalah salah satu lagu paling ikonik dalam sejarah pop dan hip hop. Hook yang mudah diingat, beat yang khas, serta gaya menari yang unik menjadikannya bahan empuk untuk diolah kembali, termasuk dalam bentuk lagu corona u can’t touch this yang beredar di internet.
Di masa awal pandemi, ketika masyarakat dunia mulai terbiasa dengan istilah social distancing, lockdown, dan protokol kesehatan, banyak kreator konten yang memanfaatkan lagu ini sebagai medium kampanye kreatif. Liriknya diubah, disesuaikan dengan pesan kesehatan seperti jangan salaman, jangan menyentuh wajah, jaga jarak, hingga ajakan rajin mencuci tangan. Nuansa aslinya yang enerjik dianggap cocok untuk menyampaikan pesan serius dengan cara yang lebih ringan.
Fenomena ini tidak terjadi di satu negara saja. Di berbagai belahan dunia, muncul versi lokal dengan bahasa masing masing, termasuk di Indonesia. Kreator lokal mengadaptasi melodi dan ritme U Can’t Touch This, lalu menambahkan lirik yang relevan dengan situasi di tanah air. Dari sinilah istilah lagu corona u can’t touch this menempel kuat di benak netizen sebagai simbol kreativitas di tengah krisis.
Kenapa Lagu Corona U Can’t Touch This Viral Lagi Sekarang
Beberapa tahun setelah fase terberat pandemi berlalu, banyak orang mengira konten bertema corona akan perlahan hilang dari linimasa. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Cuplikan lagu corona u can’t touch this kembali berseliweran di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts. Algoritma platform tampaknya “menggali” konten konten lama yang terbukti punya engagement tinggi, lalu mendorongnya kembali ke permukaan.
Kebangkitan ulang ini ditopang oleh beberapa faktor. Pertama, generasi pengguna baru yang mungkin tidak mengalami langsung fase awal pandemi kini menemukan konten tersebut sebagai sesuatu yang baru dan menarik. Kedua, bagi mereka yang pernah mengalaminya, konten ini memicu rasa nostalgia yang unik, semacam kenangan absurd tentang masa ketika orang sibuk berburu masker, hand sanitizer, dan menonton konferensi pers setiap hari.
Ada juga aspek psikologis yang menarik. Setelah melewati masa sulit, manusia cenderung mengolah pengalaman traumatis menjadi bahan humor sebagai mekanisme bertahan. Lagu dengan nuansa ceria, padahal membahas virus mematikan, menjadi simbol ironi yang justru menenangkan bagi sebagian orang. Di titik inilah, lagu corona u can’t touch this bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin cara masyarakat berdamai dengan pengalaman kolektif yang berat.
“Humor tentang masa krisis sering kali muncul bukan karena kita melupakannya, tetapi justru karena kita akhirnya cukup kuat untuk menertawakannya.”
Lagu Corona U Can’t Touch This di Mata Netizen Indonesia
Respons netizen Indonesia terhadap kemunculan ulang lagu corona u can’t touch this sangat beragam. Di kolom komentar, mudah ditemukan perpaduan antara tawa, nostalgia, hingga kritik. Banyak yang menuliskan betapa mereka teringat masa work from home, kelas daring, dan suasana jalanan yang lengang setiap melihat potongan video dengan lagu ini sebagai latar.
Sebagian warganet menganggap lagu tersebut sebagai pengingat lucu tentang betapa absurdnya rutinitas di masa pandemi. Dari menumpuk stok mie instan hingga mengoleksi masker kain warna warni, semuanya seolah dikemas ulang dalam bentuk video singkat yang diiringi lagu enerjik. Tak sedikit yang memanfaatkan lagu corona u can’t touch this untuk membuat konten perbandingan antara hidup sebelum, saat, dan setelah pandemi.
Namun, ada juga suara yang lebih kritis. Bagi mereka yang kehilangan keluarga, pekerjaan, atau mengalami tekanan mental berat di masa itu, konten bernuansa corona bisa memicu kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh. Sebagian menganggap glorifikasi humor tentang corona berpotensi mengaburkan betapa seriusnya krisis tersebut. Perdebatan ini sering muncul di thread panjang di X maupun diskusi di kolom komentar.
Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa satu karya atau konten bisa memiliki makna yang sangat berbeda tergantung pengalaman pribadi masing masing. Lagu corona u can’t touch this menjadi semacam titik temu di mana tawa, sedih, marah, dan lega bercampur dalam satu ruang digital yang sama.
Kreativitas Konten: Dari Edukasi ke Hiburan Murni
Saat pertama kali muncul, parodi lagu corona u can’t touch this banyak digunakan untuk tujuan edukasi. Lembaga kesehatan, komunitas, hingga kreator independen memanfaatkannya sebagai sarana menyampaikan pesan penting dengan cara yang mudah dicerna. Lirik yang diubah menjadi ajakan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak membuat informasi kesehatan terasa lebih ringan untuk semua kalangan, termasuk anak anak.
Seiring berjalannya waktu, fungsi edukatif ini bergeser menjadi hiburan murni. Ketika protokol kesehatan mulai longgar dan vaksinasi meluas, banyak kreator yang menggunakan lagu tersebut hanya sebagai latar untuk konten komedi, sketsa, atau sekadar lipsync. Unsur informatifnya memudar, digantikan oleh fokus pada kelucuan dan kreativitas visual.
Perubahan ini bisa dibaca sebagai cerminan perjalanan kolektif masyarakat. Dari fase panik dan waspada, menuju fase adaptasi, lalu akhirnya memasuki fase refleksi dengan sentuhan humor. Lagu corona u can’t touch this menjadi semacam penanda perjalanan itu, dari video edukasi yang serius namun jenaka, hingga konten hiburan yang sepenuhnya lepas dari tujuan awalnya.
Jejak Lagu Corona U Can’t Touch This di Platform Digital
Di platform berbagi video pendek, lagu corona u can’t touch this sering muncul sebagai salah satu sound yang direkomendasikan. Pengguna cukup memilih audio tersebut, lalu membuat konten sesuai kreativitas masing masing. Beberapa tren yang sempat populer antara lain transisi sebelum dan sesudah pandemi, kompilasi foto suasana kota yang lengang, hingga parodi kebiasaan baru seperti meeting online dan kelas daring.
Di YouTube, banyak video lama yang kini kembali naik di rekomendasi. Judul judul dengan kata kunci corona dan U Can’t Touch This kembali mengundang klik, terutama dari penonton yang ingin bernostalgia atau sekadar penasaran. Di platform musik digital, meski tidak selalu tertulis sebagai versi resmi, pencarian terkait lagu corona u can’t touch this menunjukkan bahwa minat terhadap tema ini belum sepenuhnya padam.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya daya tahan sebuah karya ketika sudah masuk ke budaya populer. Lagu aslinya mungkin dirilis jauh sebelum kata corona mendominasi pemberitaan, namun dalam tangan kreator digital, ia lahir kembali dengan nuansa dan fungsi yang sangat berbeda. Transformasi ini memperlihatkan bagaimana era internet memungkinkan sebuah lagu hidup dalam banyak versi dan arti.
Perdebatan Etika: Bolehkah Pandemi Dijadikan Bahan Lelucon
Di balik popularitas lagu corona u can’t touch this, ada diskusi yang lebih serius mengenai batas antara humor dan sensitivitas. Apakah wajar menjadikan pandemi sebagai bahan lelucon, bahkan jika disampaikan dalam format lagu yang menghibur Sebagian orang berpendapat bahwa humor adalah hak semua orang, terutama mereka yang merasakan langsung tekanan di masa krisis. Bagi mereka, tertawa adalah cara melepaskan beban.
Di sisi lain, ada yang menilai bahwa penggunaan tema corona secara berlebihan dalam konten hiburan bisa dianggap meremehkan penderitaan orang lain. Terlebih ketika angka korban dan cerita duka masih mudah ditemukan, konten bernada jenaka bisa terasa menyinggung bagi yang masih berduka. Perbedaan sudut pandang ini menciptakan garis halus yang sulit ditentukan secara mutlak.
Dalam konteks ini, lagu corona u can’t touch this menjadi contoh konkret bagaimana kultur digital sering bergerak lebih cepat daripada refleksi etis. Kreator cenderung mengikuti tren dan algoritma, sementara diskusi mengenai layak atau tidaknya sebuah tema kadang tertinggal. Pada akhirnya, penilaian moral sering dikembalikan kepada penonton, yang memilih sendiri konten apa yang ingin dinikmati atau dihindari.
“Internet mengajarkan bahwa sesuatu bisa sekaligus lucu bagi satu orang dan menyakitkan bagi orang lain, tanpa ada yang benar benar salah atau benar secara mutlak.”
Lagu Corona U Can’t Touch This sebagai Pengingat Kolektif
Terlepas dari pro dan kontra, sulit menyangkal bahwa lagu corona u can’t touch this telah menjadi bagian dari ingatan kolektif era pandemi. Setiap kali potongan lagu ini terdengar di linimasa, banyak orang langsung terlempar pada memori ruang tamu yang berubah jadi kantor, meja makan yang menjelma ruang kelas, hingga layar gawai yang menjadi satu satunya jendela ke dunia luar.
Lagu ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rangkaian simbol budaya pandemi bersama masker, hand sanitizer, dan istilah istilah baru yang dulu terasa asing. Kehadirannya di media sosial hari ini seolah mengingatkan bahwa periode itu benar benar terjadi, bukan sekadar babak aneh dalam sejarah yang bisa dilupakan begitu saja.
Bagi sebagian orang, mendengar lagi lagu corona u can’t touch this justru membantu mereka menyadari sejauh apa perjalanan yang telah dilalui. Dari ketidakpastian dan ketakutan, menuju adaptasi dan akhirnya ke titik di mana pengalaman itu bisa dikenang dengan cara yang lebih ringan, meski tidak semua luka sudah sepenuhnya sembuh.



Comment