Cara Hitung Price Earning Ratio Untuk Investasi Saham Menjanjikan

Cara Hitung Price Earning Ratio Untuk Investasi Saham Menjanjikan

Kesuksesan sebuah perusahaan bisa dari berbagai faktor, mulai dari peran serta digital marketing dengan segala strategi marketingnya hingga keberadaan investor. Investor perlu menganalisis proses pengembangan bisnis sebagai bentuk pertimbangan membeli saham di perusahaan Anda apakah aman atau tidak. Oleh karena itu, Anda perlu membantu investor untuk mengetahui besaran proporsi keuntungan, biaya produksi dan hutang perusahaan dengan menggunakan hitungan price earning ratio.

Bukan hanya untuk investor, hitungan rasio keuangan ini juga akan membantu perusahaan untuk mengukur seberapa layak perusahaan mendapatkan pasar saham. Dengan begitu, Anda bisa menerapkan berbagai perencanaan bisnis terbaik dalam hal penjualan dan operasi di masa depan.

Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap konsep dasar price earning ratio dan bagaimana cara menghitung rasio dengan benar yang perlu Anda ketahui.

Apa Itu Price Earning Ratio?

Apa Itu Price Earning Ratio?

Price earning ratio atau PER adalah rasio untuk investor menilai perusahaan dengan mengukur apakah harga saham perusahaan saat ini sesuai dengan laba per sahamnya (Earning Per Share). Price earning ratio kadang-kadang juga dikenal sebagai price multiple atau earning multiple.

Seperti penjelasan di awal artikel, PER digunakan oleh investor dan business analysts untuk menentukan nilai relatif saham perusahaan dengan perbandingan apple-to-apple. Metrik rasio keuangan ini juga dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan dengan catatan financial statement sendiri atau untuk membandingkan pasar agregat satu sama lain dari waktu ke waktu.

PER yang tinggi dapat berarti bahwa harga saham perusahaan relatif tinggi terhadap pendapatan. Sebaliknya, PER yang rendah mungkin mengindikasikan bahwa harga saham saat ini relatif rendah karena perusahaan mengalami kerugian atau tidak mendapatkan pendapatan.

Price earning ratio dapat digolongkan berdasarkan trailing (backward-looking) atau forward (projected). Setelah ini kita akan membahasnya lebih detail.

Baca Juga:

digital marketing agency

1. Forward Price Earning Ratio

Kedua jenis metrik earning per share yang masuk ke dalam jenis price earning ratio paling umum adalah trailing (backward-looking) dan forward (projected). Variasi ketiganya menggunakan jumlah dari keuntungan saham perusahaan per dua kuartal terakhir dan perkiraan dua kuartal berikutnya.

Forward PER menggunakan panduan pendapatan masa depan daripada angka tambahan yang kadang-kadang hal ini disebut “estimated PER”.

Indikator ini berguna untuk membandingkan pendapatan saat ini dengan pendapatan masa depan. Selain itu juga membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang seperti apa pendapatan perusahaan nantinya, tanpa perubahan dan penyesuaian akuntansi lainnya.

2. Trailing Price Earning Ratio

Trailing PER sendiri bergantung pada performa perusahaan di masa lalu yang mana membagi harga saham saat ini dengan total pendapatan EPS selama 12 bulan terakhir. Metrik ini adalah metrik PER yang paling populer karena paling objektif, dengan asumsi bahwa perusahaan melaporkan pendapatannya secara akurat.

Beberapa investor lebih suka melihat trailing PER karena mereka tidak mempercayai perkiraan pendapatan perusahaan lain. Tapi, metrik trailing PER juga memiliki kelemahan, yaitu perorma masa lalu perusahaan yang tidak menandakan perilaku perusahaan masa depan.

Oleh karena itu, investor harus menginvestasikan uangnya berdasarkan kekuatan pendapatan (earning power) di masa depan, bukan masa lalu. Fakta bahwa angka EPS bernilai tetap namun harga saham berfluktuasi membuat hal ini juga menjadi masalah baru bagi investor. Jika aktivitas perusahaan besar mendorong harga saham secara signifikan lebih tinggi atau lebih rendah, trailing PER akan kurang mencerminkan perubahan masalah tersebut.

Trailing PER akan mengalami perubahan seiring pergerakan harga saham karena pendapatan hanya akan dirilis setiap kuartal selama saham diperdagangkan tiap hari. Akibatnya, beberapa investor lebih memilih forward PER.

Jika forward PER lebih rendah dari trailing PER , itu berarti analysts memperkirakan pendapatan akan meningkat. Sedangkan bila forward PER lebih tinggi dari PER saat ini, analysts memperkirakannya akan menurun sehingga volatilitasnya tinggi dan nilai saham terlalu tinggi (overvalued).

Baca Juga:

Cara Menghitung PER

Cara Menghitung PER

Penghitungan PER melibatkan dua komponen hitungan saham, yaitu nilai pasar per saham dan EPS. Untuk menentukan nilai PER, Anda cukup membagi harga saham saat ini dengan laba per saham (EPS). Berikut ini detail rumusnya.

PER = nilai pasar per saham / EPS

Anda juga bisa mengganti nilai pasar per saham dengan nilai closing price yang Anda miliki.

Harga saham saat ini (P) dapat Anda temukan hanya dengan memasukkan simbol ticker saham ke website keuangan mana pun. Meskipun nilai konkret ini mencerminkan apa yang harus investor bayar saat ini untuk sebuah saham, EPS adalah angka yang sedikit lebih samar.

Untuk menghitung EPS, Anda bisa menggunakan rumus:

EPS = laba bersih-dividen / jumlah lembar saham

Supaya Anda lebih paham, kami beri contoh sederhananya.

Misalkan perusahaan Anda memiliki nilai per saham Rp 2.000.000 per 1 Februari 2021. Di samping itu, laba per saham (EPS) perusahaan untuk tahun fiskal yang berakhir pada 31 Januari 2021 sebesar Rp 1000. Sehingga, nilai PER perusahaan Anda adalah:

PER = 2.000.000 / 1000 = 2.000

Bila dibaca secara deskriptif, investor akan membayar Rp 2.000 untuk setiap Rp 1 penghasilan perusahaan. Sampai sini penjelasan price earning ratio mudah dipahami, bukan?

Kenapa Harus Menghitung PER?

Investor ingin membeli sahar perusahaan yang sehat secara finansial sehingga dapat menjamin return on investment (ROI) yang baik. Di antara banyak metrik rasio, PER adalah bagian dari proses penelitian dalam memilih saham. Sebab, investor dan Anda sebagai permilik perusahaan dapat mengetahui apakah investor mampu membayar harga saham yang wajar.

Antar perusahaan kompetitor dalam industri yang sama akan dikelompokkan bersama untuk perbandingan, terlepas dari harga saham yang bervariasi. Selain itu, PER bersifat cepat dan penggunaan yang mudah saat investor akan mencoba menilai perusahaan Anda menggunakan nilai pendapatan.

Dengan begitu, ketika Anda dan investor menemukan nilai PER tinggi atau rendah, maka Anda dapat menilai saham atau perusahaan apa yang investor hadapi dengan cepat.

Berdasarkan penjelasan di atas, price earning ratio yang tinggi menunjukkan bahwa investor mengharapkan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi di masa depan daripada perusahaan dengan PER yang lebih rendah. PER yang rendah dapat mengindikasikan bahwa suatu perusahaan saat ini mungkin undervalued atau perusahaan berkinerja sangat baik daripada tren masa lalunya.

Ketika sebuah perusahaan tidak memiliki pendapatan atau menyatakan kerugian, PER akan dinyatakan sebagai N/A. Meskipun ada kemungkinan untuk menghitung PER negatif, tapi cara ini bukan konvensi umum.

Namun, tidak ada satu konsep rasio yang dapat memberi tahu investor tentang semua langkah yang perlu mereka ketahui tentang saham. Para investor perlu menggunakan berbagai rasio untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang kesehatan keuangan perusahaan dan penilaian sahamnya.

Sebab, setiap investor menginginkan keunggulan dalam memprediksi masa depan perusahaan (business forecast). Sebagai pemilik bisnis, Anda harus mengetahui besaran proporsi keuntungan, biaya produksi, dan hutang perusahaan dalam sebuah financial report atau statement yang transparan. Tujuannya agar investor tahu apakah perusahaan Anda berprofit di pasar saham atau tidak.

Baca Juga:

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.