Perbedaan ROI, ROE, dan ROA Dalam Kesehatan Finansial Perusahaan

Perbedaan ROI, ROE, dan ROA Dalam Kesehatan Finansial Perusahaan

Sejatinya setiap analis keuangan perusahaan akan menghitung rasio profitabilitas ke dalam suatu financial statement untuk mengukur kesehatan dan efisiensi finansial serta investasi proses bisnisnya. Nah, dari banyaknya metode penghitungan profit yang ada, ROI, ROE, dan ROA adalah jenis-jenis rasio keuangan yang penting dan paling sering digunakan untuk mengidentifikasi tingkat pertumbuhan tahunan pada finansial bisnis (growth rate).

Tentu saja ketiganya memiliki konsep, tujuan, dan hasil yang berbeda. Bisa saja satu perusahaan memiliki ROI (Return on Investment) dan ROE (Return on Equity) yang tinggi namun di satu sisi hasil ROA (Return on Asset) lebih rendah. Atau mungkin saja perusahaan lain memiliki ROI dan ROA tinggi namun hasil ROE-nya rendah. Semua peluang bisa terjadi di antara ketiganya.

Melalui artikel ini, kita bersama-sama akan mempelajari lebih dalam masing-masing teori dasar dari ROI, ROE, dan ROA yang perlu Anda ketahui. Dengan begitu, Anda bisa melihat perbedaan-perbedaan diantara ketiganya. Baca artikel ini sampai akhir, ya!

Pengertian ROI, ROE, dan ROA

Perbedaan utama dari ROI, ROE, dan ROA terletak pada pengertian teori dasarnya. Mari kita bahas satu persatu!

Melansir dari situs Investopedia, ROI atau Return on Investment adalah ukuran kinerja manajemen bisnis yang investor gunakan untuk mengevaluasi efisiensi atau profitabilitas investasinya. Dan juga berguna dalam membandingkan efisiensi sejumlah investasi dalam saham (price earning ratio), manajemen proyek, atau aset bisnis yang berbeda.

ROI adalah salah satu metrik bisnis yang populer karena sifat keserbagunaan dan kesederhanaannya. ROI secara efektif mengukur secara langsung jumlah pengembalian investasi (rate of return) tertentu yang mana relatif terhadap biaya investasi.

Baca Juga:

Lalu, ROE atau Return on Equity yang merupakan ukuran kinerja keuangan perusahaan dalam niche industri yang sama di mana berfungsi untuk menghitung dan menyatukan laporan laba rugi dengan ekuitas pemegang saham (stockholder).

digital marketing agency

Dengan kata lain, ROE adalah ukuran kemampuan manajemen untuk menghasilkan pendapatan (revenue) dari ekuitas yang tersedia. Meskipun begitu, ROE menyediakan metrik sederhana yang juga bisa digunakan untuk mengevaluasi saham dan rasio keuangan lainnya serta memperkirakan tingkat pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan (sustainable growth rate).

Sedangkan ROA atau Return on Asset adalah ukuran atau rasio keuangan yang menunjukkan seberapa besar dan efisien perusahaan menggunakan aset bisnisnya untuk menghasilkan laba atau keuntungan. Dengan demikian, ROA akan memberi tahu perusahaan apa dan berapa penghasilan yang bisa dihasilkan dari modal atau aset yang diinvestasikan berdasarkan seluruh aktivitas perusahaan (corporate communication).

Manfaat ROI, ROE, dan ROA

Berdasarkan penjabaran masing-masing ROI, ROE, dan ROA, pada intinya ketiganya sama-sama berguna sebagai pengukuran performa bisnis perusahaan dalam memperoleh atau menghasilkan laba atas kepemilikan investasi, profitabilitas, dan aset bisnis. Berdasarkan upaya perusahaan saat melaksanakan strategi bisnis terbaik dengan keuntungan tertinggi dari total biaya yang mereka keluarkan untuk operasional bisnis (operational expense).

Kendati begitu, tentu ketiganya memiliki manfaat lain yang spesifik dan hanya bisa didapatkan melalui penggunaan salah satu teknik pengukuran. Berikut ini kami jelaskan masing-masing manfaat dari ROI, ROE, dan ROA.

Manfaat dan Keuntungan ROI

Keuntungan dan Manfaat ROE

  • Dengan membandingkan ROE perusahaan dengan rata-rata industri, analis keuangan dapat mewujudkan keunggulan kompetitif perusahaan dari sudut pandang finansial.
  • Memberikan insight tentang bagaimana manajemen perusahaan menggunakan pembiayaan dari ekuitas untuk mengembangkan bisnis.
  • ROE yang berkelanjutan dan meningkat dari waktu ke waktu mengindikasikan perusahaan yang mampu menghasilkan shareholder value.
  • Memberitahu perusahaan bahwa mereka telah atau perlu meningkatkan produktivitas dan keuntungan bisnis.
  • Membantu investor dalam membandingkan kinerja investasi ekuitas yang berbeda dan mempengaruhi strategi investasi masa depan mereka (financial forecasting).

Manfaat dan Keuntungan ROA

Baca Juga:

Cara Menghitung ROI, ROE, dan ROA

Faktor perbedaan ROI, ROE, dan ROA juga terlihat pada cara hitungnya. Untuk menghitung ROI, Anda perlu gunakan rumus atau formula berikut ini.

ROI = ((Total Penjualan – Nilai Investasi) : Nilai Investasi) x 100%

Apabila hasil hitung ROI bernilai positif, maka menandakan bahwa total jumlah biaya yang perusahaan keluarkan untuk investasi dapat dikembalikan. Sebaliknya, jika hasil ROI negatif, maka artinya pendapatan bulanan yang perusahaan hasilkan tidak dapat menutupi biaya investasi yang perusahaan keluarkan.

Lalu, jika menghitung ROE, gunakan rumus atau formula berikut.

ROE = (Laba Bersih setelah pajak : Modal atau Ekuitas Shareholder) x 100%

Ekuitas shareholder setara dengan:

ES = Aset Perusahaan – Hutang

ROE bisa positif atau negatif, tapi bagus atau jeleknya tergantung pada standar industri. Jika perusahaan Anda dapat mengungguli perusahaan lain di target pasar yang sama. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan Anda berkinerja lebih baik daripada perusahaan lainnya.

Apabila menghitung ROA, maka gunakan rumus atau formula berikut ini.

ROA = (Laba atau Pendapatan Bersih : Total Aset) x 100%

Hasil ROA yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan lebih efisien dan produktif dalam mengelola neraca untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan dengan investasi yang lebih kecil. Sederhananya, ROA yang lebih tinggi berarti lebih banyak efisiensi aset.

Faktor yang Memengaruhi ROI, ROE, dan ROA

Sebagai penutup artikel ini, inMarketing juga akan menjelaskan secara singkat apa saja faktor yang memengaruhi masing-masing ROI, ROE, dan ROA.

Pertama, hasil ROI dapat dipengaruhi oleh faktor:

  1. Operating assets turnover, merujuk pada tingkat kecepatan perputaran aktiva kegiatan operasional bisnis dalam periode tertentu. Misalnya, biaya, peralatan, bangunan, atau bahkan hak paten bisnis. Faktor ini berguna untuk melihat seberapa jauh kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset-asetnya.
  2. Profit margin, merupakan besaran keuntungan operasi bisnis dan jumlah penjualan bersih. Faktor ini dapat mengukur tingkat profit perusahaan yang berkaitan dengan penjualan dan operasional bisnis.

Sedangkan hasil ROE dapat dipengaruhi oleh faktor:

  1. Profitabilitas bisnis dengan likuiditas. Faktor ini mengacu pada kemampuan perusahaan dalam memberikan piutang pada pihak lain. Jika likuiditas bisnis tidak berjalan lancar, maka nilai ROE akan terpengaruh.
  2. Efisiensi operasional atau aktivitas perusahaan.
  3. Rasio utang atau leverage terhadap laba. Semakin besar utang perusahaan, maka nilai ROE semakin kecil.

Hampir sama seperti ROI, hasil ROA dapat dipengaruhi oleh dua faktor utama. Yaitu tingkat perputaran aktiva yang di manfaatkan dari hasil keuntungan operasi bisnis dan profit margin. Namun, ROA juga di pengaruhi faktor tambahan, seperti:

  1. Cash turnover atau perputaran kas yang berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan kebutuhan modal perusahaan dalam membayar tagihan tertentu serta membiayai proses penjualan bisnis.
  2. Receivable turnover atau perputaran piutang yang berguna untuk menghitung berapa lama proses penagihan piutang pada kurun waktu satu periode.
  3. Inventory turnover atau perputaran persediaan yang berguna untuk mengetahui jumlah total uang yang telah di keluarkan untuk persediaan produksi perusahaan dalam jangka waktu satu tahun.

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.