Panduan Lengkap Penerapan Content Personalization Bagi Marketing

Saat ini, tak sedikit pelanggan mengharapkan mendapatkan pengalaman yang lebih personal (personalized marketing) saat berinteraksi dengan brand tertentu (brand communication). Kondisi itulah yang membuat munculnya konsep content personalization yang mana dikhususkan bagi bisnis B2B maupun B2C yang menjalankan strategi pemasaran konten atau content marketing.

Meskipun penerapannya semakin populer di kalangan marketer, strategi personalisasi konten ini tidaklah mudah. Sebab, pada dasarnya marketer perlu memahami keinginan (demand generation) dan kebutuhan pelanggan atau calon pelanggan prospek (customer acknowledgement). Lalu mempersonalisasi konten untuk memenuhi ekspektasi pelanggan (customer delight) dan memposisikan brand perusahaan (brand positioning) sebagai pilihan terbaik bagi pelanggan (brand authority).

Lantas, bagaimana langkah terbaik dalam menerapkan strategi personalisasi konten?

Apa Itu Content Personalization?

Apa Itu Content Personalization?

Sebelum membahas lebih dalam seputar strategi personalisasi konten, Anda perlu memahami konsep dasarnya.

Menurut situs The Hoth, content personalization adalah praktik pembuatan, penyampaian atau penawaran konten yang unik dan relevan, sesuai dengan minat, preferensi atau insight, dan perilaku audiens target (consumer behavior) dalam siklus perjalanan pembelian (buying cycle).

Misalnya, jika pelanggan pernah menjelajahi kategori produk tertentu di e-commerce, maka Anda dapat membuat kategori tersebut lebih menonjol di beranda e-commerce. Selain itu, konten personalisasi ini juga sering ditemui dalam bentuk postingan blog, newsletter, retargeting ads, studi kasus, email personalisasi, headline, call-to-action (CTA), kuis interaktif, dan customer touchpoint lain yang juga biasa digunakan oleh content marketer.

Konsep personalisasi ini sangatlah penting bagi operasional pemasaran bisnis karena dapat membantu perusahaan dalam:

Baca Juga:

digital marketing agency

Perbedaan Content Personalization dan Customization

Perlu Anda pahami bahwa konsep personalisasi konten berbeda dengan kustomisasi konten. Walaupun keduanya sama-sama merupakan upaya menyesuaikan konten berdasarkan minat pelanggan.

Pasalnya, personalisasi konten tidak perlu menanyakan preferensi pelanggan secara langsung untuk perencanaan konten, membuat content pillar, atau mengaudit konten. Sementara kustomisasi konten membutuhkan strategi tersebut.

Misalnya, Spotify menggunakan strategi content personalization untuk menampilkan beberapa daftar playlist kepada penggunanya. Algoritma personalisasi mereka membuat atau menyarankan daftar playlist untuk pengguna sesuai dengan lagu yang pengguna suka dan dengarkan sebelumnya.

Di sisi lain, Nike menawarkan layanan customization agar pelanggannya dapat menyesuaikan gaya sepatu yang ada dengan memilih warna dan bahan sesuai dengan keinginan mereka.

Tahapan Menerapkan Content Personalization

Tahapan Menerapkan Content Personalization

Sehubungan dengan pertanyaan pada awal artikel, berikut ini kami jelaskan tahapan atau langkah-langkah terbaik dalam menerapkan strategi content personalization.

1. Pertimbangkan untuk Memenuhi Kebutuhan Pelanggan

Sebelum memulai content personalization, pikirkan segala kemungkinan masalah atau pain point audiens target Anda yang mana mungkin dapat diatasi oleh penggunaan produk, layanan, atau konten Anda (customer advocacy).

Strategi personalisasi konten yang baik seharusnya bukan tentang seberapa hebat produk Anda. Melainkan lebih banyak menjelaskan tentang bagaimana Anda dapat memenuhi kebutuhan spesifik audiens. Oleh karena itu, fokuslah untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar berharga bagi pengguna akhir, terlepas dari apakah mereka akan membeli produk atau layanan dari brand Anda atau tidak.

Baca Juga:

2. Kumpulkan Data Pelanggan

Setelah itu, Anda juga perlu mengumpulkan data pelanggan (customer data integration) yang mana berupa data first-party atau data yang Anda kumpulkan langsung dari audiens. Data-data tersebut mencakup:

  • Data demografis yang terdiri dari data persona pelanggan seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, status perkawinan, dan lain-lain. Dengan mengetahui detail dasar tentang pelanggan, Anda dapat menampilkan berbagai jenis penawaran promosi.
  • Data kontekstual merupakan informasi latar belakang yang menyediakan lebih banyak konteks tentang pelanggan. Mulai dari data perangkat dan browser yang digunakan, lokasi geografis, dan bahkan wujud interaksi pelanggan di media sosial (social media engagement).
  • Data perilaku atau behavioral data mengacu pada behavioral segment atau siklus pelanggan dalam berinteraksi dengan brand (customer lifecycle). Contohnya, perilaku penggunaan, apa saja halaman website yang dikunjungi atau apa produk yang dibeli.

Anda bisa mengumpulkan data-data di atas (data mining) dengan cara:

3. Segmentasi dan Identifikasi Pelanggan

Pada tahapan ini, kami sarankan untuk menggunakan tools CRM atau customer relationship management sebagai bagian dari content intelligence. Tujuannya adalah untuk mensegmentasikan pelanggan dengan atribut serupa berdasarkan data yang telah Anda kumpulkan.

Sebab, Anda sejatinya harus mengetahui detail informasi pelanggan pada customer journey yang mana berguna agar Anda dapat menjangkau pelanggan dengan informasi yang mereka butuhkan (prospecting). Selain CRM, Anda juga bisa gunakan tools-tools berikut ini.

  1. Customer Data Platform (CDP): merupakan perangkat lunak yang berguna untuk mengumpulkan data pelanggan di berbagai titik kontak dan menyusun data real-time ke dalam setiap profil pelanggan.
  2. Data Management Platform (DMP): merupakan perangkat lunak khusus customer data management yang berguna untuk mengumpulkan, menganalisis, membuat, mengelola, menyimpan, dan bahkan membagikan data digital pelanggan anonim (data wrangling), seperti ID cookie, ID perangkat, dan IP adress perangkat.
  3. Google Tag Manager (GTM): terdiri dari variabel lapisan data yang berguna untuk memicu personalisasi pengalaman pelanggan, meningkatkan user experience di situs, dan juga meningkatkan conversion rate.

4. Buat Konten yang Relevan Untuk Segmen Pelanggan yang Berbeda

Langkah selanjutnya adalah membuat konten yang relevan dan mungkin tak lekang oleh waktu (evergreen content) untuk setiap segmen pasar yang telah Anda buat. Beberapa contoh jenis konten yang dapat Anda personalisasi adalah:

  • Postingan blog untuk demografi tertentu, misalnya audiens yang lebih muda dan lebih tua.
  • Panduan pembelian untuk berbagai peran, misalnya untuk eksekutif dan manajer.
  • Email berdasarkan perilaku pelanggan di website, misalnya halaman yang dikunjungi.
  • Video untuk minat tertentu, misalnya tentang teknologi, kesehatan, dan lain-lain.

5. Ukur Kesuksesan Content Personalization

Penerapan content personalization tidak berhenti sampai Anda berhasil membuat dan menyebarkan konten ke audiens target. Anda juga perlu mengukur efektivitas konten dengan mengacu pada masing-masing KPI atau metrik content marketing, yaitu:

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.