Sociopreneurship : Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya di Indonesia

apa itu sociopreneurship

Pernahkah Anda mendengar istilah sociopreneurship? Ini adalah salah satu bidang yang sangat cocok bagi Anda yang memiliki jiwa bisnis sekaligus sosial tinggi. Istilah ini semakin populer beberapa waktu terakhir, termasuk di Indonesia.

Bahkan, setidaknya terdapat lebih dari 340 ribu bisnis sosial di Indonesia hingga 2018. Jumlah ini pun terus mengalami pertambahan yang signifikan. Menariknya, lebih dari 67% pemimpin bisnis sosial di Indonesia merupakan anak muda dari generasi millenial dengan rentang usia 18 hingga 34 tahun.

Lantas, apa itu sociopreneurship?

Apa Itu Sociopreneurship?

Melansir dari Investopedia, sociopreneurship adalah gabungan dari kata social dan entrepreneurship. Sesuai dengan namanya, ini adalah gabungan dari model bisnis dengan isu sosial di masyarakat. Istilah lainnya adalah business social enterprise.

Bisnis sosial ini berusaha untuk menggunakan berbagai cara bisnis guna mengatasi masalah bersama yang muncul di masyarakat. Biasanya, seorang sociopreneur harus berani mengambil risiko untuk memberikan dampak positif melalui berbagai inisiatif maupun proses bisnis.

Sehingga, jika pada umumnya sebuah bisnis akan berusaha untuk mendapatkan profit sebanyak-banyaknya, maka sociopreneurship cenderung lebih menekankan pada unsur isu sosial daripada keuntungan. Kendati demikian, bukan berarti sociopreneurship mengabaikan profit begitu saja.

Bisnis sosial tetap bisa menghasilkan profit. Akan tetapi, profit tersebut akan lebih berguna untuk menciptakan sebuah aksi positif ketimbang keuntungan pribadi. Hubspot menyebut bahwa ukuran kesuksesan sebuah sociopreneurship adalah ketika bisnis tersebut mampu memberikan dampak positif yang berarti bagi masyarakat.

Beberapa bidang bisnis sosial antara lain industri kreatif, perikanan dan agrikultur, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, hingga penyedia akses ke daerah terpencil.

Baca Juga :

Karakter Sociopreneurship

Bisnis sosial bukan hanya sekadar menggabungkan model bisnis dengan kegiatan sosial saja. Melainkan juga memiliki sejumlah karakter, seperti:

1. Fokus pada misi sosial

Yang pertama adalah sociopreneurship cenderung akan berfokus pada misi sosial. Alih-alih meraup untung dan revenue bisnis sebanyak-banyaknya, bisnis sosial juga berkontribusi dalam sustainability management. Yang mana dalam jangka panjang juga akan membantu terwujudnya SDGs (Sustainable Development Growth).

Biasanya, sociopreneurship telah menetapkan visi misi atau tujuan dan target bisnis sejak awal, dan fokus terhadap hal tersebut. Misalnya adalah sebuah industri yang memiliki niche bisnis di bidang pendidikan. Di mana bisnis tersebut berfokus mengembangkan pendidikan di daerah tertinggal atau terpencil.

Maka dari itu, bisnis tersebut harus mengacu pada semua hal yang terkait dengan terpenuhinya hak pendidikan di desa terpencil itu.

2. Umumnya mempunyai skala dampak yang besar

Sesuai dengan karakter sebelumnya, sociopreneurship cenderung fokus pada tujuan dan target yang mereka tetapkan sejak awal. Nah, sociopreneur harus memiliki target skala dampak yang ingin tercapai serta corporate communication yang jelas. Biasanya, bisnis osial mempunyai skala dampak yang besar.

Contohnya adalah bisnis yang bergerak dan berfokus di bidang pendidikan di desa terpencil. Akan lebih baik apabila bisnis tersebut tidak hanya berfokus pada satu desa saja, melainkan juga menyasar target pasar seluruh Indonesia.

3. Inovatif

Karakteristik yang ketiga adalah inovatif. Sebagaimana penjelasan di atas, bisnis sosial biasanya lebih inovatif dan peka terhadap isu-isu di masyarakat. Sehingga, sebuah bisnis sosial harus lebih inovatif dalam menciptakan berbagai cara guna mencapai tujuan utamanya, yakni menyelaraskan bisnis dan unsur sosial.

4. Sangat terbuka pada feedback atau umpan balik

Karakteristik terakhir adalah sociopreneurship begitu terbuka pada feedback atau umpan balik. Sebab pada dasarnya, bisnis sosial bukan hanya fokus pada bisnis itu sendiri, tetapi juga dampaknya pada lingkungan sekitar. Sehingga, bisnis sosial harus memerhatikan pandangan orang lain dan mengedepankan feedback untuk terus mengembangkan usaha (business development) kedepannya.

Baca Juga :

Contoh Sociopreneurship di Indonesia

contoh sociopreneurship

Seperti yang telah kita bahas di atas, Indonesia memiliki indeks pertumbuhan bisnis sosial yang cukup tinggi. Beberapa contohnya antara lain:

1. WeCare.id

Contoh bisnis sosial yang pertama di Indonesia adalah WeCare.id. Ini merupakan bisnis sosial yang bergerak dalam bidang kesehatan.

Tujuan terbentuknya WeCare.id adalah untuk mengumpulkan dana bagi pasien dengan kemampuan finansial terbatas. Atau pasien yang tinggal di daerah yang sulit terjangkau fasilitas kesehatan. Serta pasien yang belum terdaftar dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Dengan adanya WeCare.id, para donatur dapat melihat daftar pasien yang membutuhkan donasi melalui situs resmi mereka.

2. Waste4Change

Contoh selanjutnya adalah Waste4Change. Ini merupakan salah satu bisnis sosial yang terkenal di Indonesia dan berfokus pada pengelolaan sampah yang bertanggung jawab serta ramah lingkungan.

Tujuan dari Waste4Change adalah untuk menjadikan Indonesia bebas sampah. Waste4change melakukan berbagai macam kolaborasi dengan partner (mitra bisnis) dalam hal pemanfaatan teknologi untuk mengelola sampah.

Bisnis sosial ini memiliki prinsip 4C, yang terdiri dari Consult atau jasa konsultasi pengelolaan sampah, Campaign atau mengedukasi (educational) masyarakat, Collect atau bantuan mengumpulkan sampah, dan Create atau mengubah sampah menjadi bahan daur ulang.

Demikian adalah ulasan singkat tentang apa itu sociopreneurship beserta karakteristik dan contohnya di Indonesia. Pada intinya, sociopreneurship adalah suatu jenis entrepreneurship yang membuktikan bisnis tetap bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat secara langsung.

Terlepas dari hal tersebut, Anda juga bisa memaksimalkan bisnis sosial dengan memanfaatkan layanan digital marketing agency yang dapat membantu Anda dalam mendukung kesuksesan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga :