Definisi Diversifikasi (Diversification) Beserta Jenis dan Manfaatnya Dalam Pertumbuhan Bisnis

Definisi Diversifikasi (Diversification) Beserta Jenis dan Manfaatnya Dalam Pertumbuhan Bisnis

Tak bisa di pungkiri lagi bila salah satu tujuan dan target setiap perusahaan adalah memiliki bisnis yang terus tumbuh stabil, produktif, dan bertahan di pangsa pasar dalam waktu yang lama (sustainable growth). Sebuah teori pertumbuhan bisnis yang di kemukakan oleh Igor Ansoff menyebutkan bahwa perusahaan dapat menerapkan empat strategi pertumbuhan. Keempat strategi tersebut meliputi pengembangan pasar (market development), penetrasi pasar (market penetration), pengembangan produk (product development), dan diversifikasi (diversification).

Nah, sesuai judul artikel ini, inMarketing akan menjelaskan teori-teori penting dalam strategi diversifikasi. Sebab, sama pentingnya dengan ketiga strategi pertumbuhan sebelumnya, pendiversifikasian membuat perusahaan mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan (sustainable development) dan mengakuisisi banyak pelanggan potensial baru (leads). Sehingga dapat mempengaruhi pasar (brand authority) dan memberikan keunggulan kompetitif di antara para kompetitor bisnis.

Kendati demikian, strategi ini cukup berisiko untuk perusahaan jalankan,  baik itu bagi perusahaan B2C sukses atau bisnis UKM/UMKM. Untuk itu, pemilik bisnis beserta stakeholder yang terlibat perlu menyimak rangkuman penjelasan strategi diversification di bawah ini!

Apa Itu Diversifikasi (Diversification)?

Apa Itu Diversifikasi (Diversification)?

Seperti yang sudah sempat kami singgung di awal artikel, diversifikasi adalah strategi menumbuhkan bisnis dalam jangka panjang (business continuity) dan memperluas jangkauan bisnisnya (brand extension). Melalui upaya memperkenalkan produk baru (product knowledge) di segmen pasar yang baru atau di pasar yang lebih tua dan lebih matang (strategi upselling dengan cross-selling).

Igor Ansoff, pencetus metrik strategi pertumbuhan bisnis, mengatakan bahwa strategi pendiversifikasian berbeda dengan metrik lainnya. Hal ini karena strategi pengembangan pasar, pengembangan produk, dan penetrasi pasar melibatkan pemanfaatan sumber daya dari produk asli. Sedangkan strategi mendiversifikasi mengacu pada proses mengembangkan fitur, teknik, dan keterampilan produk baru (product strategy).

Dan menurutnya pula, strategi ini akan membantu perusahaan dalam:

Baca Juga:

Jenis Strategi Diversifikasi

Jenis Strategi Diversifikasi

Melansir dari situs Marketing Tutor, strategi mendiversifikasi memiliki sejumlah jenis utama yang akan kami jelaskan berikut ini.

1. Vertikal

Integrasi vertikal atau diversifikasi vertikal mengacu pada bisnis yang mengintegrasikan dua atau lebih proses produksi dengan bergerak naik atau turun rantai pasokan (supply chain management).

Perusahaan mengambil kendali atas beberapa proses produksi inti, pendistribusian, bahan baku, dan jalur perakitan.

Contohnya, Anda adalah pemilik toko ritel yang memperluas atau mendiversifikasi bisnis dengan membeli alat dan fasilitas produksi barang yang Anda jual.

2. Horizontal

Maksud dari mendiversifikasi secara horizontal adalah ketika sebuah bisnis memperkenalkan produk atau layanan yang berbeda dan tidak berhubungan. Tujuan peluncuran produk terkait adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (demand management). Strategi ini melibatkan sejumlah kecil pure risk karena Anda berurusan dengan pasar pelanggan yang sama.

Misalnya, Anda menjalankan perusahaan penjualan kertas, dan Anda meluncurkan produk baru dan berbeda, yaitu printer. Nah, langkah tersebut akan menarik perhatian prospek potensial sehingga meningkatkan pengalaman pelanggan terhadap brand perusahaan (brand experience).

3. Konsentris (Concentric)

Sejalan dengan konsep dasarnya, jenis pendiversifikasian konsentris merujuk pada bisnis yang memperkenalkan produk baru dan sesuai dengan penawarannya ke pasar baru.

Dengan demikian, perusahaan berkesempatan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan menggunakan proses manufaktur, keunggulan teknologi, dan pengalaman industri.

Namun, strategi mendiversifikasi secara konsentris akan bermanfaat jika proses penjualan bisnis (corporate sales) menurun sehingga Anda dapat menutupi kerugian dengan meningkatkan penjualan produk lain.

Baca Juga:

4. Konglomerat (Conglomerate)

Dan terakhir, diversifikasi konglomerat adalah ketika sebuah perusahaan memperkenalkan produk yang sama sekali baru dan memasuki pasar baru dengan menargetkan pasar pelanggan baru. Istilah konglomerat di sini berarti bahwa kelompok perusahaan mengelola berbagai niche bisnis yang berbeda.

Sebagai contoh, Tata Group memulai bisnisnya sebagai industri perhotelan. Namun, berkat strategi konglomerasi, saat ini Tata Group memiliki lebih dari 100 perusahaan dalam berbagai kategori. Mulai dari perusahaan produk konsumen, sistem informasi, telekomunikasi, teknik, mobil, baja, dan bahan kimia.

Cara Menguji Kesuksesan Strategi Diversifikasi

Berdasarkan jenis-jenis pendiversifikasian di atas, kini Anda bisa bebas memilih mana teknik terbaik yang cocok dengan nilai (brand value), identitas (brand identity), maupun manajemen brand bisnis secara keseluruhan.

Di samping itu, terdapat teori lain dari Michael Porter bahwa terdapat tiga tes yang harus perusahaan lakukan untuk memeriksa apakah strategi mendiversifikasinya akan berhasil atau tidak. Tiga jenis tes yang Michael Porters maksud adalah sebagai berikut.

1. Uji Atraktifitas (Attractive)

Sesuai namanya, uji atraktifitas dalam pendiversifikasian bisnis bertujuan untuk memeriksa daya tarik pasar terbaru sebelum perusahaan memasukinya. Adapun beberapa poin yang harus Anda perhatikan dari pengujian ini adalah:

  • Tidak harus memeriksa atraktifitas selama musim puncak pertumbuhan.
  • Menjabarkan manfaat yang akan Anda dapatkan sebelumnya dengan memasuki pasar dalam siklus hidup produk.
  • Perusahaan harus memiliki potensi pertumbuhan bisnis yang berjangka panjang.

2. Uji Pemasukan Biaya (Cost Entry)

Jenis tes pemasukan biaya mengacu pada proses analisis biaya dan profitabilitas perusahaan dalam memasuki pasar baru (cost benefit analysis). Anda harus melakukan penelitian menyeluruh tentang pasar terbaru (market research) dan mengumpulkan semua biaya dan data yang relevan. Jika tidak menguntungkan dan harganya lebih tinggi, maka sebaiknya hindari memasuki pasar.

Anda juga perlu menganalisis kompetitor yang telah melakukan peningkatan dan memeriksa berapa banyak sumber daya yang harus Anda konsumsi untuk menyelesaikannya. Berikut ini adalah beberapa poin yang harus Anda ingat saat melakukan uji pemasukan biaya:

  • Pertimbangkan untuk membeli bisnis yang sudah mapan.
  • Gunakan alat bantu analisis seperti Five Forces untuk memahami perkembangan pasar (market analysis).

3. Uji Perbaikan (Better-Off)

Cara pengujian better-off membantu Anda memeriksa apakah perusahaan baru akan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan proses pendiversifikasian. Jika perusahaan Anda ingin lulus dalam tes ini, maka perusahaan harus memiliki manfaat yang nyata (enterprise value). Manfaatnya bisa berupa kesuksesan bisnis dalam jangka panjang (sustainability management), akses ke saluran pemasaran atau pendistribusian secara optimal, dan lain-lain.

Itulah penjelasan singkat mengenai strategi diversifikasi versi inMarketing yang perlu Anda ketahui. Dalam merencanakan strategi tersebut untuk pengembangan bisnis, Anda bisa menggunakan layanan digital marketing agency untuk memudahkan manajemen proses bisnis dalam perencanaan pemasaran. Beberapa strategi pemasaran yang bisa Anda implementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 digital marketing, serta data driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga: