Cara Efektif Mengurangi Bullwhip Effect Pada Manajemen Rantai Pasok

Cara Efektif Mengurangi Bullwhip Effect Pada Manajemen Rantai Pasok

Beberapa tahun ke belakang, baik transformasi digital dan merebaknya pandemi COVID-19 mempengaruhi rantai pasokan (supply chain) di seluruh negara. Akibatnya, tak sedikit pelaku bisnis dari berbagai industri (business niche) mengalami Bullwhip Effect yang mana merupakan akibat dari perubahan permintaan dan pola pembelian konsumen yang tidak efisien.

Fenomena ini cukup merugikan proses bisnis karena tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan (demand generation) dengan akurat sehingga berdampak pada pendapatan (revenue) perusahaan dan bahkan citra merek bisnis (brand image). Bahkan, efek terburuknya dapat membuat Anda dan pemangku kepentingan bisnis (stakeholder) yang terlibat kesulitan untuk memperkirakan tujuan bisnis dalam strategi pemasaran dan penjualan.

Lantas, adakah cara yang efektif untuk mengurangi risiko dan dampak dari Bullwhip Effect ini? Selengkapnya baca artikel di bawah ini.

Apa Itu Bullwhip Effect?

Melansir dari Techtarget, Bullwhip Effect yang juga dikenal sebagai Forrester Effect adalah fenomena terjadinya perubahan permintaan pelanggan dalam rantai pasokan dari retailer atau pengecer, distributor, produsen, dan supplier bahan baku sehingga menyebabkan jumlah pesanan yang mungkin lebih besar atau lebih kecil daripada penjualan.

Dengan kata lain, hal ini dapat menyebabkan terlalu banyak atau tidak cukupnya persediaan yang harus dibeli di setiap tahap produksi. Contohnya, produk-produk nantinya sering berakhir sebagai stok mati (dead stock), barang backorder, atau barang diskonan untuk menghindari kerugian penjualan (pure risk). Selain itu, efek bullwhip juga dapat terjadi sebagai akibat dari penurunan permintaan di tingkat pelanggan karena faktor-faktor tertentu.

Contoh Kasus Bullwhip Effect

Supaya Anda tidak makin bingung dengan penjelasan di atas, kami beri contoh kasus seperti berikut.

Seorang penjual minuman teh dapat menjual rata-rata 10 gelas es teh per hari. Namun, akibat dari musim kemarau yang sangat panas, penjualan es teh meningkat menjadi 30 gelas per hari. Untuk memenuhi permintaan pelanggan baru tersebut, sang penjual meningkatkan perkiraan permintaan produk (demand forecast) menjadi 40 gelas per hari.

Baca Juga:

digital marketing agency

Hal ini membuat distributor juga meningkatkan perkiraan permintaannya di atas permintaan penjual dengan memesan stok sebanyak 60 gelas per hari kepada produsen. Tak berhenti sampai disitu, produsen atau pabrik produksi juga meningkatkan permintaan menjadi 80 gelas per hari.

Sementara produsen sibuk memproduksi banyak stok baru atau bahkan menciptakan produk alternatif untuk memenuhi permintaan pelanggan, penjual akan kehabisan stok. Dan ketika cuaca sudah tidak panas lagi, ada kemungkinan terjadi penurunan jumlah pembeli sehingga mengakibatkan kelebihan stok di seluruh rantai pasokan sebagai akibat dari peningkatan permintaan dari pihak distributor hingga produsen.

Penyebab Terjadinya Bullwhip Effect

Penyebab Terjadinya Bullwhip Effect

Berdasarkan definisi dan contoh kasus di atas, bisa disimpulkan bahwa terdapat penyebab utama suatu bisnis mengalami efek Bullwhip. Mulai dari kurang tepatnya perkiraan permintaan pelanggan, waktu pengiriman, efisiensi jumlah produksi (Economic Order Quantity), dan pelacakan inventaris.

Selain beberapa faktor penyebab tersebut, berikut ini kemungkinan penyebab lain Bullwhip Effect yang perlu Anda ketahui.

1. Masalah Pada Lead Time

Lead time adalah salah satu aspek terpenting dari manajemen inventaris, manajemen proyek bisnis (project management), atau industri manufaktur karena berdampak langsung pada kemampuan Anda untuk memenuhi permintaan pelanggan seefisien mungkin. Penghitungan lead time dan perencanaan penjualan yang sesuai memastikan Anda dapat membangun manajemen bisnis yang berkelanjutan (sustainability management) dan terhindar dari kerugian.

Namun, jika lead time tidak dikelola dengan baik sehingga berlangsung terlalu lama, maka akan menyulitkan seluruh rantai pasokan untuk memenuhi permintaan pelanggan dan menyebabkan peningkatan atau penumpukan jumlah persediaan yang tidak diimbangi dengan permintaan segmentasi pasar.

2. Demand Forecasting yang Salah

Demand forecast atau perkiraan permintaan merupakan konsep yang rumit karena memerlukan pengaturan dan analisis berbagai KPI inventaris dan KPI penjualan e-commerce. Setiap kesalahan di sepanjang proses dapat menyebabkan perkiraan yang tidak akurat. Hal ini pada gilirannya menyebabkan ketidakmampuan produsen untuk memenuhi permintaan atau terlalu banyak stok persediaan yang tertahan di dalam gudang produksi.

Baca Juga:

3. Terlalu Banyak Menawarkan Diskon dan Promosi

Masalah lain yang sering menyebabkan bullwhip effect adalah terlalu banyak menawarkan promosi atau pemberian diskon pada produk jual. Sebab, strategi penjualan ini dapat mengganggu tren permintaan yang lebih besar dan menyebabkan masalah pada perkiraan produksi.

Strategi promosi ini membuat supplier atau produsen menjadi terbiasa memenuhi pesanan dengan harga tinggi. Hal ini dapat dengan cepat menjadi masalah ketika penjualan berakhir dan tren produk musiman kembali.

Cara Efektif Mengurangi Bullwhip Effect

Jadi, apa yang bisa Anda lakukan jika bisnis Anda mengalami efek bullwhip ini?

Tenang, pertama-tama Anda harus paham bahwa fokus utama dari konsep penawaran dan permintaan (supply and demand) pelanggan adalah:

  1. Memberikan layanan pelanggan berkualitas kepada konsumen akhir bisnis (lead generation).
  2. Memperoleh informasi yang tepat tentang permintaan pelanggan terhadap suatu produk.
  3. Menyediakan produk yang diminta kepada pelanggan tepat waktu dan dalam jumlah yang cukup.

Setelah itu, Anda bisa ikuti beberapa tips berikut untuk mengurangi dampak dari bullwhip effect.

1. Batasi Promosi dan Penjualan Produk

Banyak di antara pelaku bisnis berpikir bahwa mereka harus sering melakukan promosi pemasaran untuk meningkatkan permintaan. Padahal, metode penjualan dapat membahayakan kesehatan dana bisnis.

Cobalah untuk memanfaatkan periode penjualan hanya seperlunya untuk memenuhi harapan pelanggan. Fokuslah pada upaya upselling dan cross selling untuk meningkatkan nilai pesanan rata-rata Anda dan menumbuhkan penjualan Anda secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan rata-rata pendapatan penjualan produk bisnis.

2. Sederhanakan Rantai Pasokan

Ketika rantai pasokan Anda menjadi padat dengan terlalu banyak stakeholder yang bergerak, maka semakin besar peluan terjadi bullwhip effect. Maka dari itu, cobalah untuk mengurangi rantai pasokan Anda dan menyederhanakan proses pesanan produk Anda. Cara ini juga membuat Anda lebih mudah untuk menjaga hubungan dan cepat membagikan informasi dengan para stakeholder rantai pasokan.

3. Optimalkan Minimum Order Quantity (MOQ)

Menetapkan jumlah pesanan minimum atau minimum order quantity adalah cara terbaik untuk menghindari kerugian selama pengiriman produk.

Namun, Anda perlu menghindari melengkapi MOQ dengan menerapkan diskon massal karena MOQ dapat menarik pelanggan yang memesan produk lebih dari yang dapat Anda tangani. Ini dapat menyebabkan banyak perselisihan bagi tim produksi pesanan Anda dan menyebabkan perubahan dramatis dalam tingkat inventaris Anda.

4. Gunakan Software Warehouse Management System

Manajemen persediaan dan pesanan yang tepat akan sangat membantu Anda untuk menghindari masalah dengan bullwhip effect. Oleh karena itu, cara terakhir mengurangi bullwhip effect adalah dengan menggunakan warehouse management system yang dapat melacak tingkat inventaris, aliran produk, dan pesanan secara real-time.

Sistem tersebut akan memberi tahu Anda data yang dapat ditindaklanjuti dan memberikan insight terperinci tentang kemampuan Anda untuk memenuhi permintaan. Lebih baik lagi, sistem itu dapat membantu Anda mengatur level par, menghitung poin pemesanan ulang (reorder point) yang optimal, dan menghindari pemborosan biaya tambahan (incremental cost) untuk menyimpan kelebihan persediaan.

Itulah beberapa informasi yang perlu Anda ketahui tentang bullwhip effect. Bila disimpulkan, bullwhip effect adalah fenomena yang tidak menguntungkan dari manajemen rantai pasokan dan perkiraan permintaan yang buruk. Dengan mengikuti tips kami di atas dan tetap mengikuti tren bisnis, Anda dapat menghindari berbagai masalah produksi hingga penjualan produk.

Untuk melengkapi strategi antisipasi bullwhip effect, Anda juga bisa menerapkan beberapa strategi marketing yang efektif diimplementasikan untuk pemasaran brand (branding). Mulai dari growth hack marketing, inbound marketing, 360 digital marketing, serta data driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat. Jika Anda belum familiar dengan penerapan terbaik strategi-strategi pemasaran tersebut, Anda bisa menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis Anda.

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.