Serupa Tapi Tak Sama, Kenali 3 Perbedaan User Persona dan Buyer Persona

perbedaan user dan buyer persona

Membuat user persona dan buyer persona menjadi hal yang wajib perusahaan lakukan. Tujuannya adalah untuk mengetahui target pasar dengan lebih baik. Dengan begitu, perusahaan bisa mengetahui market orientation atau permintaan (demand) pasar secara lebih efektif. Hasilnya, perusahaan pun dapat mengembangkan produk (product development) yang lebih diminati pasar.

Akan tetapi, hingga kini masih banyak pelaku bisnis yang belum bisa membedakan user dan buyer persona. Memang, kedua jenis persona ini memiliki beberapa persamaan, sehingga wajar apabila marketer atau tim sales kesulitan dalam membedakannya.

Kendati demikian, keduanya juga memiliki perbedaan yang cukup besar. Lantas, apa saja perbedaan tersebut?

Perbedaan User Persona dan Buyer Persona

Melansir dari Product Plan, buyer persona merupakan representasi dari pelanggan ideal yang perusahaan miliki berdasarkan customer data dari riset pasar atau market research.

Sementara itu, user persona adalah seorang karakter fiksi yang perusahaan ciptakan untuk mewakili seorang user ideal. Sehingga sebelum membuatnya, maka perusahaan harus lebih dahulu mengenal betul siapa target yang mereka tuju. Sebab nantinya, user fiksi ini akan mewakili kebutuhan dari sekelompok user sekaligus.

Membuat persona adalah langkah utama perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen, sekaligus membantu memahami sales lead (prospek) maupun pelanggan dengan lebih baik. Biasanya, data yang perusahaan perlukan untuk membuat persona adalah nama, foto, demografis, psikografis, behavioral (perilaku), pain point, customer lifecycle, sumber informasi (website, blog, social messaging, social media, dll), serta segmentasi lainnya.

Lalu, apa yang membedakan user dan buyer persona tersebut? Berikut ini adalah perbedaannya:

Baca Juga:

1. Tujuannya

membuat user dan buyer persona

Perbedaan yang pertama terletak pada tujuan dan target dari pembuatan kedua persona tersebut. Umumnya, perusahaan membuat user persona agar produk/jasa yang mereka luncurkan membuat user merasa nyaman dan memberikan user experience yang baik.

Selain itu, persona ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi apa saja masalah yang mungkin pengguna hadapi selama menggunakan produk atau jasa tersebut. Serta apa saja hal yang bisa perusahaan lakukan untuk memecahkan permasalahan itu.

Sedangkan di sisi lain, buyer persona cenderung berfungsi sebagai alat dalam proses pemasaran produk atau layanan terkait. Hal-hal yang penting dalam persona ini antara lain alasan kenapa pembeli ingin membeli produk atau jasa yang perusahaan tawarkan. Kelebihan apa saja yang produk/jasa Anda miliki ketimbang milik kompetitor, daya saing produk di pasar, hingga product positioning dan market positioning.

Sehingga, secara sederhana bisa kita artikan bahwa user persona fokus pada pengguna yang sudah membeli produk. Supaya perusahaan bisa terus melakukan perbaikan dan evaluasi melalui insights. Sedangkan persona adalah tentang memahami orang yang belum menjadi pengguna Anda (lead).

2. Profil

Perbedaan kedua terletak pada profil pengguna. Sebagaimana penjelasan di atas, user persona adalah karakter fiksi yang perusahaan ciptakan untuk membuat user ideal. Kita bisa menganalogikan user persona tersebut adalah sasaran pasar dari produk yang kita ciptakan. Misalnya jika kita menciptakan buku dongeng untuk anak, maka user personanya adalah anak-anak yang akan menggunakan buku tersebut.

Di sisi lain, buyer persona adalah orang tua yang akan membelikan buku tersebut untuk anak mereka. Kira-kira apa saja yang membuat buku dongeng Anda lebih menarik, sehingga orang tua lebih ingin membeli produk Anda ketimbang milik kompetitor lainnya?

Contoh lainnya juga berlaku untuk tingkat corporate sales atau B2B. Misal, perusahaan Anda menciptakan suatu aplikasi CRM untuk memudahkan manajemen proses bisnis (business process) di perusahaan serta meningkatkan performa bisnis.

Maka user persona yang Anda buat harus berisi profil dari karyawan yang menggunakan aplikasi tersebut. Sedangkan buyer personanya adalah tim HR dari perusahaan yang Anda approach atau Anda tawari kerja sama.

Jadi, secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa user persona mendeskripsikan user potensial, sementara buyer persona mendeskripsikan pembeli potensial. Dengan memahami perbedaan ini, maka Anda pun akan lebih mudah dalam proses lead management dan prospecting, baik dalam siklus penjualan B2C maupun B2B.

Baca Juga:

3. Pembuatnya

Perbedaan ketiga terletak pada siapa yang membuat persona tersebut. Tim desain produk adalah pihak yang bertanggung jawab untuk membuat user persona. Di sisi lain, tim marketing bertugas untuk membuat buyer persona.

Tim desain produk akan bertanggung jawab atas kenyamanan pengguna atau user experience atas produk yang perusahaan ciptakan. Sementara itu tim marketing bertugas menangani bagaimana sentimen, pandangan, dan persepsi pelanggan terhadap product value di pasaran.

Pentingnya User dan Buyer Persona

pentingnya user dan buyer persona

Mendefinisikan persona berguna agar perusahaan bisa menyesuaikan strategi bisnis dan strategi pemasaran yang tepat berdasarkan sudut pandang user dan buyer. Dengan demikian, perusahaan bisa membuat user experience maupun customer experience yang lebih efektif dalam customer journey.

Dengan memetakan persona yang tepat, perusahaan pun memiliki peluang yang lebih besar untuk menciptakan produk yang berkualitas sesuai dengan permintaan pasar. Efeknya, perusahaan bisa meminimalisir risiko gagal produk dan melakukan risk management secara keseluruhan.

Bukan hanya itu saja. Kesempatan perusahaan untuk meningkatkan angka kepuasan pelanggan (customer satisfaction) terhadap produk atau layanan pun akan semakin meningkat. Begitu pula dengan terbukanya peluang untuk mengonversi lead (lead conversion) yang lebih tinggi.

Bahkan, NetProspex mencatat bahwa perusahaan yang berhasil membuat persona dengan tepat akan mengalami peningkatan jumlah klik hingga 100%, traffic website yang bisa meningkat sebanyak 900%, serta ROI pemasaran sebanyak 171%.

Selain itu, perusahaan juga dapat menyelaraskan semua proses perencanaan pemasaran (marketing plan), marketing operations, hingga sales plan. Dengan demikian, hal ini bisa memudahkan seluruh proses kerja.

Contohnya, Anda ingin mengirim email marketing untuk pelanggan yang melakukan repeat purchase. Alih-alih mengirimkan pada semua pelanggan yang ada di database perusahaan, Anda bisa mengelompokkannya berdasarkan persona mereka. Anda pun bisa melakukan personalisasi email dengan lebih mudah.

Di sisi lain, selain mengetahui perbedaan kedua jenis persona ini, Anda juga bisa memanfaatkan layanan digital marketing agency yang dapat membantu meningkatkan penjualan dan mengembangkan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga: