Ekonomi
Home / Ekonomi / Indef Ungkap Syarat Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Tercapai

Indef Ungkap Syarat Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Tercapai

pertumbuhan ekonomi 5 persen
pertumbuhan ekonomi 5 persen

Pertumbuhan ekonomi 5 persen kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik, terutama setelah sejumlah lembaga riset termasuk Institute for Development of Economics and Finance atau Indef menilai target tersebut tidak akan tercapai begitu saja tanpa perubahan kebijakan yang nyata. Di tengah ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan suku bunga internasional, angka lima persen bukan sekadar statistik, melainkan barometer kepercayaan investor, dunia usaha, dan rumah tangga terhadap arah perekonomian Indonesia.

Syarat Utama Indef Agar Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Bukan Sekadar Angka

Indef menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi 5 persen hanya mungkin dicapai jika pemerintah berani melakukan koreksi pada sejumlah kebijakan yang selama ini dianggap kurang berpihak pada penguatan sektor riil. Bagi Indef, angka pertumbuhan bukan hanya hasil dari belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga, tetapi juga kualitas investasi, produktivitas industri, dan daya saing tenaga kerja.

Di satu sisi, pemerintah mengklaim ekonomi Indonesia masih tumbuh relatif kuat dibanding banyak negara lain. Namun di sisi lain, Indef menyoroti adanya gejala perlambatan di beberapa sektor kunci seperti industri manufaktur, perdagangan, dan konstruksi. Sektor sektor inilah yang selama ini menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja dan sumber pajak negara.

Menurut analis Indef, ada beberapa syarat mutlak yang perlu dipenuhi agar target pertumbuhan tidak berhenti di kisaran 4 koma sekian persen. Syarat tersebut meliputi reformasi kebijakan fiskal, keberlanjutan belanja pemerintah yang produktif, perbaikan iklim investasi, hingga penguatan daya beli masyarakat yang saat ini mulai tertekan oleh kenaikan harga dan stagnasi pendapatan.

> “Angka 5 persen bukan mustahil, tetapi tanpa perbaikan kebijakan struktural, kita hanya akan berputar di sekitar 4 persen dan itu artinya kualitas hidup banyak orang akan jalan di tempat.”

Tanggapan Purbaya Soal Pejabat Pajak Terjaring OTT KPK, Ada Bocoran Mengejutkan?

Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Konsumsi rumah tangga selama bertahun tahun menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam struktur PDB, porsi konsumsi rumah tangga mencapai lebih dari separuh total aktivitas ekonomi. Itulah mengapa setiap pembahasan mengenai pertumbuhan ekonomi 5 persen selalu kembali pada pertanyaan sederhana apakah masyarakat masih sanggup belanja.

Dalam beberapa triwulan terakhir, data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi tidak sekuat sebelumnya. Kenaikan harga bahan pokok, energi, dan biaya pendidikan terasa menekan ruang belanja masyarakat. Di sisi lain, pertumbuhan upah riil tidak bergerak secepat kenaikan biaya hidup, sehingga daya beli perlahan tergerus.

Pemerintah berupaya menjaga konsumsi melalui bantuan sosial, program subsidi, dan berbagai insentif. Namun Indef menilai pendekatan ini belum cukup jika tidak diiringi penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas dan berupah layak. Ketergantungan pada bantuan jangka pendek hanya akan membuat konsumsi rapuh, mudah goyah ketika terjadi guncangan eksternal.

Kebijakan pengendalian inflasi juga menjadi krusial. Jika harga pangan dan energi tidak stabil, rumah tangga akan mengalihkan belanja dari kebutuhan non esensial ke kebutuhan dasar, sehingga mengurangi sirkulasi uang di sektor lain seperti ritel modern, jasa, dan pariwisata. Pada titik inilah sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan barang.

Peran Konsumsi Kelas Menengah dalam Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Kelas menengah Indonesia selama ini dianggap sebagai mesin konsumsi yang mampu menggerakkan berbagai sektor, mulai dari properti, otomotif, hingga gaya hidup dan rekreasi. Dalam skenario pertumbuhan ekonomi 5 persen, kontribusi kelas menengah menjadi faktor penentu, sebab kelompok inilah yang memiliki ruang belanja lebih luas dibanding rumah tangga berpendapatan rendah.

267 Emiten Terancam Sanksi Gara-Gara Free Float 15 Persen

Namun Indef mengingatkan bahwa kelas menengah Indonesia juga sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Mereka cenderung menahan belanja ketika melihat sinyal pelemahan ekonomi, ancaman PHK, atau gejolak politik. Dalam kondisi seperti itu, preferensi berubah dari konsumsi ke tabungan dan investasi yang lebih aman, sehingga menurunkan laju perputaran uang di ekonomi domestik.

Pemerintah perlu menjaga kepercayaan kelas menengah melalui komunikasi kebijakan yang jelas, stabilitas regulasi, dan kepastian hukum. Selain itu, dukungan terhadap UMKM dan sektor informal yang menjadi sumber penghasilan banyak keluarga kelas menengah juga tidak bisa diabaikan. Jika kelas menengah merasa aman secara ekonomi, mereka cenderung melanjutkan konsumsi dan ini menjadi salah satu kunci untuk menjaga pertumbuhan di kisaran 5 persen.

Investasi dan Industri, Kunci yang Dianggap Lemah oleh Indef

Selain konsumsi, komponen investasi menjadi penentu penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi 5 persen secara berkelanjutan. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah menaruh harapan besar pada investasi, baik penanaman modal dalam negeri maupun asing. Berbagai regulasi disederhanakan, perizinan dipangkas, dan insentif fiskal diberikan untuk menarik investor.

Namun Indef menilai bahwa realisasi investasi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan penguatan sektor industri pengolahan. Sebagian investasi justru mengalir ke sektor yang kurang padat karya atau berorientasi ekstraktif seperti pertambangan dan properti. Sementara itu, industri manufaktur yang seharusnya menjadi motor industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja berketerampilan masih tertinggal.

Kondisi ini membuat struktur ekonomi Indonesia cenderung bertumpu pada komoditas dan konsumsi, bukan pada produksi bernilai tambah tinggi. Akibatnya, ketika harga komoditas global turun atau konsumsi domestik melemah, laju pertumbuhan ikut tertekan. Bagi Indef, tanpa penguatan industri pengolahan, target pertumbuhan di kisaran 5 persen akan sulit bertahan dalam jangka panjang.

Rotasi Pejabat Direktorat Jenderal Pajak, 50 Nama Dirombak Purbaya?

Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Butuh Lonjakan Investasi Produktif

Dalam pandangan Indef, investasi yang dibutuhkan bukan sekadar besar secara nominal, tetapi juga produktif dan memiliki efek berganda ke sektor lain. Pertumbuhan ekonomi 5 persen memerlukan investasi yang mendorong transfer teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan pengembangan rantai pasok domestik.

Indef menyoroti perlunya perbaikan iklim usaha yang lebih menyeluruh, tidak hanya di atas kertas. Masalah klasik seperti kepastian hukum, tumpang tindih regulasi, pungutan tidak resmi, hingga ketidakjelasan tata ruang masih menjadi keluhan pelaku usaha. Jika hambatan hambatan ini tidak diatasi, investor akan cenderung memilih sektor yang cepat balik modal meski kurang berdampak pada industrialisasi.

Selain itu, perbankan dan lembaga keuangan juga diharapkan lebih berani menyalurkan kredit ke sektor produktif, terutama manufaktur dan agribisnis modern. Selama ini, porsi kredit konsumsi dan perdagangan masih mendominasi, sementara pembiayaan jangka panjang untuk industri basis produksi belum optimal. Tanpa pembiayaan yang memadai, sulit berharap adanya lonjakan kapasitas produksi yang bisa mendorong pertumbuhan di kisaran 5 persen.

> “Investasi yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek tidak akan cukup. Yang dibutuhkan adalah investasi yang menanamkan akar industri di dalam negeri, bukan sekadar memanen pasar Indonesia.”

Belanja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal di Persimpangan Jalan

Peran pemerintah melalui belanja negara menjadi faktor lain yang diawasi ketat oleh Indef dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen. Dalam beberapa tahun terakhir, APBN berfungsi sebagai bantalan ketika ekonomi menghadapi tekanan eksternal, melalui belanja infrastruktur, bantuan sosial, dan subsidi energi.

Namun ruang fiskal pemerintah tidak lagi seleluasa sebelumnya. Penerimaan pajak masih menghadapi tantangan, sementara kebutuhan belanja terus meningkat, baik untuk infrastruktur, kesehatan, pendidikan, maupun pembayaran bunga utang. Di tengah keterbatasan ini, Indef menekankan pentingnya mengarahkan belanja negara pada sektor yang memiliki efek pengganda tinggi.

Belanja untuk pembangunan infrastruktur, misalnya, perlu diimbangi dengan kesiapan industri domestik agar proyek proyek tersebut tidak hanya menjadi ajang impor barang modal dan jasa. Sementara itu, belanja sosial harus dirancang agar tidak sekadar bersifat karitatif, tetapi mampu mendorong produktivitas, seperti melalui program pelatihan kerja, peningkatan keterampilan digital, dan dukungan bagi wirausaha baru.

Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen dan Tantangan Penguatan Penerimaan Pajak

Salah satu sorotan Indef adalah masih lemahnya basis penerimaan pajak. Rasio pajak terhadap PDB Indonesia tergolong rendah dibanding banyak negara lain di kawasan. Padahal, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 5 persen yang berkualitas, negara membutuhkan sumber daya fiskal yang cukup guna membiayai layanan publik, infrastruktur, dan program pengentasan kemiskinan.

Upaya reformasi perpajakan sudah berjalan, termasuk digitalisasi sistem, perluasan basis pajak, dan penertiban wajib pajak besar. Namun Indef mengingatkan bahwa peningkatan penerimaan tidak boleh dilakukan dengan cara yang menambah beban berlebihan bagi dunia usaha yang sedang berjuang pulih. Pendekatan yang lebih adil dan transparan menjadi kunci agar kepatuhan pajak meningkat tanpa mematikan aktivitas ekonomi.

Indef juga mendorong perbaikan tata kelola belanja negara, agar setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan hasil maksimal. Isu efisiensi, kebocoran anggaran, dan proyek yang tidak tepat sasaran masih menjadi pekerjaan rumah. Jika tata kelola membaik, kepercayaan publik dan pelaku usaha terhadap kebijakan fiskal akan meningkat, dan pada akhirnya mendukung target pertumbuhan.

Tantangan Global yang Membayangi Target Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Di luar faktor domestik, Indef mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5 persen juga sangat dipengaruhi dinamika global. Perlambatan ekonomi di negara negara maju, perubahan kebijakan suku bunga bank sentral dunia, hingga ketegangan geopolitik mempengaruhi arus perdagangan, investasi, dan nilai tukar.

Indonesia sebagai negara yang terintegrasi dengan ekonomi global tidak bisa menghindar dari imbas tersebut. Pelemahan permintaan global dapat menekan ekspor, terutama komoditas andalan seperti batu bara, kelapa sawit, dan produk logam. Sementara itu, volatilitas nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan industri.

Indef menilai bahwa ketahanan ekonomi domestik harus diperkuat untuk menghadapi guncangan eksternal. Diversifikasi ekspor, pengembangan industri hilir, dan perluasan pasar ke negara negara berkembang menjadi strategi yang sering disorot. Selain itu, pengelolaan utang luar negeri dan cadangan devisa harus dilakukan secara hati hati agar stabilitas makro tetap terjaga meski lingkungan global berubah cepat.

Strategi Menjaga Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen di Tengah Ketidakpastian

Dalam kerangka pertumbuhan ekonomi 5 persen, strategi kebijakan tidak bisa hanya reaktif terhadap gejolak jangka pendek. Indef mendorong adanya peta jalan yang lebih jelas tentang arah industrialisasi, transformasi digital, dan pengembangan sumber daya manusia. Tanpa visi jangka menengah dan panjang yang konsisten, kebijakan mudah berubah mengikuti tekanan sesaat dan sulit menghasilkan lompatan pertumbuhan.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan lembaga riset seperti Indef menjadi penting untuk merumuskan strategi yang realistis namun ambisius. Data dan analisis yang tajam diperlukan agar kebijakan tidak hanya berbasis asumsi, tetapi juga pada kondisi objektif di lapangan. Di saat yang sama, komunikasi kebijakan yang transparan akan membantu membangun kepercayaan pelaku pasar.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai syarat syarat yang diungkap Indef untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen mencerminkan satu hal bahwa angka pertumbuhan bukan hanya soal statistik, melainkan cerminan kualitas kebijakan dan keberanian untuk melakukan pembenahan struktural yang selama ini kerap tertunda.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *