Cara Menghitung NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return) Serta Contohnya

cara menghitung NPV dan IRR

Ada berbagai macam metode penilaian investasi yang bisa perusahaan gunakan untuk menganalisis untung rugi. Namun, di antara berbagai macam metode tersebut, NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return) menjadi yang paling sering perusahaan terapkan. Lantas, bagaimana cara menghitung NPV dan IRR?

Seperti yang kita tahu, manajemen risiko menjadi hal yang wajib perusahaan lakukan untuk mencegah terjadinya kerugian. Metode untuk menganalisis risiko pun ada beberapa macam. Termasuk menganalisis untung rugi yang perusahaan dapatkan dari investasi. Dengan analisis ini, perusahaan dapat menyusun perencanaan keuangan dengan lebih baik guna mencegah terjadinya kerugian di masa depan.

Net Present Value dan Internal Rate of Return menjadi dua dari metode penilaian investasi yang sering perusahaan gunakan. Bukan tanpa alasan, pasalnya kedua metode ini memiliki karakteristik yang hampir sama, serta dapat menghasilkan nilai yang akurat untuk mengukur keberhasilan / kegagalan suatu investasi.

Melalui artikel inMarketing berikut ini, kami akan mengajak Anda untuk memahami lebih dalam tentang Net Present Value dan Internal Rate of Return, beserta manfaat dan cara menghitungnya!

Apa Itu NPV dan IRR?

Melansir dari Investopedia, Net Present Value atau NPV adalah selisih antara nilai arus kas masuk dengan nilai arus kas keluar dalam jangka waktu atau periode tertentu.

Biasanya, perusahaan menggunakan perhitungan Net Present Value untuk menganggarkan modal dan menganalisis rasio profitabilitas dari suatu business project. Sehingga secara sederhana, bisa kita artikan bahwa metode ini dapat membantu perusahaan untuk memprediksi keuntungan apabila menanamkan investasi pada sebuah proses bisnis tertentu.

Tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko bisnis yang mungkin bisa terjadi. Maka dari itu, Net Present Value sangat berguna untuk memprediksi nilai proyek saat ini, business assets, maupun investasi, yang berdasarkan pada arus kas masuk dan arus kas keluar.

Di sisi lain, laju pengembalian internal atau Internal Rate of Return adalah metrik yang bermanfaat dalam proses analisis keuangan untuk memperkirakan keuntungan (profit) dan efisiensi dari investasi yang potensial.

digital marketing agency

Internal Rate of Return juga menjadi salah satu teknik arus kas diskonto (discounting cash flow) yang bisnis memberikan laju pengembalian (rate of return) bisnis sebagai hasil dari suatu proyek.

Sehingga, semakin tinggi nilai Internal Rate of Return dibandingkan modal bisnis, maka artinya semakin baik untuk memulai proyek sebagai investasi. Begitu pula sebaliknya, apabila nilai IRR lebih rendah daripada modal, maka jangan memulai investasi pada proyek terkait.

Baca Juga :

Manfaat Menghitung NPV dan IRR

Sebagaimana penjelasan di atas, baik Net Present Value maupun Internal Rate of Return adalah metode penilaian untuk mengukur seberapa menguntungkannya sebuah investasi.

Dengan mengetahui cara menghitung NPV dan IRR, Anda bisa menilai kemampuan dan potensi perusahaan dalam mengelola investasinya sampai beberapa tahun ke depan. Bahkan saat nilai mata uang berubah yang akan berdampak langsung kepada arus kas perusahaan.

Selain itu, beberapa manfaat lain dari perhitungan Net Present Value dan Internal Rate of Return adalah :

  • Menentukan apakah sebuah investasi menguntungkan atau merugikan dengan menghitung besaran profit margin
  • Sebagai bahan dalam pengambilan keputusan bisnis (decision making) kedepannya
  • Menentukan manakah investasi yang menghasilkan keuntungan terbesar bagi perusahaan
  • Membantu proses analisis return on investment (ROI)
  • Berguna untuk membandingkan keuntungan dari mendirikan proyek baru atau memperluas proyek yang ada
  • Membantu mengevaluasi program pembelian ulang saham

Cara Menghitung NPV dan IRR dan Contohnya

rumus NPV dan IRR

Pada dasarnya, terdapat beberapa cara untuk menghitung Net Present Value dan Internal Rate of Return. Berikut adalah masing-masing rumus NPV dan IRR beserta contohnya:

Rumus NPV

Ada dua cara menghitung Net Present Value. Yaitu dengan tabel PVIFA (Present Value Interest Factor for an Annuity) dan rumus biasa. Perhitungan ini berguna untuk menentukan profitabilitas suatu investasi dengan mendiskontokan arus kas periode yang akan datang dari sebuah investasi kepada nilai saat ini (present value).

Perlu Anda ketahui bahwa rumus Net Present Value tergantung pada interval serta jumlah arus kas di masa depan. Ini berarti, rumus NPV untuk investasi jangka panjang akan berbeda untuk investasi jangka pendek.

1. Rumus NPV untuk jangka pendek dengan arus kas tunggal

Variabel untuk mendapatkan nilai ini adalah arus kas, masa waktu arus kas, dan tingkat diskonto. Berikut adalah rumus Net Present Value untuk investasi jangka pendek dengan arus kas tunggal:

NPV = (Arus kas/ (1+i)^t) – Investasi awal

Di mana:

i = tingkat diskonto

t = periode jangka waktu

2. Rumus NPV untuk jangka panjang dan banyak arus kas

Sedangkan untuk jangka panjang dengan banyak arus kas, Anda perlu mendiskontokan masing-masing arus kas satu per satu. Kemudian baru menambahkannya bersamaan. Berikut ini adalah rumus Net Present Value untuk investasi jangka panjang :

NPV = Jumlah nilai saat ini dari arus kas yang diharapkan – Investasi awal

Contoh Perhitungan NPV

Anda bisa menerima proyek investasi apabila hasil perhitungan NPV bernilai nol atau positif. Namun jika hasilnya negatif, berarti proyek tidak akan menghasilkan keuntungan. Sehingga Anda harus menghindarinya.

Contoh:

Perusahaan A merencanakan proyek bisnis dengan investasi awal senilai Rp100.000.000. Investasi tersebut diprediksi menghasilkan cashflow sebesar Rp150.000.000 pada tahun depan. Maka hitungan Net Present Value dengan asumsi pengembalian 10% adalah sebagai berikut.

NPV = [150.000.000/ (1+0.1) ^1] – 100.000.000 = Rp36.363.636

Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa proyek investasi ini akan menguntungkan, sehingga perusahaan bisa menerimanya.

Baca Juga :

Rumus IRR

Perusahaan bisa menghitung Internal Rate of Return dengan beberapa cara. Namun, Anda bisa menggunakan rumus IRR sebagai berikut:

IRR = ra + (NPVa / (NPVa  – NPVb)) x  (ra – rb)

 

Di mana :

ra = diskonto terendah

rb = diskonto tertinggi

NPVa = NPV pada ra

NPVb = NPV pada rb

Contoh Perhitungan IRR

Perusahaan A memutuskan untuk membeli peralatan operasional yang baru dengan modal investasi awal sebesar Rp7.000.000. Kemudian umur peralatan tersebut diprediksi dapat bertahan selama 2 tahun dengan harapan dapat menghasilkan tambahan profit tahunan senilai Rp4.000.000. Perusahaan A menerapkan discount rate sebesar 5% dan 20%.

Maka perhitungan IRR adalah:

IRR = 0,05 + (436 : (436 – (-892)) x (0,2 – 0,05) = 0,099 atau 9,9%

Kesimpulan

Demikian adalah ulasan mengenai NPV dan IRR beserta manfaat dan cara menghitungnya. Pada dasarnya, NPV dan IRR sama-sama menggunakan faktor diskonto untuk menghitung nilai dari suatu investasi.

Internal Rate of Return merupakan tingkat pengembalian (rate of return)yang disyaratkan oleh investor ketika melakukan investasi. IRR merupakan “discount rate” yang menjadikan NPV sama dengan nol. Artinya pada saat NPV sama dengan nol, maka besarnya tingkat pengembalian investasi tercapai yakni sebesar IRR.

Apabila tingkat pengembalian yang perusahaan inginkan dari suatu investasi lebih rendah daripada IRR, maka investasi tersebut layak atau diterima. Namun sebaliknya, apabila tingkat pengembalian yang perusahaan inginkan lebih tinggi dari IRR, maka investasi tersebut tidak layak, baik menurut metode NPV maupun IRR.

Baca Juga :

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.