Pentingnya Demand Planning Dalam Meningkatkan Supply Chain Bisnis

Pentingnya Demand Planning Dalam Meningkatkan Supply Chain Bisnis

Pada dasarnya, perusahaan yang aktif mengembangkan bisnisnya akan membuat segala macam sales plan atau perencanaan penjualan dan operasi berdasarkan permintaan pelanggan (demand) pada produknya untuk mendapatkan profit. Nah, untuk memaksimalkan profitabilitas bisnis, perusahaan haruslah memiliki manajemen rantai pasokan yang seefisien mungkin. Oleh karena itulah perencanaan permintaan atau demand planning yang akurat sangat penting dalam memastikan efisiensi rantai pasokan untuk inventaris perusahaan dan peningkatan pendapatan bisnis (revenue).

Hal ini mengacu pada banyaknya perusahaan yang berisiko atau harus kehilangan segmen pasar potensialnya (leads) di tengah proses bisnisnya akibat dari tidak mengoptimalkan pengembangan produknya dari sisi kualitas hingga manfaat produk (product value) untuk pelanggan. Hal ini tentunya bisa menghambat pertumbuhan bisnis, baik itu dalam segi pemasaran (growth marketing), penjualan (sales growth), atau posisi kompetitif di pasar (brand position).

Lantas, bagaimana langkah terbaik dalam perencanaan permintaan pelanggan agar perusahaan memiliki kinerja dan kualitas bisnis yang sukses?

Apa Itu Demand Planning?

pengertian perencanaan demand

Sebelum membahas langkah-langkah penerapan demand planning, Anda perlu memahami dasar teorinya terlebih dahulu. Menurut situs resmi Universitas Michigan State, perencanaan permintaan atau demand planning adalah bagian dari proses manajemen rantai pasokan dalam perencanaan bisnis yang mana memperkirakan (forecasting) atau memprediksi permintaan produk atau layanan di pasar sehingga perusahaan dapat memastikan ketersediaan produk hingga pendistribusiannya.

Perencanaan permintaan memerlukan analisis penjualan serta tren konsumen, penjualan historis, dan data musiman untuk mengoptimalkan kemampuan bisnis Anda dalam memenuhi permintaan pelanggan dengan cara yang seefisien mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut, demand planning menggabungkan strategi sales forecasting, manajemen rantai pasokan, dan manajemen persediaan.

Baca Juga:

Dengan perencanaan permintaan, bisnis Anda berpotensi memiliki tingkat kepuasan pelanggan dan brand awareness yang positif (bagian dari brand experience) sehingga menciptakan banyak loyalitas pelanggan. Lalu, juga membantu layanan bisnis Anda lebih proaktif (proactive customer service).  Di sisi lain, proses ini dapat membantu mengurangi dampak dari bullwhip effect dan biaya operasional bisnis yang akan merugikan (pure risk) dan menghambat ROI perusahaan.

Namun, Anda perlu bedakan konsep demand planning dengan demand forecasting, walaupun sejatinya kedua istilah tersebut sama-sama merupakan manajemen permintaan (demand management). Demand forecasting adalah bagian dari proses demand planning yang lebih besar dengan menganalisis data internal dan eksternal untuk memprediksi penjualan. Maksudnya, demand forecast menjadi dasar dari keseluruhan proses perencanaan permintaan agar bisnis dapat mengetahui bagaimana prediksi tersebut dapat memenuhi penjualan yang perusahaan harapkan.

Elemen atau Aspek Dalam Demand Planning

Secara umum, demand planning mencakup beberapa aspek dengan empat bidang utama berikut ini.

1. Product Portfolio Management

Manajemen portofolio produk mengacu pada pengawasan keseluruhan siklus hidup produk, mulai dari pengenalan produk baru (strategi product knowledge) hingga perencanaan akhir masa pakainya (product strategy). Dalam banyak kasus, pemahaman bagaimana produk baru dapat memengaruhi permintaan untuk produk lain sangatlah penting. Sebab, dengan begitu Anda dapat memahami keseluruhan product mix yang diperlukan untuk memaksimalkan pangsa pasar.

2. Statistical Forecasting

Statistical forecasting atau peramalan statistik merupakan pembuatan supply chain forecast dengan algoritme statistik tingkat lanjut yang mana menggunakan data historis. Dalam lingkup ini, Anda perlu menentukan keakuratan setiap model, mengidentifikasi outlier dan exclusion, serta memahami asumsi bisnis. Pergeseran tren musiman (seasonal marketing) juga dapat diukur dengan statistical forecasting ini.

Baca Juga:

3. Demand Sensing

Aspek demand sensing biasanya menggunakan kombinasi sumber data baru. Seperti cuaca, tren penyakit menular, data pemerintah, dan data lainnya dengan data tren historis. Proses tersebut nantinya dibantu oleh sistem AI (artificial intelligence) untuk mendeteksi gangguan dan pengaruh permintaan secara real-time.

