Apa Itu Vanity Metrics dan Alasan Kenapa Harus Menghindarinya

vanity metrics adalah

Dalam dunia digital marketing, vanity metrics adalah salah satu hal yang wajib marketer pahami.

Istilah ini sering ditemukan saat mengukur kualitas campaign atau kampanye pemasaran. Campaign adalah strategi dalam mempromosikan suatu aspek tertentu dari bisnis, baik itu secara konvensional maupun digital.

Namun, menurut para profesional, vanity metrics merupakan salah satu metrik yang menjebak. Pasalnya, metrik ini bisa membuat marketer malah membentuk jenis strategi pemasaran yang sia-sia, karena tidak memberi dampak yang cukup signifikan untuk bisnis ke depan. Itulah kenapa sebisa mungkin marketer perlu menghindarinya.

Melalui artikel berikut ini, kita akan membahas tentang apa itu vanity metrics dan dampaknya untuk bisnis.

Apa Itu Vanity Metrics?

Melansir dari laman Tableauvanity metrics adalah sebuah parameter yang bisa membuat strategi pemasaran terlihat memuaskan, terutama marketing melalui media digital.

Contoh digital marketing adalah pemasaran melalui sosial media (Instagram marketing, Facebook marketing, Twitter marketing), email marketing, atau blog marketing dan optimasi SEO pada website perusahaan.

Meskipun demikian, hasil dari metrik marketing ini tidak bisa membantu dalam memahami kinerja strategi tersebut. Dalam kata lain, metrik ini menawarkan laporan yang positif, tetapi tidak memberikan panduan untuk strategi perencanaan pemasaran di masa mendatang, alias sia-sia.

Vanity metrics sendiri hadir dalam berbagai bentuk, seperti jumlah followers di media sosial, page views, dan hasil analitik mencolok lainnya. Metrik-metrik ini memang menarik untuk ditunjukkan. Akan tetapi, sering kali tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada strategi perkembangan bisnis.

Contohnya, saat ini pengguna media sosial sangat terobsesi dengan jumlah like atau follower. Semakin banyak jumlah like dan follower yang mereka dapat, maka mereka menilai hal tersebut semakin baik.

Tak sedikit pula pelaku bisnis yang mempercayai hal tersebut. Oleh sebab itu, cukup banyak pelaku bisnis atau startup yang terlalu terobsesi mengejar jumlah like dan follower.

Contoh di atas merupakan ilustrasi dari vanity metrics, yaitu suatu parameter yang membuat bisnis terlihat bagus padahal tidak menunjukkan kinerja nyata atau pun membantu dalam menentukan strategi pemasaran Anda ke depannya.

Mengapa Vanity Metrics Bisa Menjebak?

Sering kali, vanity metrics terlihat menyenangkan dan seolah memberikan hasil yang baik, terutama untuk pertumbuhan startup.

Angka-angka yang ditunjukkan terlihat seperti sebuah pencapaian hebat. Akan tetapi, dalam pemasaran bisnis, Anda tidak bisa menggunakan angka-angka tersebut.

Data-data seperti jumlah follower, like, atau jumlah download tidak dapat menentukan berapa banyak jumlah penjualan yang akan Anda dapat nantinya. Menggunakan data seperti ini justru bisa menjebak.

Misalnya adalah jumlah total download dari aplikasi dari sebuah startup. Anda tidak bisa mengukurnya karena setiap orang yang melakukan download belum tentu akan menggunakan aplikasi tersebut secara terus-menerus.

Baca Juga :

Contoh-Contoh Vanity Metrics

contoh vanity metics

Contoh sederhana dari vanity metrics adalah saat seorang investor tertarik pada sebuah bisnis dan bertanya, “Bagaimana target Anda dalam 6 bulan ke depan?”. Ada dua jawaban dari si pemilik bisnis, yaitu:

  1. 100.000 likes Facebook dalam 6 bulan, 20.000 followers IG dalam 6 bulan, 2 kali press coverage per bulan.
  2. 1000 kali transaksi dalam 6 bulan dan dengan conversion rate minimal 5%.

Jawaban pertama adalah contoh vanity metrics. Coba bandingkan dengan jawaban kedua yang lebih detail dan menggunakan data yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dengan jawaban yang menyajikan nilai faktual, investor dapat menghitung nilai ROI (return of investment). ROI adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.

Dengan begitu, bisa diketahui dengan jelas tingkat profitabilitas dari suatu investasi, sehingga investor bisa menentukan ingin berinvestasi atau tidak pada bisnis tersebut.

Intinya, vanity metric tidak memberikan Anda tujuan yang jelas di masa mendatang.

Selain contoh di atas, berikut adalah beberapa contoh vanity metrics lainnya yang perlu Anda ketahui:

1. Jumlah penggemar di Facebook Fanpage

Menurut Hubspot, salah satu bentuk vanity metrics yang masih sering digunakan marketer adalah jumlah penggemar di Facebook Fanpage.

Mengapa demikian? Sebab, angka engagement di Facebook sendiri turun hingga 20% per tahun lalu.

Engagement rate adalah metrik yang bisa mengukur interaksi antara audiens dengan konten. Adapun untuk indikatornya yaitu berapa lama audiens membaca konten, menyukai, berkomentar dan sebagainya.

Namun, terlepas dari berapa banyak orang yang mengklik like di Fanpage, sebagian besar dari mereka tidak pernah kembali untuk melihat konten di laman tersebut. Kenapa? Karena semakin banyak perusahaan yang men-share konten mereka di Facebook maka semakin banyak newsfeed yang muncul di beranda pengguna.

Akibatnya, tidak setiap konten yang Anda bagikan akan dilihat oleh pengguna karena tertumpuk konten lain. Maka dari itu, terlepas dari banyaknya like yang Anda dapat, pengguna cenderung tidak akan kembali untuk mengunjungi Facebook Page Anda.

2. Followers di Twitter

Bentuk vanity metrics lainnya yang perlu Anda hindari selanjutnya adalah jumlah followers di Twitter.

Pada dasarnya, kebanyakan pengguna Twitter hanya mengikuti sebuah akun untuk alasan yang tidak berkaitan dengan minat mereka. Banyak pengguna yang memencet tombol follow hanya karena mereka ingin diikuti balik sebagai timbal balik (mendapatkan followback).

Jika mereka tidak di-follow kembali, sering kali mereka akan hilang dalam beberapa hari kemudian. Tak hanya itu. Kadang ada pula pengguna Twitter yang unfollow saat sudah mendapat followback.

Kenapa? Karena mereka tidak benar-benar ingin mengikuti Anda, atau tidak benar-benar tertarik kepada Anda. Inilah alasan kenapa Anda perlu berhenti memercayai statistik jumlah Twitter followers.

Baca Juga :

3. Pageviews pada blog

pageviews pada blog

Menurut Content Marketing Institute, pageviews pada blog adalah salah satu vanity metrics yang wajib Anda jauhi.

Mungkin Anda pernah atau bahkan sering berpikir bahwa semakin banyak orang yang melihat konten di blog berarti Anda telah membuat konten yang berkualitas.

Metrik ini juga memberikan kesan bahwa Anda telah menciptakan konten yang digemari audiens. Namun, nyatanya pageviews tidak bisa menunjukkan alasan audiens membaca konten tersebut.

Kenapa? Karena Anda tidak pernah tahu apakah konten yang Anda buat bisa menjawab pertanyaan pengguna, atau berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk membaca konten tersebut.

Bisa jadi mereka membaca konten secara keseluruhan dengan serius, namun bisa juga mereka hanya men-scroll tanpa berminat untuk mendapatkan informasi dari konten tersebut.

4. Jumlah subscriber newsletter

Bentuk vanity metrics terakhir yang masih sering digunakan oleh marketer adalah jumlah subscriber newsletter.

Melacak jumlah leads yang berhasil Anda konversi menjadi pelanggan tetap melalui newsletter memang mudah.

Leads adalah sekumpulan pelanggan yang menanggapi atau menunjukkan minat pada brand atau layanan bisnis setelah membaca sebuah kampanye pemasaran. Lead ini bisa menjadi pelanggan potensial dan berpotensi untuk membeli brand atau layanan.

Sayangnya, metrik satu ini tak dapat Anda gunakan untuk melihat kualitas konten yang Anda sebarkan. Dalam kata lain, subscriber tak memberikan gambaran terkait apakah audiens benar-benar menggemari konten tersebut atau tidak.

Cara Mengidentifikasi Vanity Metrics

Melansir G2, satu-satunya cara untuk mengidentifikasi vanity metrics adalah dengan melihat apakah metrik tersebut dapat menggambarkan kualitas strategi pemasaran Anda atau tidak.

Jika metrik yang Anda gunakan tidak bisa membantu dalam proses perencanaan strategi marketing, lebih baik segera menghindarinya.

Intinya, vanity metrics adalah sebuah metrik yang perlu Anda hindari saat mengevaluasi kinerja strategi pemasaran.

Demikian adalah penjelasan mengenai vanity metrics beserta contoh dan bagaimana cara mengidentifikasinya. Penting untuk Anda ingat bahwa setiap metrik bisa menjadi vanity metrics jika sama sekali tidak memberikan keuntungan untuk perkembangan bisnis Anda ke depannya.

Di sisi lain, Anda dapat menggunakan layanan digital marketing agency untuk membantu mengembangkan bisnis. Beberapa strategi marketing yang bisa diimplementasikan adalah growth hack marketing, inbound marketing, 360 Digital Marketing, serta Data-driven marketing agar perusahaan semakin berkembang pesat.

Baca Juga :