Mengenal Era Marketing 5.0, Kombinasi Antara Teknologi dan Humanity

marketing 5.0 adalah

Seiring dengan perkembangan teknologi, ilmu pemasaran pun mau tak mau harus turut berevolusi. Setelah Marketing 4.0 yang merupakan langkah awal pemasaran digital, kini muncul Marketing 5.0 yang menyeimbangkan peran teknologi dengan nilai-nilai humanity (kemanusiaan).

Saat ini teknologi masuk dalam kehidupan dan berpengaruh pada perubahan perilaku konsumen. Maka dari itu, ilmu pemasaran juga harus mampu menyerap perubahan tersebut dan memberikan solusi. Oleh sebab itu, Marketing 5.0 memberikan jalan tengah antara peran teknologi yang semakin besar dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Lantas, apa itu Marketing 5.0 dan bagaimana cara penerapannya?

Apa Itu Marketing 5.0?

Marketing 5.0 adalah konsep marketing yang menekankan pada pemanfaatan teknologi dan penciptaan customer experience.

Jika era Marketing 4.0 berbicara mengenai hal-hal dasar dalam konteks dunia digital, maka era Marketing 5.0 menuntut untuk lebih menekankan pada kombinasi pemanfaatan teknologi dan kemampuan manusia untuk menciptakan customer experience.

Konsep utama dari  Marketing 5.0 adalah bagaimana manusia mencari teknologi yang tepat untuk membantu pekerjaan mereka, dalam hal ini yaitu pemasaran.

Pergerakan ke arah Marketing 5.0 sendiri didorong oleh lima tren besar. Mulai dari jumlah generasi digital-savvy yang begitu besar, adopsi phygital lifestyle, dampak positif dan negatif dari digitalisasi, perkembangan teknologi yang kian matang, hingga simbiosis antara manusia dengan teknologi yang tidak bisa terpisahkan.

Marketing 5.0 diulas secara dalam pada buku karya Founder and Chairman Markplus Inc., Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan, dan Philip Kotler yang berjudul “MARKETING 5.0”. Tak hanya masuk dalam daftar Buku Bisnis Terbaik 2021, buku ini diterbitkan dengan 15 bahasa hanya dalam waktu 8 bulan.

digital marketing agency

Buku tersebut memberi cara bagi para marketer untuk mengintegrasikan evolusi model teknologi dan bisnis dengan perubahan dramatis dalam perilaku konsumen yang telah terjadi dalam dekade terakhir.

Mengikuti pola yang disajikan dalam seri buku terlaris Marketing X.0, penulis membahas topik penting yang diperlukan untuk memahami pemasaran modern, termasuk pemasaran yang gesit, kecerdasan buatan untuk otomatisasi pemasaran, pemasaran segmen-satu, teknologi kontekstual, dan ada lain sebagainya.

Dalam keterangannya, Hermawan mengungkapkan adanya banyak nama marketing yang rusak karena iklan yang berlebihan. Sehingga dia pun menekankan pentingnya kejujuran dalam marketing.

“Saya semakin takut karena dengan teknologi marketer menguasai AI, mereka akan semakin bisa mengarahkan customer membeli apa saja, seperti dengan diskon, dan lain sebagainya,” ungkap Hermawan.

Baca Juga :

Marketing 5.0 untuk Optimalisasi Bisnis

optimalisasi marketing 5.0

Marketing 5.0 melahirkan sejumlah term baru, di antaranya Next Tech dan New CX (Customer Experience). Artinya, pada era ini optimalisasi bisnis dapat tercapai jika perusahaan mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan (humanity).

Next Tech

Kombinasi antara kekuatan teknologi dan manusia harus berjalan beriringan. Hal ini disebut dengan istilah Next Tech atau bionics.

Dalam konsep ini, teknologi yang ada sekarang mencoba meniru manusia, bagaimana manusia berpikir, menentukan keputusan, dan melakukan aksi dalam hidupnya. Teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) misalnya, yang mencoba meniru bagaimana otak manusia bekerja.

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi yang tak jarang kerap tidak terstruktur juga telah direplikasi dengan teknologi Natural Language Processing (NLP). Lalu kemampuan sensing manusia telah mendorong kehadiran sensor techkemampuan bergerak yang melahirkan robotik, kemampuan berimajinasi yang menghasilkan mixed realityhingga cara manusia dalam berkoneksi yang melahirkan bentuk Internet of Things (IoT) dan Blockchain.

New CX

Sedangkan, New CX berbicara mengenai jejak customer di setiap tahapan 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate yang bisa berpindah-pindah, entah dari kanal online ke offline atau sebaliknya.

Pada tahap Aware terjadi proses ketika customer mengenal suatu produk atau brand, kemudian berlanjut pada tahap Appeal ketika customer mulai tertarik dengan produk atau brand tersebut.

Di tahap selanjutnya, customer akan berusaha untuk mencari tahu lebih dalam mengenai produk atau brand tersebut (Ask). Jika informasi yang tersebut berhasil meyakinkan customer, maka ada kemungkinan customer akan melakukan pembelian (Act).

Tak berhenti sampai di situ, jika customer merasa puas terhadap produk atau jasa yang mereka beli, maka mereka akan merekomendasikan produk atau layanan tersebut kepada orang lain (Advocate).

Pada dasarnya, konsep ini hampir sama dengan model pemasaran dasar seperti marketing funnel dan AIDA model marketing. Hanya saja, Marketing 5.0 mengkombinasikan peran teknologi dengan sentuhan manusia.

Formulasi Marketing 5.0

Hermawan Kertajaya, Iwan Setiawan, dan Philip Kotler memformulasikan era Marketing 5.0 ke dalam bentuk :

Marketing 5.0 = New Tech x New CX.

Dengan menggabungkan Next Tech dan New CXmereka meyakini customer experience akan semakin efisiendan bisnis Anda dapat memberikan value lebih kepada para customer.

Kuncinya adalah manusia harus bisa melampaui kemampuan yang tidak bisa ditiru oleh teknologi. Manusia memiliki pemikiran dan kreativitas yang lebih unggul dari mesin. Sementara teknologi berpikir dengan membaca perilaku dan rutinitas manusia.

Untuk itu, perusahaan harus mulai berpikir untuk mengadopsi konsep Marketing 5.0 Pekerjaan rutin bisa ditangani oleh mesin atau robot. Namun bidang yang membutuhkan pemikiran, kreativitas, dan pengawasan harus tetap dilakukan oleh manusia.

Baca Juga :

Penerapan Konsep Marketing 5.0 untuk Perusahaan

penerapan marketing 5.0

Setelah memahami konsep Marketing 5.0, lalu bagaimana perusahaan mulai menerapkan konsep ini?

Konsep ini lebih mengarah kepada bagaimana manusia memilih teknologi yang tepat untuk membantu pekerjaan. Untuk menerapkan Marketing 5.0, perusahaan juga harus melakukan otomasi dengan sentuhan manusia.

Artinya, perusahaan harus memisahkan proses bisnis yang berhubungan dengan rutinitas dan proses yang sekiranya perlu mendapatkan pengawasan secara langsung.

Contohnya, saat ini mayoritas perusahaan telah memanfaatkan teknologi untuk mengerjakan pekerjaan rutin seperti memasukkan data dapat meningkatkan efisiensi kerja. Namun, perusahaan juga tetep memerlukan sentuhan pekerja untuk mengawasi dan mempertimbangkan keputusan sehingga hasil kerja lebih efektif.

Contoh lainnya yakni kegiatan marketing yang tidak boleh kehilangan sentuhan manusia meskipun bekerja dengan teknologi.

Dengan teknologi yang benar, marketer justru akan semakin terbantu dalam mengenal konsumen lebih personal dan mampu memberikan pengalaman yang menyentuh, sehingga terbangun kepercayaan dan advokasi konsumen.

Selain itu, saat ini dalam dunia teknologi sedang berkembang pembahasan AI menuju intelligence amplification (IA). Artinya, kolaborasi antara manusia dan mesin selalu lebih baik daripada manusia yang ahli dan atau mesin yang hebat.

Jika artificial intelligence berusaha mereplika kecerdasan manusia, intelligence amplification berupaya meningkatkan kecerdasan manusia dengan teknologi komputasi.

Hal ini berarti IA dapat menjadi alat untuk menambah human experience pada proses pemasaran. Karena pada dasarnya, marketing memiliki dua peran utama, yaitu layanan (services) dan penjualan (sales). Dengan IA. Mesin dapat menciptakan produktivitas, dan manusia menciptakan efektivitas marketing dengan membangun kepercayaan dan fleksibilitas.

Kesimpulan

Seiring berkembangnya konsep dari marketing, semakin terlihat bahwa teknologi sudah menjadi bagian penting dari perkembangan pemasaran.

Saat sebuah brand yang awalnya hanya dipasarkan secara lokal, kini bisa menyasar target (STP) yang lebih luas dengan menerapkan market research yang tepat.

Bahkan mereka mampu memasarkan hingga ke luar negeri dan di beberapa platform yang berbeda secara bersamaan. Sudah banyak pelaku bisnis yang berhasil membawa brandnya ke ranah internasional berkat internet dan sosial media.

Marketing 1.0 hingga 3.0 merupakan era bagi pemasaran tradisional. Di era Marketing 1.0, para pengusaha hanya menghasilkan produksi barang dan menciptakan barang sebanyak mungkin.

Kemudian di era Marketing 2.0, para pengusaha mulai memperhatikan customer atau konsumen akan tetapi masih menganggap konsumen sebagai objek saja. Memasuki era 3.0, pengusaha sudah mulai memperhatikan konsumen dan juga visi misi dan value dari marketing.

Kehadiran dunia digital kemudian mengubah lanskap tersebut dan memunculkan kehadiran era baru, yakni Marketing 4.0. Di mana era ini lebih menekankan pada dunia digital marketing.

Dan kini, Marketing 5.0 hadir serta berbicara mengenai strategi pemasaran dalam konteks kombinasi teknologi dengan New Customer Experience (CX) yang terjadi pada setiap tahapan customer journey.

Itulah pembahasan mengenai Marketing 5.0 dan cara menerapkannya. Semoga Anda dapat memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini dan menciptakan strategi marketing yang sesuai dengan perusahaan Anda.

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga :

 

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.