Ketahui 10 Growth Metrics yang Harus Anda Lacak di Tahun 2023

Ketahui 10 Growth Metrics yang Harus Anda Lacak di Tahun 2023

Apakah Anda seorang pemilik perusahaan startup atau bisnis SaaS yang akan atau sedang menerapkan strategi growth hacking atau growth marketing? Jika iya, maka Anda perlu memperhatikan sejumlah growth metrics yang mana merupakan KPI atau metrik bisnis utama untuk kebutuhan evaluasi performa bisnis suatu perusahaan.

Metrik tersebut sangatlah penting lantaran pertumbuhan bisnis cenderung bersifat tidak stabil. Karena perusahaan akan menjalankan operasional bisnis di berbagai bidang secara bersamaan dalam lingkungan bisnis yang sama. Baik itu pada operasional produksi atau manajemen produk, customer service, keuangan perusahaan (financial management), dan lain sebagainya.

Lantas, sebenarnya apa saja growth metrics yang harus di lacak? Mengapa metrik-metrik tersebut begitu penting? Ketahui jawaban selengkapnya dengan membaca artikel inMarketing di bawah ini.

Mengapa Harus Melacak Growth Metrics?

Secara luas, growth metrics yang mana juga di sebut sebagai growth analytics adalah satuan pengukuran yang membantu tim manajemen dan stakeholder perusahaan memahami data historis manajemen proses bisnis (data management). Serta mempelajari strategi proses bisnis mana yang bekerja secara efektif atau mana yang mungkin perlu ditingkatkan selama periode tertentu.

Selain itu, metrik ini juga membantu perusahaan dalam pembuatan data dan informasi prediksi perkembangan bisnis di masa mendatang (business forecasting). Dengan begitu, perusahaan dapat memahami cara mengelola operasional bisnis (operations management). Serta mengelola alur kerja bisnis (workflow management) untuk kebutuhan melacak pertumbuhan bisnis secara akurat dan efisien.

10 Growth Metrics yang Harus Anda Lacak di 2023

Pada dasarnya, jenis growth metric yang mungkin bisnis gunakan untuk melacak pertumbuhannya akan bervariasi tergantung pada niche industri dan jenis produk atau layanan yang ditawarkan. Oleh sebab itu, simak penjelasan selengkapnya tentang macam-macam growth metric yang perlu Anda ketahui di bawah ini.

1. Conversion Rate

10 Growth Metrics yang Harus Anda Lacak di 2023 Conversion Rate

Growth metrics pertama yang penting untuk dilacak adalah conversion rate. Menurut situs Segment, conversion rate atau tingkat konversi adalah persentase jumlah audiens atau prospek yang melakukan suatu perilaku (consumer behavior) dalam rangka menyelesaikan suatu tindakan yang website harapkan.

Tergantung tujuan dan target bisnis, konversi yang dimaksud dapat berupa hasil dari upaya pelanggan dalam mencoba produk free trial (konsep freemium), menyelesaikan proses pembelian produk atau layanan, mengakses call-to-action (CTA) di landing page website, dan lain-lain.

digital marketing agency

Baca Juga:

2. Customer Acquisition Cost (CAC)

Customer acquisition cost atau CAC adalah perkiraan total biaya yang bisnis perlukan (business cost) untuk akuisisi pelanggan atau mendapatkan pelanggan baru (prospecting).

Jenis biaya ini akan mempertimbangkan gaji marketer atau sales force, jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kampanye pemasaran (marketing budget) dan strategi media sosial, serta biaya iklan. Sehingga, CAC akan berguna selama menghitung biaya berdasarkan operasional pemasaran atau periode waktu tertentu (operating expense).

Selain itu, CAC juga penting dalam upaya pemberian nilai nyata pada setiap strategi pemasaran yang bisnis jalankan (value proposition) dan memungkinkan perusahaan dapat mengukur return on investment (ROI) bisnis dengan tepat. Dengan bereksperimen dengan saluran pemasaran yang digunakan untuk membangun engagement pelanggan atau persona pelanggan, marketer dapat mengurangi biaya akuisisi untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan atau revenue.

3. Customer Retention Rate

Customer retention rate adalah metrik yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan pelanggan lama. Growth metrics ini cukup penting untuk dilacak lantaran pada dasarnya mempertahankan pelanggan adalah hal yang jauh lebih menguntungkan ketimbang harus mencari calon pelanggan baru atau sales lead. Dengan mengoptimalkan retensi pelanggan lama, marketer tidak perlu membuang banyak waktu maupun biaya untuk melakukan segala strategi mempertahankan pelanggan.

Selain itu, ketika pelanggan sudah mengetahui product value dan mendapatkan customer value dari produk yang Anda tawarkan, maka mereka akan membangun kepercayaan (brand authority) dan loyalitas terhadap brand (brand loyalty). Hasilnya, pelanggan tersebut tak akan segan untuk terus menggunakan produk Anda dan melakukan pembelian berulang (repeat purchase) dalam customer lifecycle.

Baca Juga:

4. Customer Churn Rate

Customer churn rate adalah tingkat persentase pelanggan yang memutuskan hubungan dengan suatu bisnis atau perusahaan pada periode tertentu. Hal ini bisa terlihat pada jumlah pelanggan yang berhenti menggunakan dan berlangganan layanan atau tidak lagi membeli produk tertentu.

Tingkat churn pelanggan menjadi growth metrics yang juga bermanfaat dalam membantu perusahaan. Dalam memprediksi penurunan jumlah pendapatan yang mungkin diterima apabila terus kehilangan pelanggan.

Ketika perusahaan memiliki tingkat churn yang rendah, ini biasanya berarti perusahaan tersebut terus memperoleh pendapatan yang tinggi secara konsisten. Namun, jika perusahaan menyadari tingkat churn-nya meningkat, maka perusahaan dapat meneliti penyebab potensialnya. Atau mencoba meningkatkan retensi pelanggan dengan cara meningkatkan proses penjualan dan meningkatkan pendapatannya.

5. Net Promoter Score (NPS)

Net promoter score atau NPS adalah perhitungan yang hasil skornya merepresentasikan feedback dan loyalitas pelanggan terhadap brand tertentu.

Metrik yang juga berperan penting dalam survei kepuasan pelanggan ini akan mengukur seberapa baik produk atau layanan bisnis dan ekspektasi pelanggan (customer delight) dalam pengalaman digital (digital experience). Sehingga, pelanggan bersedia merekomendasikan produk atau layanan tersebut ke orang lain melalui strategi word of mouth atau strategi promosi sejenisnya.

Umumnya, NPS akan membahas pertanyaan seputar “Seberapa besar kemungkinan pelanggan akan merekomendasikan produk atau layanan?”. Dengan skala pengukuran 0 sampai 10 yang mengindikasikan “sangat tidak baik” hingga “sangat baik”.

6. Customer Lifetime Value (CLV)

Customer Lifetime Value (CLV)

Growth metrics selanjutnya adalah customer lifetime value atau biasa disingkat CLV. Secara teori, CLV adalah nilai konsumen yang berkontribusi pada profit bisnis selama menjadi pelanggan di seluruh upaya customer relations. Pelanggan dengan lifetime value yang tinggi merupakan basis pelanggan yang tercipta dari customer loyalty yang mana membawa pertumbuhan jangka panjang dan berkelanjutan bagi bisnis (sustainable growth).

Berkat upaya mengukur CLV yang berkaitan dengan customer acquisition cost (CAC), perusahaan dapat mengukur rentang waktu konsumen (lead time) dalam berlangganan produk yang mana dihitung dari perjalanan pembelian pertama. Dengan kata lain, CLV menjadi wujud nilai yang harus pelanggan bayar selama masih berlangganan produk atau layanan suatu perusahaan.

7. Annual Recurring Revenue (ARR)

Annual recurring revenue (ARR) adalah metrik yang seringkali perusahaan SaaS atau perusahaan dari model bisnis subscription-based gunakan untuk menghitung aliran pendapatan berdasarkan jumlah kontrak atau langganan yang mana akan perusahaan terima dalam satu tahun.

Saat mengukur ARR, komponen pendapatan yang tidak berulang seperti cash flow akan selalu dikecualikan. Dengan demikian, marketer dapat melacak prediksi pertumbuhan pendapatan mereka dari tahun ke tahun. Harapannya, perusahaan tidak hanya memahami performa bisnisnya, tetapi juga untuk menginformasikan strategi bisnis mana yang berjalan dengan baik.

8. Monthly Recurring Revenue (MRR)

Hampir sama dengan annual recurring revenue, monthly recurring revenue (MRR) adalah total pendapatan yang diharapkan untuk bisnis terima dalam kurun waktu sebulan berdasarkan pendapatan yang berulang, misalnya dari biaya langganan atau membership.

Namun, khusus untuk perusahaan dengan model bisnis subscription-based, MRR dapat menjaga kesehatan bisnis dalam memprediksi (sales forecasting), mempertahankan (sales management), atau meningkatkan volume penjualan (sales growth) di setiap bulannya.

9. Average Revenue Per User (ARPU)

Singkatnya, average revenue per user (ARPU) adalah metrik atau indikator yang menyatakan profitabilitas suatu produk berdasarkan metode penjualan seperti upselling atau cross selling dari setiap pengguna atau pelanggannya dalam periode tertentu. Jadi, jika perusahaan ingin menghitung ARPU pada kuartal terakhir. Maka manajemen perusahaan akan membagi total pendapatan yang diperoleh dalam jangka waktu tersebut dengan jumlah pelanggan yang perusahaan miliki.

10. Revenue Churn

Sama pentingnya dengan ketiga jenis growth metric terkait pendapatan di atas, perusahaan juga perlu menyadari berapa banyak revenue churn. Di mana mengacu pada pengukuran pendapatan berulang yang hilang dalam periode tertentu karena perusahaan mengalami customer churn.

Meskipun revenue churn adalah bagian normal dalam setiap jenis operasional bisnis, perusahaan tidak akan mendapatkan rasio pertumbuhan bisnis yang optimal apabila mereka kehilangan lebih banyak uang daripada yang bisa dihasilkan. Untuk mencegah hal tersebut, manajemen perusahaan perlu mengembangkan pemahaman yang kuat tentang siapa target pasar mereka. Lalu, mengevaluasi jenis strategi penetapan harga (pricing) dengan lebih baik dan memaksimalkan pengalaman pelanggan yang dapat mencegah customer churn.

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.