Jenis, Kelebihan, dan Kekurangan Bundle Pricing Dalam Meningkatkan Penjualan Produk Bisnis

Ketika berbicara tentang penetapan harga atau pricing, tim penjualan (sales force) dari niche bisnis apapun sejatinya tak boleh menghiraukan atau melupakan bundle pricing sebagai salah satu jenis strategi pricing terbaik dalam meningkatkan penjualan atau angka konversi pelanggan bisnis (lead conversion).

Bagaimana tidak, di era digitalisasi bisnis dan perkembangan tren perilaku pembeli (consumer behavior) saat ini membuat pangsa pasar semakin kompetitif. Sehingga mendorong setiap perusahaan untuk harus menciptakan hal-hal yang menjadi keunggulan kompetitif bisnis di mana sejalan dengan Industry 4.0 menuju Industry 5.0. Baik pada perusahaan yang menargetkan segmen pasar konsumen di basis pelanggan terbesar (business-to-consumer atau direct-to-customer) ataupun perusahaan yang memproduksi barang untuk pasar bisnis (business-to-business).

Oleh sebab itu, dengan strategi bundle pricing, perusahaan dapat mempromosikan atau memasarkan produk (product marketing) atau layanannya (services marketing) yang mendukung customer experience dan dengan harga yang relatif lebih murah. Serta menjadi bukti seberapa baik kemampuan bisnis menutup penjualan (closing sales) dan mengubah calon pelanggan atau prospek menjadi pelanggan yang membeli (sales lead).

Lantas, apa itu bundle pricing? Seberapa penting peranannya bagi konsumen dalam mengambil keputusan dalam berbelanja (consumer decision)? Dan apa saja jenis strategi bundle pricing yang bisa Anda terapkan selama proses penjualan?

Pengertian Bundle Pricing

Apa Itu Bundle Pricing

Menyadur dari situs HubSpot, bundle pricing adalah strategi penetapan harga sekaligus strategi pemasaran di mana perusahaan menawarkan beberapa produk terpisah (misal, produk flagship dengan produk pelengkapnya) menjadi satu paket produk utama yang dibanderol dengan harga lebih murah daripada harga produk satuan.

Sama seperti jenis pricing lainnya, contohnya strategi penetration pricing dan psychological pricing, penerapan strategi ini didasarkan pada posisi brand di pasar (market positioning), daya tawar pembeli, product value dan kualitasnya (product-led), serta market orientation.

Baca Juga:

Oleh sebab itu, teknik ini relatif populer diterapkan oleh perusahaan ritel dan bisnis yang menggunakan platform e-commerce, karena strategi bundle pricing menawarkan nilai lebih dalam upaya menetapkan harga pasar produk. Terlebih pada perusahaan baru yang memiliki siklus pertumbuhan bisnis tertinggi (business growth).

digital marketing agency

Sebut saja perusahaan teknologi ternama Microsoft yang menawarkan harga khusus pada paket produk Microsoft Office 365 yang digabungkan dengan G Suite. Di samping itu, bundle pricing bermanfaat bagi bisnis dalam hal:

  • Memaksimalkan keuntungan (profit) dan angka retensi pelanggan (customer retention), di mana juga mempertimbangkan kebutuhan dan permintaan konsumen serta mitra bisnis.
  • Membangun loyalitas pelanggan (customer loyalty) dan meningkatkan penjualan produk.
  • Menyeimbangkan surplus pelanggan atau perbedaan antara harga yang sanggup pelanggan bayar dengan harga yang perusahaan tetapkan untuk sebuah produk.

Bundle Pricing vs Tied Selling

Strategi bundle pricing seringkali disamakan dengan praktik penjualan terikat atau tied selling. Padahal, kedua konsep ini berbeda dalam hal tujuan fungsional dan legalitas penerapannya.

Praktik strategi penetapan harga bundle ini diatur dengan peraturan yang cukup ketat, tetapi masih legal. Sedangkan penerapan tied selling bersifat ilegal. Di samping itu, perbedaan fungsional antara keduanya berkaitan dengan lingkungan bisnis yang mereka tinggalkan untuk pilihan konsumen.

Secara teori, strategi bundling di dasarkan pada pilihan panduan (guiding) melalui insentif. Maksudnya, konsumen tertentu akan di dorong untuk membeli produk paketan dengan harga yang lebih masuk akal jika di beli secara bersamaan. Namun, jika konsumen tidak tertarik untuk membeli produk paketan tersebut, mereka memiliki fleksibilitas untuk membeli produk lain yang dibundel secara individual.

Berbeda dengan tied selling yang mana strategi penjualannya di dasarkan pada pilihan yang meyakinkan (compelling) melalui kondisi. Dengan praktik ini, penjual hanya akan memberikan produk atau layanan yang konsumen inginkan dengan syarat konsumen tersebut juga membeli produk lain. Contohnya pada instansi bank yang hanya mengizinkan nasabahnya untuk mengajukan kartu kredit apabila nasabah tersebut terlebih dahulu membuka rekening tabungan di bank tersebut.

Dengan demikian, jika Anda tertarik untuk menggunakan strategi bundle pricing, penting sekali untuk bisa membedakan kedua praktik ini.

Baca Juga:

Kelebihan dan Kekurangan Bundle Pricing

Tentu saja strategi harga bundel ini juga memiliki beberapa kelebihan yang mendorong profitabilitas bisnis dan kekurangan yang dapat menyebabkan risiko kerugian bisnis. Pertimbangkan masing-masing kelebihan dan kekurangannya berdasarkan penjelasan berikut ini.

Kelebihan Bundle Pricing

  1. Perusahaan dapat menjual beberapa produk yang kurang populer dengan lebih efektif. Di mana strategi harga ini akan mendorong kesempatan pelanggan untuk mencoba salah satu produk yang tidak unggul bersamaan dengan produk yang pelanggan inginkan. Dengan begitu, perusahaan juga sekaligus dapat mengurangi stok produk yang berlebih di gudang atau warehouse.
  2. Meningkatkan rasa keinginan pelanggan untuk membeli lebih banyak produk. Dengan kata lain, pelanggan potensial (leads) mungkin akan membelanjakan lebih banyak uang dari jumlah anggaran yang mereka rencanakan. Strategi ini bisa menjadi bentuk upselling tersendiri apabila di lakukan dengan benar.
  3. Menarik pelanggan baru yang sebelumnya tidak pernah atau tidak tertarik untuk membeli produk bisnis tersebut (customer acquisition). Dan juga menarik pelanggan yang memiliki anggaran terbatas sehingga cenderung selektif dalam urusan membelanjakan uangnya.
  4. Meningkatkan pengalaman pelanggan dalam interaksinya dengan bisnis (brand experience) yang mana pembelian produk terkesan menjadi lebih sederhana dan efisien.
  5. Mengurangi biaya atau modal bisnis dalam penerapan pemasaran (marketing cost), karena marketer hanya perlu membayar kampanye iklan untuk satu kelompok produk.

Kekurangan Bundle Pricing

Kelebihan dan Kekurangan Bundle Pricing

  1. Jika tidak di rencanakan dan di lakukan dengan benar, strategi harga bundel dapat menghilangkan sebagian besar keuntungan yang signifikan dari penjualan produk. Sebab, dalam beberapa kasus, satu produk bisa memiliki margin keuntungan yang lebih besar ketika di jual eceran, ketimbang di jual dalam wujud paket bundel. Oleh sebab itu, pastikan untuk memilih produk yang tepat dan saling melengkapi produk lainnya untuk di jual dengan harga bundling.
  2. Jika tim sales menggabungkan produk yang tidak relevan, calon konsumen mungkin tidak tertarik untuk mengeluarkan uang untuk membeli paket produk tersebut. Atau bahkan membuat mereka membatalkan pembeliannya karena lebih memilih membeli produk satuan.
  3. Memicu ketidakpuasan pelanggan karena memiliki lebih banyak produk yang tidak terpakai, sehingga juga mendorong customer churn dan kerugian bisnis.

Jenis Strategi Bundle Pricing

Strategi harga bundel juga di bagi lagi menjadi beberapa cara penerapan, yaitu pure price bundling dan mixed price bundling.

Keduanya di bedakan berdasarkan manfaat dan fiturnya selama di aplikasikan ke dalam strategi bisnis. Walaupun sejatinya pure price bundling dan mixed price bundling sama-sama di maksudkan untuk meningkatkan penjualan sebagai tujuan objektif bisnis. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

1. Pure Price Bundling

Pure price bundling adalah strategi sales di mana bisnis hanya akan menawarkan dan menjual produk tertentu secara eksklusif yang di kemas dalam satu paket bundel. Jenis bundling harga ini termasuk ke dalam strategi pricing yang paling mudah untuk di terapkan, karena pembuatan paket bundel sepenuhnya di kendalikan oleh pemilik bisnis.

Strategi pure bundling memiliki dua jenis utama, yaitu:

  • Joint bundling adalah strategi menawarkan dua atau lebih produk menjadi satu bundle yang memiliki satu harga utama. Umumnya, produk yang menggunakan jenis strategi ini hanya dapat di peroleh melalui satu kali pembelian.
  • Leader bundling adalah strategi menawarkan dua atau lebih produk yang terdiri dari produk populer dan produk yang kurang populer untuk menjadi satu pake produk yang memiliki satu harga utama.

2. Mixed Price Bundling

Berbeda halnya dengan mixed price bundling yang mana bisnis dapat menawarkan pelanggan untuk memilih paket bundling atau membeli produk yang ada di dalam paket bundling secara ecer dengan harga yang lebih murah. Dengan kata lain, produk-produk yang membentuk mixed bundling sejatinya dapat berdiri sendiri tanpa dukungan dari produk lain. Serta melengkapi atau meningkatkan angka penjualan produk lain yang di paketkan bersama.

Namun, perlu Anda ingat bahwa mixed bundling tidak membawa banyak pemasukan untuk bisnis ketimbang upaya menjual produk eceran. Akan tetapi, cara ini dapat meningkatkan hasil penjualan dari masing-masing produk yang di paketkan.

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.