Jenis Non-Operating Expenses dan Bedanya Dengan Operating Expense

Perusahaan yang menghasilkan profit pastinya akan memiliki prosedur perencanaan, pemodelan, pengelolaan, hingga pelaporan keuangan bisnis yang terstruktur dengan baik. Akuntan atau manajer keuangan perusahaan bertanggung jawab mengatur dan mengelola biaya pendapatan (revenue) maupun pengeluaran selama proses bisnis berlangsung. Di mana biaya-biaya bisnis tersebut bisa datang dari hasil operasional inti bisnis (operating expenses) atau biaya di luar operasional inti bisnis (non-operating expenses).

Tak hanya biaya operasional internal bisnis, biaya-biaya yang tidak berkaitan langsung dengan operasional bisnis atau non-operating expenses juga harus diawasi dengan cermat. Sebab, laporan yang mendetail tentang biaya non-operasional sering di anggap sebagai biaya yang harus perusahaan keluarkan untuk memenuhi kewajiban moneter tertentu.

Akan tetapi, tim bisnis yang menganalisis kesehatan keuangan perusahaan (cost benefit analysis) di sarankan untuk menghilangkan pendapatan dan pengeluaran non-operasional ini. Gunanya untuk memeriksa seberapa baik dan akuratnya kinerja perusahaan dari tahun ke tahun (year-over-year growth). Namun, bukan berarti non-operating expenses dapat langsung di abaikan begitu saja, lho.

Dalam artikel berikut, inMarketing akan menjelaskan secara rinci seputar biaya non-operasional dalam mempengaruhi siklus pertumbuhan bisnis saat ini atau di masa yang akan datang (business life cycle). Baca artikel ini sampai habis, ya!

Pengertian Non-Operating Expenses

Pengertian Non-Operating Expenses

Seperti yang sudah sempat kami sebutkan di awal artikel ini, non-operating expenses adalah biaya atau anggaran bisnis yang tidak berkaitan langsung dengan operasional bisnis inti. Hal ini membuat tentu saja non-operating expenses merupakan kebalikan dari konsep operating expense yang mana mengacu pada biaya yang terkait langsung dengan pengelolaan bisnis sehari-hari.

Namun, operating expense tidak mencakup harga pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS) yang umumnya di cantumkan secara terpisah pada laporan income perusahaan. Sehingga, biaya non-operasional umumnya muncul di sekitar laporan income perusahaan setelah melacak biaya operasional.

Baca Juga:

Menurut situs NetSuite, apabila tim keuangan perusahaan aktif mencatat biaya non-operasional secara terpisah dari biaya operasional, maka para stakeholder dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang performa bisnis perusahaan maupun produktivitas operasi tak langsung bisnis dan proses penjualan (sales and operating plan).

digital marketing agency

Selain itu, rincian biaya tersebut juga mengambil banyak andil dalam kelangsungan bisnis yang berkelanjutan (business continuity) dan bahkan memainkan peran penting dalam memastikan return on investment (ROI) atau laba bersih perusahaan (price earning) selama periode tertentu (net present value). Baik pada perusahaan yang menargetkan segmen pasar konsumen (business-to-consumer atau direct-to-customer) ataupun perusahaan yang memproduksi barang untuk pasar bisnis (business-to-business).

Hanya saja beberapa pengeluaran terkadang menimbulkan kebingungan di operasional perusahaan yang membagi dua pengeluaran dan apakah biaya tersebut harus diperlakukan sebagai biaya operasional dan non-operasional. Satu biaya dapat menjadi non-operasional untuk satu perusahaan, sedangkan yang sama dapat beroperasi untuk perusahaan lain. Jadi, tidak ada kriteria standar untuk bifurkasinya.

Sehingga, pihak yang melakukan bifurkasi biaya harus memiliki pengetahuan yang tepat tentang biaya operasional dan biaya non-operasional untuk perusahaan, hanya saja perlu di lakukan bifurkasi yang sama.

Jenis Utama Non-Operating Expenses

Dalam konsep validnya, biaya non-operasional bisnis memiliki berbagai macam jenis pengeluaran. Apabila jenis operating expense meliputi gaji dan bonus karyawan, pajak internal bisnis, biaya operasional pemasaran seperti beriklan atau kampanye pemasaran (marketing cost), dan bahkan asuransi bisnis. Maka adapun jenis non-operating expenses adalah sebagai berikut.

Baca Juga:

1. Interest Payment

Jenis Utama Non-Operating Expenses

Pada kenyataannya, tak sedikit perusahaan memilih mengambil pinjaman atau hutang ke bank untuk membiayai pengembangan bisnisnya. Nah, pembayaran bunga atas pinjaman yang juga di kenal sebagai interest payment tersebut di anggap sebagai beban biaya non-operasional bisnis karena tidak terkait langsung dengan aktivitas operasional inti.

2. Kerugian Investasi

Tak bisa di pungkiri apabila suatu perusahaan akan menanamkan dan memiliki sejumlah investasi di perusahaan lain atau di dalam instrumen keuangan tertentu.

Akan tetapi, akibat dari perubahan tren masyarakat (Society 5.0) dan permintaan dari kebutuhan pelanggan (demand generation), perusahaan selaku investor dapat mengalami kerugian tertentu. Kerugian atas investasi ini dapat di catat sebagai kerugian non-operasional dan merupakan beban non-operasional.

3. Kerugian Penjualan

Adanya fenomena transaksi satu kali selama penjualan bisnis (sales cycle) yang mengakibatkan kerugian juga dapat di anggap sebagai non-operating expenses. Sebut saja upaya induk perusahaan yang “jual rugi” atau bahkan memilih menutup anak perusahaannya begitu saja.

4. Biaya Restrukturisasi

Jenis non-operating expenses selanjutnya mengacu pada biaya-biaya yang perusahaan gelontorkan selama restrukturisasi bisnis. Perusahaan dapat mengeluarkan one-time expenses sebagai akibat dari restrukturisasi yang mereka rancang untuk meningkatkan daya saing atau keunggulan kompetitif bisnis.

5. Penghapusan Inventaris

Selain kerugian dari penjualan pada poin sebelumnya, bentuk kerugian bisnis juga dapat di peroleh dari hasil upaya membuang inventaris atau persediaan produk usang yang tidak terjual atau tidak mencapai closing sales.

Oleh karena itu, saat ini sudah banyak perusahaan memilih menjalankan model bisnis di mana perusahaan akan memproduksi barangnya setelah pelanggan memesan kepadanya (make to order). Alih-alih langsung membuat produk dalam jumlah besar dan menyimpannya di gudang atau warehouse (make to stock).

6. Fluktuasi Mata Uang

Jika sebuah perusahaan beroperasi di negara lain atau melakukan penjualan dalam mata uang asing. Maka fluktuasi nilai tukar mata uang juga dapat menyebabkan kerugian yang termasuk sebagai beban non-operasional.

7. Kerugian Akibat Bencana Alam

Tidak hanya dari faktor perusahaan itu sendiri, kerugian bisnis yang termasuk ke dalam jenis non-operating expenses juga bisa terjadi ketika operasional perusahaan terdampak oleh bencana alam.

8. Adanya Perubahan Pada Prinsip Akuntansi

Dan terakhir, perubahan metode akuntansi yang perusahaan gunakan dapat mengubah nilai aset bisnis atau liabilities. Di mana kerugian akibat perubahan tersebut juga tercatat sebagai biaya non-operasional.

Demikian informasi singkat tentang non-operating expenses yang bisa kami sampaikan kepada Anda. Pada intinya, biaya non-operasional tidaklah sama dengan biaya operasional karena keduanya memiliki peran pelaporan keuangan dan tujuan akuntansi yang berbeda satu sama lain.

Ketahui informasi lain seputar marketing, business plan, dan tren UKM dan SME Indonesia dengan subscribe website inMarketing. Sebab inMarketing juga menawarkan layanan digital marketing terbaik di era digitalisasi bisnis seperti sekarang. Mulai dari growth hack marketing, inbound marketing, 360 digital marketing, serta data-driven marketing untuk membantu menumbuhkan dan mengembangkan bisnis perusahaan dengan lebih pesat.

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.