4. Trade Promotion Management

Promosi perdagangan atau event marketing dapat mempengaruhi permintaan, terutama di industri ritel. Tujuan dari promosi perdagangan adalah untuk membantu brand terhubung dengan pelanggan (brand engagement) sebagai bentuk manajemen brand yang baik. Seringkali perusahaan-perusahaan berprofit melakukan strategi komunikasi bisnis, seperti pemberian diskon atau promosi di dalam toko, dan peristiwa yang dapat memengaruhi permintaan pelanggan akan suatu produk (customer experience).

Langkah Sukses Penerapan Demand Planning

Langkah Sukses Penerapan Demand Planning 

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa demand planning adalah proses yang membutuhkan banyak tahapan di mana bergantung pada alat, informasi, dan proses yang tepat. Seringkali, mungkin ada fenomena unik dalam prosesnya berdasarkan pemosisian produk (product positioning), kebutuhan inventaris, serta tujuan dan target organisasi. Maka dari itu, Anda perlu terapkan beberapa praktik terbaik dalam demand planning yang kami jabarkan di bawah ini.

1. Susun Tim Perencanaan Profesional

Pertama-tama, rekrut beberapa anggota tim perencanaan dari pihak karyawan atau stakeholder untuk merencanakan demand bisnis. Pastikan bahwa anggota tim perencanaan tersebut memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas (social responsibility).

Misalnya, perwakilan dari kelompok pembelian dan supply chain bertanggung jawab dalam memastikan bisnis memperoleh persediaan yang cukup di waktu yang tepat untuk memenuhi perkiraan permintaan. Atau tim keuangan bertanggung jawab untuk membangun perkiraan biaya perusahaan.

2. Gunakan Software Planning yang Tepat

Setelah itu, gunakan satu sistem perencanaan sumber daya perusahaan (Enterprise Resource Planning) yang paling sesuai dengan niche bisnis. Saat mempertimbangkan perangkat lunak ERP, penting untuk memeriksa kemampuan alat untuk menangani forecasting serta reputasi provider, kemampuan pelaporan keuangan, dan transparansi atau keandalan perkiraan yang dihasilkannya.

3. Kumpulkan dan Siapkan Data

Di era yang serba digital ini, sekumpulan data dapat mendorong perencanaan permintaan yang lebih aktual jika manajemen datanya juga tepat. Visibilitas waktu nyata ke dalam pergerakan inventaris yang digabungkan dengan laporan metrik memberikan gambaran yang jelas tentang data mining serta agregasi yang dapat mengidentifikasi area untuk peningkatan atau reaksi dapat membantu menciptakan pemodelan proses yang lebih gesit (konsep agile marketing).

Data yang relevan akan bervariasi tergantung industri bisnis yang perusahaan geluti. Meskipun begitu, data tersebut harus mencakup data penjualan berdasarkan saluran pemasaran, jumlah stok habis, inventory turnover, lead time, waktu produksi, dan metrik inventaris utama lainnya.

Tanyakan kepada sales force dan pemasaran Anda tentang rincian waktu perubahan harga, kampanye pemasaran, dan promosi yang dapat memengaruhi permintaan. Setelah itu, kumpulkan informasi dari tim produk tentang peluncuran produk baru, penghentian, dan penawaran kompetitif. Sebab, semua aspek tersebut dapat memengaruhi keakuratan demand planning.

4. Jelaskan Model Proses

Kurangnya penentuan proses untuk siklus perencanaan permintaan bisa menyebabkan kekacauan. Proses yang membingungkan dengan informasi yang hanya merupakan sekumpulan fakta umum dapat merusak kinerja perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, bagi sebagian besar perusahaan, langkah-langkah dalam proses perencanaan permintaan adalah:

  • Persiapan data
  • Pembuatan forecasting awal
  • Penggunaan market intelligence
  • Mempertimbangkan tujuan penjualan dan laporan keuangan (financial statement) untuk merekonsiliasi prakiraan bottom-up dengan prakiraan keuangan (financial forecast)
  • Menyempurnakan perkiraan akhir
  • Pemantauan kinerja berdasarkan analitik real-time

5. Implementasikan dan Monitoring

Demand planning yang berhasil biasanya merancang versi percobaan dari rencana tersebut menggunakan data historis atau analitik deskriptif. Mereka juga membuat penyesuaian secara teratur dan memiliki tim yang terdiri dari orang-orang yang berdedikasi semata-mata untuk merancang rencana, mengimplementasikannya, mengurangi kesalahan dan bias, dan merancang proses untuk eksekusi.

Baca Juga: