Contoh dan Manfaat Telling Story untuk User Experience

telling story untuk user experience

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak bisa lepas dari cerita. Entah itu cerita pengalaman pribadi atau orang lain. Dalam User Experience (UX) kita dapat menerapkan sebuah cerita. Istilah ini dikenal dengan telling story untuk user experience.

Pada dasarnya, cerita untuk tampilan UX ini memang sangat berguna untuk seorang desainer produk. Terutama dalam meningkatkan pengalaman pengguna, bagaimana hal ini bisa terjadi? Melalui ulasan di bawah ini, yuk simak mengenai telling story untuk UX.

Mengenal Telling Story untuk User Experience (UX)

Sebelum membahas mengenai telling story UX, sebaiknya ketahui terlebih dahulu tugas dasar seorang desainer produk. Hal ini penting untuk kita ketahui untuk memberikan gambaran tentang penerapan User Experience.

Pada dasarnya, seorang desainer produk memiliki tanggung jawab untuk memahami pengguna. Jadi, Anda harus tahu hal apa saja yang diharapkan pengguna. Temukan masalah atau kendala yang sering mereka hadapi. Caranya bisa dengan melakukan riset pasar terlebih dahulu.

Jika masalah pengguna telah Anda temukan. Kemudian desainer akan membuat sebuah produk. Design thinking adalah istilah untuk proses pembuatan produk dari sebuah masalah yang terjadi.

Jadi dalam proses pembuatan produk ini, Anda tidak boleh melewatkan pemahaman tentang kebutuhan pengguna.

Ketika Anda salah memahami kebutuhan pengguna. Maka produk yang Anda buat bisa tidak tepat sasaran. Karena itu Anda harus melakukan serangkaian riset terlebih dahulu.

Namun, hasil penelitian yang Anda lakukan biasanya akan berbentuk data. Anda akan mendapatkan data dalam jumlah besar yang abstrak, cukup rumit dan tidak mudah untuk dipahami.

Jika sudah begini, maka yang Anda butuhkan adalah penggambaran yang akurat dan singkat. Telling story menjadi salah satu solusi yang tepat dalam hal ini. Anda bisa menyimpulkan perilaku pengguna secara lebih jelas.

Baca Juga :

Contoh Telling Story untuk User Experience

Telling story untuk UX akan menciptakan sebuah cerita yang berkaitan dengan perilaku pengguna. Hal ini bisa terlihat jelas seperti contoh telling story berikut ini.

Jika produk yang akan kita desain adalah Dompet digital/E-Wallet. Berikut contoh telling story-nya :

“Hari ini hari yang cukup menyebalkan untuk Andi. Wajahnya didera kebingungan sambil sesekali menghela nafas. Lebih dari 10 menit ia menghabiskan waktu meraba-raba kantong dan memeriksa ulang tasnya.

Usut punya usut, ternyata ia menyadari ada barang penting yang hilang. Di dalamnya bukan hanya sekedar struk belanja. Namun, beberapa lembar uang tunai dan kartu-kartu penting. Satu-satunya benda yang tersisa di tas kecilnya hanya sebuah smartphone. Kini wajah Andi terlihat pasrah dan mencoba mengikhlaskan kecerobohannya yang membuat barangnya hilang.”

Melalui cerita fiksi tersebut, Anda bisa menawarkan sebuah produk yang menjadi solusi bagi pengguna. Dalam hal ini adalah Andi yang mengalami permasalahan seperti di atas. Ia tidak perlu khawatir lagi kehilangan dompet seperti kasus sebelumnya.

Semua masalah Andi bisa teratasi dengan penggunaan e-Wallet melalui smartphone miliknya.

Adapun pengalaman Andi tersebut akhirnya bisa menjadi sebuah user persona. Artinya, desainer produk bisa memahami kebutuhan pengguna secara tepat.

Manfaat Telling Story untuk User Experience

manfaat telling story untuk user experience

Kami sudah menjelaskan tentang fungsi dari telling story. Yaitu untuk memudahkan kita, terutama desainer produk untuk memahami kebutuhan pengguna.

Ada beberapa manfaat lain dari penggunaan telling story untuk user experience, seperti :

1. Memicu Pikiran untuk Menemukan Solusi

Pada dasarnya, desain produk yang tepat dapat menyelesaikan masalah pengguna. Ketika pikiran kita memikirkan solusi, maka jangan remehkan kekuatan imajinasi.

Agar Anda dapat mudah memahaminya, silahkan simak contoh deskripsi user menggunakan aplikasi transportasi.

Adapun contoh berikut ini merupakan cerita yang mendeskripsikan data:

“X adalah kota metropolitan yang mayoritas penduduknya adalah pekerja kantoran. Kebisingan dan kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah. Mereka tetap harus melewatinya demi mendapatkan gaji dan mengembangkan karier.

Mereka banyak yang rela untuk berangkat jam 6 pagi agar bisa kebagian naik kereta. Telat sedikit saja, maka ketinggalan kereta menuju kantornya karena sudah terisi penuh.”

Sedangkan di bawah ini merupakan cerita serupa yang sudah menggunakan telling story untuk user experience:

“Matahari belum menunjukkan sinarnya dengan sempurna, sedangkan Arya sudah bangun dan bersiap-siap berangkat mencari nafkah. Bukanlah sebuah pilihan baginya hidup di tengah kejamnya ibukota.

Waktu menunjukkan pukul 06.00, ia sudah sampai di stasiun untuk menunggu kereta yang akan melewati kantornya. Aktivitas seperti ini sudah Dia lalui selama 2 tahun terakhir. Padahal, jam masuk kerjanya adalah jam 08.00.

Jika Arya berangkat melebihi jam 6 pagi, maka Dia bisa ketinggalan kereta. Maka ia selalu berusaha berangkat tidak lebih dari jam 6 pagi. Ia ingin menunjukkan performa yang bagus dalam bekerja, termasuk dalam hal absensi di kantor. Jika berangkat kerja saja telat, bagaimana ia bisa mendapatkan promosi jabatan?”

Contoh ilustrasi yang kedua ini lebih mengunggah seseorang untuk berimajinasi. Melalui permasalahan yang dialami Arya, pengguna lain pun bisa memahaminya.

Pertanyaannya, bagaimana kehadiran sebuah produk digital bisa menjadi solusi? Fitur dan kelebihan apa saja yang bisa menjadi solusi permasalahan pengguna? Pada dasarnya, hal tersebut bisa terjawab jika masalah digambarkan melalui cerita.

Baca Juga :

2. Berguna untuk Tim Lainnya

Telling story memang sangat membantu desainer produk dalam menciptakan produk itu sendiri. Namun, kenyataannya ternyata lebih dari itu. Cerita yang ditawarkan bisa dengan mudah dipahami untuk tim lainnya.

Adapun dalam ilustrasi atau cerita di atas, Anda bisa melihat beberapa point penting. Misalnya gambaran perilaku, reaksi, emosi, motivasi, dan tujuan. Melalui kisah fiksi namun cukup relate di atas, maka kebutuhan pengguna bisa tergambar cukup jelas.

Maka tak heran jika telling story bisa menjadi solusi yang tepat untuk menggambarkan UX. Tentunya, jika kita bandingkan menggunakan narasi biasa atau diagram alir. Maka kita tidak bisa langsung mudah memahaminya.

3. Mempermudah Pekerjaan Tim Desain

Bagi seorang desainer produk, kesalahan dalam mendesain produk bisa saja terjadi. Biasanya kesalahan tersebut adalah ketika mereka menciptakan produk karena keinginannya sendiri. Padahal, produk yang akan sukses di pasaran adalah yang memahami kebutuhan pengguna.

Dengan adanya sebuah ilustrasi, maka seorang desainer produk akan mengingat. Bahwa produk yang dia buat bukan hanya untuk dirinya saja. Melainkan untuk user atau pengguna yang mengalami suatu permasalahan yang spesifik.

Poin-Poin Penting dalam Membuat Telling Story untuk User Experience

Ketika kita menggambarkan sebuah cerita dengan baik, maka akan menghasilkan pemahaman yang baik pula.

Hingga akhirnya permasalahan yang dipahami desainer akan menjadi dasar pembuatan produk yang tepat.

Ada beberapa hal penting dalam membuat telling story untuk user experience, seperti :

  • Tuangkan dalam cerita dan perlihatkan bagaimana produk Anda hadir di tengah permasalahan nyata user.
  • Agar terlihat lebih menarik, jangan lupa menyematkan plot dan konflik.
  • Posisikan user sebagai karakter utama, bisa juga ditambah karakter pendukung jika diperlukan.
  • Gunakan setting tempat dan waktu yang tepat.
  • Jangan lupa gunakan judul atau tagline yang membuatnya lebih menarik.

Dengan memanfaatkan telling story untuk user experience, maka pekerjaan seorang desainer produk akan lebih mudah. Produk digital yang akan dijual pada konsumen pun kemungkinan lebih laku karena sudah memahami kebutuhan pengguna.

Baca Juga :