Mengenal Lean Canvas dan Bedanya Dengan Business Model Canvas

Mengenal Lean Canvas dan Bedanya Dengan Business Model Canvas

Hakikatnya, salah satu tugas terpenting dari seorang pemilik bisnis adalah mengeluarkan segala ide-ide bisnis di kepala untuk di ubah menjadi rencana bisnis yang dapat di terapkan. Sehingga mereka dapat mengomunikasikannya dengan orang lain yang terlibat dalam bisnis (corporate communication) sebagai upaya mengembangkan bisnis. Nah, bagi Anda pemilik bisnis startup, mereka dapat memanfaatkan lean canvas sebagai alat bantu visualisasi proses bisnis yang komprehensif dan efektif.

Yap, dengan lean canvas, Anda dapat merepresentasikan inti langkah manajemen proses bisnis, peluncuran produk, dan strategi pemasaran beserta kampanyenya dengan lebih mudah dan cepat. Tanpanya, Anda akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga hanya untuk menemukan poin inti dari perencanaan bisnis startup yang berkelanjutan (business continuity). Dan bahkan bisa saja siklus bisnis Anda (business life cycle) tidak berjalan dengan semestinya.

Apabila Anda familiar atau pernah mendengar konsep business model canvas (BMC), maka mungkin Anda dapat dengan mudah mengimplementasikan lean canvas ke dalam proses visualisasi perencanaan bisnis terpadu. Supaya semakin paham, simak ulasan singkat dari inMarketing seputar apa itu lean canvas dan apa saja yang perlu Anda perhatikan dalam penerapannya.

Apa Itu Lean Canvas?

Lean canvas adalah sebuah tools pemodelan bisnis yang berguna dalam membantu pemilik atau manajer bisnis mengubah ide-ide menjadi poin-poin perencanaan bisnis. Hal ini memungkinkan setiap stakeholder dan karyawan perusahaan menyadari tujuan dan target sekaligus risiko dan ancaman dari setiap rencana.

Metodologi ini merupakan hasil pengembangan Ash Maurya sebagai bentuk alternatif dan adaptasi dari Business Model Canvas yang merupakan kerangka pemodelan bisnis yang paling banyak digunakan di dunia. Beda dengan BMC, metode ini sangat di pengaruhi oleh metodologi lean startup, sehingga lean canvas sangat cocok sebagai kerangka perencanaan praktis dalam menumbuhkan bisnis startup yang sukses.

Baca Juga:

Lean canvas menempatkan semua informasi yang Anda dan tim Anda butuhkan untuk divisualisasikan dan dianalisis bersama dalam satu tampilan. Sehingga, tujuan sekaligus manfaat penyusunan lean canvas adalah untuk “menerjemahkan” pemikiran ide bisnis ke dalam bentuk kata-kata sederhana dan mudah di mengerti. Serta mengefisiensikan waktu, tenaga, biaya, dan proses kerja yang di butuhkan dalam perencanaan bisnis.

Dengan kata lain, metode ini memungkinkan para pemilik bisnis dapat menguji hipotesis mereka dengan lebih jelas dan cepat.

Perbedaan Lean Canvas dan Business Model Canvas

Mengutip pernyataan dari sang pembuat, Ash Maurya, pada laman situs Business Model Analyst, lean canvas berfokus pada hubungan antara pelanggan dengan masalah dan solusi. Sedangkan business model canvas berfokus pada perencanaan bisnis dari sudut pandang strategis.

Selain itu, dalam praktiknya, perbedaan di antara kedua tools tersebut terdapat pada empat elemen yang Maurya modifikasi dari BMC. Di antaranya adalah problem, solution, key metrics, dan unfair advantage. Keempat elemen tersebut menggantikan empat elemen BMC yaitu customer relationship, key partners, key activities, dan key resources.

Dengan keempat elemen baru tersebut, lean canvas menjadi tools yang lebih user-friendly atau tidak membutuhkan penjelasan rumit. Walaupun perubahan “kecil” ini akan mengubah seluruh pemahaman tentang model bisnis.

Elemen atau Komponen Lean Canvas

Hampir sama seperti dalam pembuatan business model canvas, lean canvas terdiri dari sembilan elemen. Namun, kesembilan elemen tersebut memiliki istilah dan tujuan yang dimodifikasi yang mana mengurutkan proses bisnis (business process mapping), umumnya dimulai dari masalah pelanggan (customer pain point). Selengkapnya bisa Anda simak pada penjelasan di bawah ini.

Baca Juga:

1. Problem (Masalah)

Pada dasarnya, ketika perusahaan Anda ingin menjual produk atau layanan bisnis, maka umumnya harus ada permintaan atau demand. Hal ini akan menyebabkan setidaknya ada satu masalah yang dapat Anda identifikasi.

Nah, sesuai namanya, elemen Problem akan memuat masalah-masalah dari setiap segmen pelanggan yang akan Anda definisikan sebagai bagian dari tujuan bisnis dalam menyelesaikan masalah pelanggan. Bahkan, elemen pertama ini berguna dalam mewakili penggambaran keseluruhan kanvas yang akan dibuat.

2. Customer Segment (Segmentasi Pelanggan)

Seorang pelaku bisnis yang profesional hanya bisa mengetahui masalah pelanggan yang akan diselesaikan jika ia tahu siapakah pelanggannya. Maka dari itu, Anda perlu menyusun blok pertama dari lean canvas, yaitu customer segment.

Di sana, Anda perlu menemukan siapa target pasar atau pelanggan ideal Anda dalam rangka memahami bisnis secara keseluruhan serta menjalankan strategi promosi yang lebih mudah. Biasanya, cara ini akan melibatkan pemetaan persona pelanggan di segmen pasar yang ditargetkan. Jika ada lebih dari satu segmen pelanggan, maka Anda harus mengembangkan satu kanvas untuk masing-masing segmen.

3. Unique Value Proposition

Blok elemen unique value proposition menunjukkan bagaimana bisnis Anda tampil unik atau beda daripada bisnis lainnya. Misalnya, bisnis Anda menjabarkan nilai manfaat apa yang hanya akan pelanggan Anda miliki melalui penggunaan produk atau layanan Anda (customer value).

Sebab, value proposition berperan penting dalam meyakinkan sales lead (prospek) untuk menggunakan produk Anda melalui penjabaran keunggulan dari produk atau layanan Anda (product value). Oleh karena itu, buatlah daftar-daftar alasan mengapa pelanggan harus membeli produk atau layanan dari brand Anda daripada milik kompetitor.

4. Solution (Solusi)

Setelah Anda tahu siapa target pelanggan dan apa saja masalahnya, maka selanjutnya Anda dapat menawarkan solusi. Blok elemen Solution pada lean canvas harus mewakili kumpulan fungsi dan fitur minimum pada produk atau layanan (atau Minimum Viable Product) yang memungkinkan perusahaan dapat memberikan value proposition pelanggan dari blok sebelumnya.

5. Channels (Saluran Distribusi/Pemasaran)

Pada elemen Channel, Anda harus jelaskan cara yang akan Anda gunakan untuk menjangkau (reach) audiens Anda. Channel yang dimaksud di sini meliputi semua saluran pemasaran, media komunikasi (media mix), dan distribusi yang ingin Anda adopsi.

Baik itu dari media tradisional (TV, radio, koran, poster, dll) maupun media digital (internet, website, SEO, media sosial, dan email). Dengan menentukan channel-channel tersebut, marketer dapat menyusun konten kampanye pemasaran (marketing campaign) terbaik sesuai dengan platformnya.

6. Revenue Stream (Aliran Pendapatan)

Elemen Revenue Stream membantu Anda dalam mengidentifikasi berapa banyak yang akan dibayar pelanggan untuk produk atau layanan bisnis. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui rincian sumber pendapatan (revenue) perusahaan. Oleh karenanya, perusahaan harus mengelola aliran keuangan (financial statement) semaksimal mungkin untuk meningkatkan profit dan ROI.

7. Cost Structure (Struktur Biaya)

Blok elemen Cost Structure adalah kumpulan data semua biaya yang bisnis perlukan dan keluarkan agar dapat menjual produk Anda (cost of goods sold). Anda harus mencantumkan semua pengeluaran, mulai dari penelitian dan pengembangan hingga biaya dan gaji bulanan. Dengan demikian, Anda dapat mengelola proses value chain hingga manajemen risiko.

8. Key Metric (Metrik Utama)

Selanjutnya, Anda harus mengetahui metrik apa yang akan Anda terapkan saat mengukur kinerja bisnis Anda. Tujuan dari komponen ini adalah untuk membuat pemilik bisnis dan segenap tim manajemen fokus pada angka terpenting dari bisnis mereka (business metric). Itulah satu-satunya cara Anda dapat memantau hasil yang tim manajemen Anda dapatkan.

9. Unfair Advantage

Blok elemen terakhir yang harus Anda identifikasi adalah unfair advantage. Maksudnya, tanyakan kepada tim Anda “apa yang bisnis atau produk atau layanan miliki saat ini yang tidak dimiliki oleh brand lain?”.

Jawabannya haruslah sesuatu yang unik, tidak dapat disalin atau ditiru di pasar. Elemen ini menjelaskan masalah penting, terutama jika Anda berniat menggunakan kanvas untuk menarik mitra dan investor. Oleh karena itu, optimalkan pula upaya Anda pada tahapan ini.

Demikian adalah ulasan singkat mengenai lean canvas. Selain menyusun lean canvas untuk pengembangan bisnis, Anda juga bisa menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 digital marketing, serta data driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga: