Product Strategy : Bentuk, Elemen, dan Panduan Cara Membuatnya

product strategy

Dalam proses product development, menyusun perencanaan dan strategi menjadi bagian penting yang harus perusahaan perhatikan. Sebab, pada dasarnya strategi produk atau product strategy ini merupakan fondasi untuk kesuksesan pengembangan produk.

Dengan strategi dan perencanaan yang matang, maka perusahaan bisa menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar (market orientation) serta bersifat customer oriented (customer centric). Hasilnya, produk akan memiliki nilai lebih di pasar (product value) dan perusahaan pun bisa menjadikannya sebagai ujung tombak proses penjualan (product-led growth).

Dengan menjual produk yang menawarkan value based seperti ini, maka kesempatan perusahaan untuk meningkatkan sales growth dan profit pun juga akan meningkat. Lantas, bagaimana cara membuat strategi produk yang efektif?

Apa Itu Product Strategy?

Melansir dari Startups, strategi produk atau product strategy adalah tujuan dan target perusahaan yang ingin tercapai melalui rencana teknis.

Sekilas, strategi produk ini hampir serupa dengan product roadmap. Akan tetapi, sejatinya roadmap produk merupakan pengembangan dari strategi produk itu sendiri.

Ini karena strategi produk menjadi fondasi atau dasar utama dalam pembuatan dan pengembangan produk. Sehingga tanpa adanya strategi, maka proses product development pun tidak akan dapat terealisasikan dengan sempurna sesuai permintaan (demand) dari target pasar.

Strategi produk sendiri umumnya berbentuk dokumen yang disusun sesuai kebutuhan dan kualitas sumber daya perusahaan. Beberapa bentuk dari strategi produk ini antara lain:

  • Positioning : Yakni cara perusahaan membentuk brand image atau citra dan reputasi merek agar berkesan di mata sales lead (prospek) maupun pelanggan. Tujuannya agar posisi produk perusahaan lebih menonjol atau unggul ketimbang milik kompetitor di pasar (market positioning).
  • Overlapping : Strategi ini lebih mengacu pada cara marketer untuk memunculkan persaingan antara produk baru dengan produk yang sudah ada. Tujuannya adalah untuk meningkatkan volume penjualan (sales growth) dan demand generation.
  • Differentiation : Yaitu membuat masing-masing produk terkesan unik (memiliki unique selling point). Dengan begitu, pelanggan akan lebih tertarik untuk mencoba setiap produk.
  • Elimination : Strategi ini bisa perusahaan terapkan dengan memangkas atau mengeliminasi beberapa produk yang sudah diluncurkan. Biasanya karena produk tersebut sudah tidak memberikan profit yang signifikan. Tujuannya adalah untuk menjaga kondisi finansial perusahaan.
  • Product Design : Merupakan rancangan tampilan produk, mulai dari logo hingga packaging-nya. Tujuannya adalah menjadi lead magnet. Sebab dengan desain produk yang menarik, pelanggan akan lebih mudah untuk tertarik mencobanya.
  • Produk Baru : Strategi ini sangat efektif untuk perusahaan yang ingin memenuhi kebutuhan pelanggan, seiring dengan perkembangan zaman. Biasanya, strategi ini memanfaatkan hal-hal yang sedang viral untuk memancing perhatian. Produk baru ini tidak menggantikan produk lama, namun lebih cenderung bersifat sebagai pelengkap saja.

Baca Juga :

Elemen Product Strategy

elemen product strategy

Setelah mengetahui definisi dan bentuk-bentuk dari strategi produk, kini Anda perlu memahami elemen apa saja yang perlu dalam pembuatannya. Sebab elemen-elemen ini menjadi kunci utama yang memengaruhi keberhasilan suatu produk.

Sejatinya, setiap perusahaan bisa memiliki elemen strategi produk yang berbeda. Sesuai dengan niche bisnis, industri, maupun lingkungan bisnis secara keseluruhan. Namun, melansir dari HubSpot, secara umum berikut ini adalah elemen utama dalam pembuatan strategi produk yang efektif :

1. Tujuan dan Target Bisnis Perusahaan

Setiap perusahaan pastinya memiliki tujuan dan target bisnis yang ingin mereka capai. Begitu pula dalam pembuatan sebuah produk.

Apa yang ingin perusahaan berikan pada pelanggan melalui produk tersebut? Untuk apa mengembangkan produk tersebut? Solusi apa yang bisa produk tersebut selesaikan?

Inilah pertanyaan-pertanyaan utama yang harus terjawab untuk menyusun strategi produk. Menentukan tujuan pembuatan produk menjadi kunci utama bagaimana produk tersebut nantinya akan dikembangkan. Misalnya, pembuatan software CRM yang berguna untuk merampingkan proses bisnis.

2. Target Pasar

Elemen kedua adalah audiens atau target pasar dari produk tersebut. Untuk itu, Anda perlu melakukan market research atau riset pasar guna mengidentifikasi siapa sasaran pelanggan yang ingin Anda jangkau.

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan. Misalnya dengan membuat user persona, buyer persona, atau customer value proposition (CVP), kemudian mencocokkannya dengan customer data yang perusahaan miliki. Carilah kelompok pelanggan yang sesuai dengan kriteria tersebut. Analisis apakah produk Anda sesuai dengan kebutuhan dan mampu mengatasi customer pain point yang mereka miliki.

Untuk mengumpulkan informasi mengenai pelanggan ini, maka Anda perlu membuat daftar prospek dalam proses lead management sebelumnya. Kemudian buatlah grading atau lead scoring untuk mengetahui mana prospek yang sekiranya paling potensial.

