Contoh Actionable Metrics dan Bedanya dengan Vanity Metrics

actionable metrics adalah

Dalam dunia digital marketing, vanity metrics adalah hal yang wajib untuk Anda hindari. Sebaliknya, lawan dari vanity metrics adalah actionable metrics yang harus Anda pahami.

Vanity metrics merupakan salah satu metrik yang menjebak. Pasalnya, metrik ini bisa membuat marketer malah membentuk jenis strategi pemasaran yang sia-sia, karena tidak memberi dampak yang cukup signifikan untuk bisnis ke depan. Itulah kenapa sebisa mungkin marketer perlu menghindarinya.

Sedangkan actionable metrik merupakan kebalikannya, di mana statistik dalam metrik ini sifatnya lebih spesifik pada tugas tertentu dan dapat Anda kaitkan dengan tujuan bisnis.

Melalui artikel berikut ini, kami akan mengulas apa itu actionable metrics dan contoh penggunannya.

Apa Itu Actionable Metrics?

Istilah Vanity Metrics dan Actionable Metrics memang sering terdengar saat mengukur kualitas campaign atau kampanye pemasaran. Campaign adalah strategi dalam mempromosikan suatu aspek tertentu dari bisnis, baik itu secara digital atau tradisional.

Pada dasarnya, semua metrik bisa menjadi vanity atau actionable. Namun apakah metrik atau angka-angka tersebut benar-benar bisa bermanfaat untuk bisnis, di sinilah letak perbedaan antara keduanya.

Melansir dari Clickdata, actionable metrics adalah metrik yang dapat Anda gunakan untuk mengukur statistik yang terkait dengan tugas spesifik dan berulang yang bisa Anda tingkatkan sesuai dengan tujuan bisnis.

Alih-alih terganggu oleh angka menjebak seperti vanity metrics, metrik ini membantu Anda menentukan tindakan yang menghasilkan dan fokus pada strategi pemasaran yang dapat Anda terapkan untuk meningkatkan skala bisnis.

Metrik ini sangat berguna untuk membuat keputusan yang tepat guna meningkatkan hasil dan membawa Anda lebih dekat ke tujuan bisnis.  Selain itu, actionable metrics juga dapat Anda gunakan untuk melacak Share of Voice (SOV), engagement rate, sumber traffic, bounce rate, click-through rate (CTR), hingga ROI pemasaran.

Engagement rate adalah metrik yang bisa mengukur interaksi antara audiens dengan konten Anda. Adapun untuk indikatornya yaitu berapa lama audiens membaca konten, menyukai, berkomentar dan sebagainya.

CTR adalah rasio jumlah klik terhadap jumlah impression. Sumber klik biasanya dari hasil pencarian organik.

Sedangkan ROI atau return on investment adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Dengan begitu, bisa diketahui dengan jelas tingkat profitabilitas dari suatu investasi.

Baca Juga :

Mengapa Actionable Metrics Lebih Baik dari Vanity Metrics?

Vanity metrics terlihat menyenangkan dan seolah memberikan hasil yang baik, terutama untuk pertumbuhan startup. Angka-angka yang ditunjukkan terlihat seperti sebuah pencapaian hebat. Akan tetapi, dalam melakukan perencanaan bisnis, Anda tidak bisa menggunakan angka-angka tersebut.

Data-data vanity metrics seperti jumlah followers, likes, atau jumlah download tidak dapat menentukan berapa banyak jumlah penjualan yang akan Anda dapat nantinya. Menggunakan data seperti ini justru bisa menjebak.

Misalnya adalah jumlah total download dari aplikasi dari sebuah startup. Anda tidak bisa mengukurnya karena setiap orang yang melakukan download belum tentu akan menggunakan aplikasi tersebut secara terus-menerus.

Guna menghindari hal ini, Anda perlu menggunakan actionable metrics untuk mengukur data yang Anda butuhkan untuk membuktikan keberhasilan atau kegagalan suatu digital marketing campaign.

Informasi ini pada akhirnya akan membantu strategi promosi produk atau layanan Anda dengan lebih baik, serta membuat kampanye yang sesuai dengan audiens Anda.

Contoh Penerapan Actionable Metrics

contoh actionable metrics

Berikut adalah beberapa contoh actionable metrics yang dapat Anda gunakan untuk menganalisa strategi pemasaran :

Conversion Rate

Conversion rate penting untuk melacak tingkat di mana orang yang mengunjungi situs Anda menjadi leads dan kemudian pelanggan.

Ketika mereka menambahkan produk ke keranjang, mendaftar untuk uji coba gratis, membuat janji temu, mengisi formulir kontak, atau menyerahkan email mereka, mereka menjadi leads. Dan ketika mereka memberi Anda informasi kartu kredit mereka untuk menagih akun mereka, mereka menjadi pelanggan.

Leads adalah sekumpulan pelanggan yang menanggapi atau menunjukkan minat pada produk atau layanan bisnis setelah membaca sebuah kampanye pemasaran.

Dengan mengawasi tingkat konversi, hal ini dapat membantu Anda memahami bagaimana kinerja strategi marketing yang Anda terapkan dan perlu melakukan evaluasi di area mana.

Analisa Follower Kompetitor

Daripada susah payah mengumpulkan follower yang tidak berguna sebagaimana vanity metrics, lebih baik gunakan waktu Anda untuk menganalisis follower kompetitor.

Anda dapat memanfaatkan fitur FollowerWonk untuk membandingkan follower Anda dengan milik kompetitor. Termasuk jenis konten marketing seperti apa yang membuat follower kompetitor tertarik. Dengan analisis kompetitor ini, Anda dapat menyusun strategi yang tepat untuk bersaing.

Baca Juga :

Bounce Rate dan Social Shares

Bounce rate adalah persentase pengguna yang mengunjungi laman situs Anda tanpa melakukan klik atau penelusuran lebih jauh. Artinya, mereka hanya sekadar mampir tanpa tujuan yang jelas.

Semakin tinggi bounce rate, berarti semakin buruk pula performa situs tersebut. Anda dapat mengurangi bounce rate ini dengan beberapa trik seperti memaksimalkan Call to Action (CTA), membuat landing page yang lebih menarik, atau menyisipkan link di bagian konten yang Anda posting.

Selain itu, Anda juga perlu mengoptimalkan upaya dalam hal social shares. Faktanya, banyak pengguna yang juga membagikan konten blog yang telah mereka ke platform sosial media. Ini artinya pengguna menyukai konten Anda dan berpikir konten tersebut berguna bagi banyak orang. Ini adalah investasi yang bagus untuk perkembangan bisnis Anda.

Analisa Tahapan Pemasaran

Semua strategi marketing membutuhkan tahapan. Inilah yang disebut sebagai marketing funnel. Yaitu sistem atau cara untuk menjelaskan berbagai tahapan yang telah pelanggan lalui sebelum melakukan pembelian.

Sistem ini mencakup semua tahapan mulai dari awareness hingga ke tahap saat mereka siap membeli produk atau layanan yang Anda tawarkan dan menjadi pelanggan.

Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Konten mana yang menarik pengunjung?
  • Tindakan apa yang dilakukan leads di situs Anda sebelum berkonversi?
  • Apakah banyak pengunjung yang tidak pernah melewati halaman produk?
  • Apakah pelanggan meninggalkan keranjang mereka sebelum melakukan pembayaran?

Dengan melacak funnel ini, Anda dapat mendapatkan informasi pada tahapan mana leads tidak tertarik untuk melakukan konversi. Anda pun dapat dengan mudah mengetahui perlu melakukan perbaikan di tahapan mana.

Demikian adalah penjelasan mengenai actionable metrics beserta contohnya. Penting untuk Anda ingat bahwa setiap digital marketing metrics bisa menjadi vanity metrics jika sama sekali tidak memberikan keuntungan untuk perkembangan bisnis Anda ke depannya.

Oleh sebab itu, Anda perlu memilih metrik yang membantu Anda mengambil tindakan, alih-alih berfokus pada metrik yang hanya menunjukkan angka-angka menjebak.

Di sisi lain, Anda dapat menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga :