Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) dan Cara Menghitungnya

rasio profitabilitas

Setiap perusahaan pastinya memiliki tujuan dan target yang ingin tercapai. Namun, tentunya semua bisnis menginginkan keuntungan atau profit dari setiap business process (proses bisnis) yang dilakukan. Inilah sebabnya, menghitung rasio profitabilitas menjadi hal penting yang wajib setiap perusahaan perhatikan.

Istilah profit sendiri memang sudah tidak asing di telinga. Setiap niche bisnis dalam berbagai skala pun pastinya memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tidak ada satu pun perusahaan yang ingin mendapatkan keuntungan lebih rendah dari total biaya yang mereka keluarkan untuk operasional bisnis.

Nah, di sinilah rasio profitabilitas berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas kepemilikan aset dan investasi. Lalu, bagaimana cara mengukurnya untuk mengetahui rasio keuntungan yang perusahaan dapatkan?

Apa Itu Rasio Profitabilitas?

Melansir dari Investopedia, profitability ratio atau rasio profitabilitas adalah perhitungan yang perusahaan gunakan untuk mengetahui dan mengukur kemampuan dalam menghasilkan laba pada periode tertentu.

Rasio keuntungan ini umumnya akan berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan bisnis (business growth) dan growth rate. Baik dalam jangka tahunan (Compound Annual Growth Rate) maupun periode tertentu. Apabila laju pertumbuhan dan return rate menunjukkan hasil positif, maka artinya perusahaan juga mendapatkan rasio keuntungan yang positif pula.

Rasio ini bisa menjadi salah satu business metrics atau metrik performa bisnis untuk mengukur kinerja perusahaan. Dengan menghitung rasio keuntungan, maka perusahaan memiliki bahan evaluasi yang menunjukkan apakah bisnis tersebut telah dikelola secara optimal.

Semakin tinggi nilai rasio, maka artinya semakin baik pula performa perusahaan tersebut.

Manfaat Menghitung Rasio Profitabilitas

Sebagaimana pemaparan di atas, rasio ini berfungsi sebagai metrik untuk mengetahui seberapa baik performa perusahaan dalam meraih laba dan revenue bisnis. Selain itu, perhitungan profitability ratio ini juga dapat memberikan sejumlah manfaat lainnya. Yaitu:

Baca Juga :

Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas

Pada dasarnya, profitability ratio terdiri atas 2 jenis, yakni rasio margin serta rasio pengembalian. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan kedua jenis rasio keuntungan tersebut berikut ini:

1. Rasio Margin

Jenis profitability ratio ini menjelaskan kapasitas perusahaan dalam mengubah jumlah penjualan dalam setiap sales process menjadi laba bisnis pada berbagai pengukuran. Contohnya adalah margin laba operasi, laba kotor, margin laba bersih, margin cash flow, margin rasio overhead, dan lain sebagainya

2. Rasio Pengembalian

Berbeda dari rasio margin, rasio pengembalian menjelaskan kemampuan perusahaan untuk memastikan pemegang saham atau investor mendapatkan pengembalian atas investasi yang mereka lakukan (return on investment). Contohnya adalah laba ekuitas, pengembalian aset, pengembalian utang, laba atas modal investasi, laba atas pendapatan, dan lain sebagainya.

Rasio Profitabilitas yang Paling Populer

jenis rasio profitabilitas

Setelah mengetahui 2 jenis utama dari rasio keuntungan, maka Anda juga perlu mengetahui jenis-jenis profitability ratio yang paling sering digunakan dalam bisnis. Apa saja?

1. Gross Profit Ratio

Yang pertama adalah gross profit ratio. Yaitu matriks yang membandingkan laba kotor dalam kegiatan operasional terhadap pendapatan siklus penjualan. Untuk menghitung gross profit ratio, Anda perlu membandingkan laba dengan penggunaan biaya produksi (cost of goods sold).

Apabila hasil gross profit ratio memiliki nilai tinggi, maka artinya pendapatan penjualan masih mampu menutupi biaya produksi, serta membayar dividen kepada pemegang saham.

Rumus untuk menghitung gross profit ratio adalah:

Gross Profit Ratio = Laba Kotor / Pendapatan Penjualan

2. Operating Ratio Margin

Margin keuntungan operasional menunjukkan pendapatan perusahaan sebagai persentase dari nilai penjualan, sebelum pembayaran bunga dan pajak penghasilan.

Dengan perhitungan ini, perusahaan tampak dalam pembayaran biaya produksi tetap dan bunga. Sekaligus berpotensi menawarkan produknya dengan harga (pricing) yang lebih terjangkau.

3. EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortisation)

Sesuai dengan namanya, jenis profitability ratio adalah kapasitas perusahaan sebelum pembayaran variabel-variabel EBITDA (pendapatan sebelum pembayaran bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi).

4. Cash Flow Margin

Merupakan korelasi antara arus kas (cashflow) dari kegiatan penjualan dan operasional. Dengan kata lain, cash flow margin ini menggambarkan kapasitas perusahaan dalam mengubah penjualan menjadi kas. Sehingga, semakin tinggi besaran persentase arus kas, maka akan semakin banyak uang kas perusahaan untuk membayar utang hingga pembelian aset.

Baca Juga :

5. Net Profit Margin (NPM)

Merupakan margin laba bersih yang berguna untuk mengukur keuntungan bersih perusahaan dan membaginya dengan total pendapatan. Hasil perhitungan NPM ini akan menggambarkan seberapa profitable suatu perusahaan setelah menghitung semua pengeluaran termasuk pajak dan utang.

Cara menghitung rasio profitabilitas net profit margin adalah:

NPM = 1 – (Beban / Penjualan Netto)

6. Return on Equity (ROE)

Berikutnya adalah ROE atau perhitungan rasio pengembalian terhadap ekuitas pemegang saham. Bagi investor, ROE berguna untuk mengetahui seberapa menguntungkannya investasi saham di sebuah perusahaan. 

Cara menghitung return on equity adalah:

ROE = Laba Bersih Setelah Pembayaran Pajak / Ekuitas Pemegang Saham

7. Return on Invested Capital (ROIC)

Merupakan nilai return atau pengembalian dari pemegang obligasi dan saham. Untuk mendapatkan nilai ROIC, Anda dapat menghitungnya dengan menggunakan rumus berikut ini:

ROIC = (Pendapatan Netto – Dividen) / Invested Capital

8. Return on Assets (ROA)

Merupakan tingkat pengembalian aset atau persentase laba bersih terhadap total aset yang perusahaan miliki. Dengan menghitung ROA, maka perusahaan dapat mengetahui jumlah laba setelah pembayaran pajak relatif terhadap nilai aset yang dimiliki. 

Cara menghitung return on assets adalah:

ROA = Pendapatan Bersih / Total Aset

Contoh Perhitungan Rasio Profitabilitas

Untuk memperdalam pemahaman Anda, berikut ini adalah contoh perhitungan profitability ratio yang bisa Anda pelajari.

Misalnya sebuah bisnis memperoleh pendapatan sebesar Rp10 juta dalam waktu satu bulan. Pada bulan lalu, bisnis tersebut menganggarkan biaya Rp5 juta untuk menutupi keperluan bisnis. Lalu, berapa NPM (Net Profit Margin) dari bisnis tersebut?

NPM = 1 – (Beban / Penjualan Netto)

Maka :

NPM = 1 – (Rp5 juta / Rp10 juta) = 1 – 0.5 = 0.5

Dari perhitungan tersebut, dapat kita ketahui bahwa nilai NPM dari bisnis tersebut adalah sebesar 0.5 atau 50%.

Demikian adalah ulasan mengenai apa itu rasio profitabilitas, manfaat, jenis, dan contoh perhitungannya. Pada dasarnya, dengan menghitung rasio ini, perusahaan dapat memanfaatkannya sebagai bahan untuk evaluasi bisnis. Dengan begitu, perusahaan akan mendapatkan insight yang bermanfaat untuk proses pengembangan dan kelangsungan bisnis (business continuity) di masa depan.

Selain menghitung rasio profitabilitas, Anda juga bisa menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis Anda. Beberapa strategi yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin tumbuh besar.

Baca Juga :