3. Kondisi Pasar (Market Condition)

Elemen ketiga adalah kondisi pasar. Sebelum meluncurkan sebuah produk (product launch), maka perusahaan wajib memantau dan menganalisis kondisi pasar terlebih dahulu guna menyusun strategi.

Kondisi pasar ini meliputi seberapa besar tingkat persaingan dengan kompetitor, kesempatan untuk mengambil posisi di market share (pangsa pasar), hingga potensi market development kedepannya.

Hal-hal yang perlu Anda lakukan adalah menganalisis kompetitor (competitive analysis) untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka, menganalisis porter five forces, hingga menentukan strategi marketing campaign yang paling efektif.

Baca Juga :

4. Pricing Strategy

Elemen strategi produk selanjutnya adalah menentukan harga atau menyusun pricing strategy. Tak dapat kita pungkiri bahwa strategi penentuan harga ini memegang peranan penting dalam semua bisnis. Sebab apabila penentuan harga tidak tepat, maka perusahaan bisa saja mengalami kerugian.

Misalnya tidak berhasil mengembalikan biaya operasi, total biaya produksi (cost of goods), bahkan bisa berisiko mengalami kerugian total (pure risk). Maka dari itu, untuk mengelola risiko ini, perusahaan wajib menentukan harga yang tepat.

Hitunglah berapa biaya yang perusahaan keluarkan untuk memproduksi suatu produk, kemudian tentukan margin keuntungan yang ingin perusahaan raih dan lakukan analisis CBA.

Selain itu, lakukan analisis harga di pasar agar produk Anda mampu bersaing dengan milik kompetitor. Lakukan pula sales forecasting serta financial forecasting untuk memperkirakan keuntungan dan kondisi keuangan perusahaan kedepannya.

5. Tetapkan Target Teknis

Elemen ini berbeda dengan tujuan dan target bisnis seperti poin pertama. Meskipun sudah memiliki visi misi dari produk, namun perusahaan tetap butuh target teknis.

Untuk mencapainya, maka Anda perlu menggunakan indikator atau metrik performa bisnis (business metrics) yang ingin dicapai. Misalnya dengan melibatkan target angka dan durasi tertentu. Contohnya adalah meningkatkan angka penjualan hingga 20% di kuartal terakhir tahun 2022.

6. Value Proposition

Elemen keenam dalam strategi produk adalah value proposition produk itu sendiri. Tujuannya adalah agar dapat menjelaskan mengapa pelanggan memilih produk tersebut ketimbang produk lainnya di pasar.

Untuk membuat value proposition yang efektif, maka perusahaan perlu menguraikannya dalam bentuk VPC (value proposition canvas) yang mencakup beberapa poin. Gunanya adalah untuk menciptakan strategi marketing yang lebih efektif, serta mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dengan lebih rinci.

7. Timeline

Elemen terakhir adalah timeline. Sebab, product strategy akan menjadi lebih efektif ketika memiliki garis waktu secara terstruktur untuk mencapai tujuan bisnis.

Sesuai dengan fungsinya, elemen ini harus mampu mengidentifikasi jadwal dan durasi setiap tahapan dari proses pengembangan produk. Tujuannya adalah untuk memudahkan perusahaan dalam merencanakan business process dengan lebih efektif, sehingga bisa meminimalisir biaya operasional.

Baca Juga :

Cara Membuat Produk Strategy

cara membuat product strategy

Pada dasarnya, merancang sebuah strategi produk yang efektif memang bukanlah hal yang gampang. Selain harus memahami semua elemen dengan baik, Anda juga perlu menerapkan langkah-langkah tertentu. Antara lain:

1. Identifikasi Target Pasar

Langkah pertama dalam membuat strategi produk adalah mengidentifikasi siapa target pasar Anda. Sebab pada dasarnya, perusahaan memang menciptakan sebuah produk untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar dan menciptakan customer satisfaction. Sehingga sebelum membuat strategi produk, pastikan Anda sudah memahami benar apa yang tagret pasar Anda butuhkan.

2. Menentukan Visi Produk

Langkah kedua adalah menentukan tujuan pembuatan produk tersebut. Karena product strategy mendefinisikan perjalanan produk, maka Anda harus memiliki visi atau tujuan yang jelas. Selain itu, visi produk yang terdefinisikan dengan baik ini juga bisa menjadi north star metrics bagi perusahaan.

3. Fokus pada Product Value

Tentunya tidak ada perusahaan yang ingin menciptakan produk gagal, bukan? Nah, maka dari itu fokuslah pada nilai dan kualitas yang produk Anda tawarkan.

Pastikan produk tersebut menjadi solusi atas apa yang target pelanggan Anda butuhkan. Dengan begitu, pelanggan akan lebih mudah tertarik untuk menggunakannya berkat manfaat yang akan mereka dapatkan dari produk tersebut (customer value).

4. Tetapkan Metrik atau Indikator Keberhasilan

Langkah terakhir adalah dengan menetapkan metrik atau indikator keberhasilan suatu business process. Metrik ini berfungsi sebagai tolok ukur untuk mengukur seberapa efektif strategi yang Anda ciptakan. Anda bisa menggunakan KPI atau OKR sebagai metrik untuk mengukur kinerjanya.

Demikian adalah ulasan mengenai product strategy, elemen, beserta cara membuatnya. Pada dasarnya, strategi produk merupakan bagian penting yang dapat membantu kesuksesan dan kelangsungan bisnis (business continuity). Sebab, strategi ini tak hanya menjelaskan bagaimana suatu produk akan diproduksi, melainkan juga mempertimbangkan aspek jangka panjang dari pembuatan produk tersebut.

Baca Juga :