Kenali 6 Jenis Native Advertising dan Contohnya

native advertising

Mayoritas pengguna internet tentunya tidak menyukai tampilan iklan yang mengganggu kenyamanan saat sedang membaca konten pada sebuah website atau blog. Bahkan tak jarang, banyaknya iklan dengan tampilan yang berantakan tersebut dapat meningkatkan bounce rate website. Inilah sebabnya, native advertising atau native ads menjadi salah satu solusi yang perlu Anda pertimbangkan.

Sebagaimana kita tahu, iklan dengan format banner biasanya sering menutupi konten utama. Iklan jenis ini terkesan mengganggu user experience karena tidak user friendly. Untuk mengatasinya, maka Anda perlu memasang native ads.

Istilah ini bukan hal baru di dunia digital marketing, terutama bagi marketer yang sering memasang iklan online. Native ads ini berfungsi mengurangi gangguan yang user alami akibat tampilan iklan yang berantakan dan menutupi konten. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan lengkap tentang native ads beserta jenis-jenisnya berikut ini.

Apa Itu Native Advertising?

Melansir dari Share Throughnative advertising adalah salah satu bentuk paid media atau media berbayar, yang dapat menampilkan iklan mengikuti format sesuai platform atau layout media. Misalnya mulai dari jenis font iklan, warna, hingga bentuk gambar atau video. Dengan demikian, user tidak akan terganggu dengan tampilan iklan.

Format iklan semacam ini tentunya tidak mengganggu pengguna yang ingin melihat konten. Selain itu, native ads bisa Anda aplikasikan untuk situs versi desktop, mobile, serta aplikasi. Tampilannya pun jauh lebih user friendly ketimbang dengan iklan online konvensional lainnya yang sering menutup konten.

Marketer biasanya memanfaatkan bentuk iklan ini untuk menarik minat lead dan mendapatkan jangkauan pelanggan yang lebih luas di dunia digital marketing. Hal ini karena iklan yang rapi dapat memberikan user experience yang lebih efektif bagi pengguna internet. Bahkan, biasanya native ads akan terlihat membaur layaknya konten pada umumnya.

Contoh native ads yang sering Anda jumpai adalah konten dengan label “sponsored” atau “ads” saat melakukan pencarian di laman Google. Jenis native ads lainnya juga bisa Anda temukan di berbagai social media seperti Instagram, Twitter, dan Facebook. Biasanya konten-konten di media sosial tersebut akan menggunakan label “promoted content”. Misalnya promoted tweets di Twitter, atau saran posting di Facebook.

Baca Juga :

digital marketing agency

Jenis-Jenis Native Advertising

Native advertising memiliki beberapa format sebagaimana bentuk periklanan pada umumnya. Masing-masing format tersebut memiliki kelebihan tersendiri yang bisa Anda sesuaikan dengan kebutuhan. Berikut ini adalah beberapa jenis native ads paling populer yang perlu Anda ketahui:

1.  Paid Search Ads

Ini merupakan jenis native ads yang paling sering Anda temui di laman search engine seperti Google. Saat ada konten dengan label “sponsored” atau “ads” pada hasil pencarian Google Anda, maka iklan tersebut termasuk paid search ads.

Umumnya, jenis iklan ini akan muncul pada peringkat atau rangking teratas Google dan terlihat hampir serupa dengan konten organik. Kendati mirip, namun Anda harus membayar untuk menampilkan paid search ads.

2. Promoted Listings

Mengutip dari Forbes, promoted listings adalah salah satu jenis native ads yang sering muncul di situs e-commerce. Umumnya jenis iklan ini akan menampilkan produk-produk bersponsor sesuai dengan kategori.

Contohnya Anda membuka situs e-commerce dan mencari pakaian wanita. Nantinya, di halaman tersebut akan muncul berbagai produk pakaian wanita yang bersponsor. Inilah yang kita sebut sebagai promoted listing. Tujuan dari jenis paid marketing ini adalah agar pelanggan lebih mudah mengenal produk yang diiklankan dan meningkatkan brand awareness.

3. In-feed Units

jenis native advertising

Secara tak sadar, ini merupakan salah satu jenis native ads yang paling sering Anda jumpai dalam aktivitas berselancar di internet. Sebab jenis iklan ini kerap muncul pada landing page suatu website, atau bahkan timeline di media sosial. Jika Anda menemukan konten bersponsor pada landing page atau timeline, maka itu adalah in-feed units.

Jenis native ads ini tergolong sangat user friendly. Sebab, iklan yang tampil akan mendapatkan penyesuaian sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak memengaruhi user experience.

Baca Juga :

4. Custom Ad

Melansir dari Zirca, iklan khusus atau custom ad adalah iklan kontekstual yang tidak selalu sesuai dengan format tertentu. Misalnya adalah filter pada Instagram atau Snapchat. Nah, membuat filter baru adalah salah satu contoh iklan khusus.

Walaupun filter juga merupakan media berbayar, Anda tidak perlu khawatir karena tampilannya akan menyesuaikan interface aplikasinya sehingga ramah terhadap pengguna.

5. In-ad with Native Elements

Jenis native ads yang satu ini juga mungkin sering kali Anda jumpai di sebuah website. Umumnya, iklan ini akan menyesuaikan publisher atau situs yang ada. Sehingga ad with native elements ini tidak akan mengganggu tampilan layar saat Anda berselancar di internet.

6. Content Recommendation Engine Widgets

Mengutip dari Forbes, jenis iklan yang satu ini akan sering Anda temukan di akhir artikel pada suatu website. Pada umumnya, di akhir artikel ada tulisan “Direkomendasikan untuk Anda”. Nah, biasanya konten-konten yang direkomendasikan tersebut adalah konten yang mungkin Anda sukai sesuai dengan topik atau kategori yang paling sering Anda lihat.

Iklan ini paling cocok untuk marketer yang menggunakan content marketing untuk memaksimalkan kegiatan branding dan menerapkan lead magnet. Sebab recommendation widgets akan memudahkan Anda dalam mendapatkan traffic dari situs web orang lain.

Demikian adalah jenis native advertising paling populer yang perlu Anda ketahui. Pada dasarnya, native ads adalah media berbayar yang dapat Anda manfaatkan untuk mendapatkan traffic yang tinggi sekaligus secara tak langsung meningkatkan angka konversi. Sebab dengan tampilan iklan yang nyaman dan tidak mengganggu, user pun akan semakin betah untuk melihat konten dan menurunkan bounce rate.

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga :

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.