Strategi Membangun Startup Tanpa Investor dan Contohnya

membangun startup tanpa investor

Tak bisa kita pungkiri bahwa saat ini semakin banyak orang yang tertarik untuk terjun ke dunia bisnis dan membangun startup sendiri. Namun, yang menjadi salah satu kendala adalah apabila tidak ada investor yang tertarik untuk menanam modal pada bisnis kita. Lantas, bisakah kita membangun startup tanpa investor?

Sejatinya, para investor memang tidak mungkin menanam modal secara cuma-cuma pada startup yang baru berdiri. Mereka harus mengevaluasi berbagai macam hal. Mulai dari enterprise value, growth rate perusahaan, hingga menghitung ROI atau return on investment (pengembalian investasi).

ROI adalah rasio yang menunjukkan persentase keuntungan dari investasi berdasarkan laba keseluruhan dan biaya yang dikeluarkan. Dengan begitu, bisa diketahui dengan jelas tingkat profitabilitas dari suatu investasi.

Jika sekiranya perhitungan ROI tersebut tidak menguntungkan, sudah tentu investor menarik minat mereka untuk menanam modal, bukan?

Hal ini tentunya menjadi kendala besar. Mengingat pada umumnya perusahaan rintisan baru atau startup memang bergantung pada modal dari luar, alih-alih hanya memanfaatkan pendanaan internal dengan menghitung IGR dan SGR.

Namun, jangan khawatir apabila Anda tengah mengalami kendala serupa. Sebab, ada contoh usaha yang terbukti sukses dalam membangun startup tanpa investor. Seperti apa?

Simak ulasan selengkapnya berikut ini!

Contoh Startup yang Sukses Tanpa Investor

Pada tahun 2007, Sridhar Vembu seorang insinyur asal India memutuskan untuk maju melawan Salesforce, yakni sebuah perusahaan perangkat lunak berbasis cloud yang berada di San Francisco, California, Amerika Serikat.

digital marketing agency

Tentunya, “pertarungan” ini tampak sangat tidak seimbang. Mengingat nama Salesforce sendiri telah mendunia dan sangat sukses. Namun hebatnya, Vembu tak gentar sedikitpun. Bahkan, ia maju melawan raksasa software tersebut tanpa dukungan dana dari investor sepeserpun.

Tak disangka, perusahaan rintisan Vembu yang bernama Zoho justru berhasil mencuri pelanggan Salesforce secara signifikan. Bahkan Zoho membuka pasar baru yang lebih luas untuk aplikasi bisnis berbasis Cloud.

Lebih dari itu, saat Salesforce mengalami kerugian, Zoho justru mendapatkan untung besar. Kini, Zoho sendiri telah memiliki total 16 kantor yang tersebar di seluruh dunia dengan lebih dari 70 juta pelanggan.

Lantas, bagaimana Vembu mampu melakukan hal tersebut dan seperti apa strategi business development di baliknya?

Baca Juga :

Sejarah Berdirinya Zoho

Awalnya, Sridhar Vembu membangun AdventNet bersama rekannya yang lain. AdventNet berfokus pada mengembangkan dan menjual Network management tools ke perusahaan telekomunikasi. Pada awal 2001, perusahaan ini memulai operasi resminya di Jepang.

Namun, sayangnya tak lama setelah itu sektor seperti telekomunikasi mengalami guncangan yang keras di Jepang, sehingga mengarah pada kebangkrutan. Ketergantungan AdventNet terhadap industri telekomunikasi membuatnya jadi rentan. Sehingga para founder pun harus memikirkan bisnis plan lainnya untuk menghindari krisis di masa depan.

Kemudian para founder memutuskan untuk membangun solusi perangkat lunak berkualitas tinggi untuk usaha kecil dan menengah (UMKM) dengan harga yang terjangkau. Saat itu, data menunjukkan bahwa UMKM menghabiskan sekitar dua sampai tiga persen dari pendapatan mereka untuk investasi teknologi informasi. Sehingga, AdventNet pun ingin memanfaatkan peluang tersebut.

Kemudian mereka mulai berinvestasi dalam pengembangan perangkat lunak berbasis cloud dengan mengembangkan aplikasi pengolah kata. Yang kemudian berkembang mencakup email, spreadsheet, wiki, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2009, Vembu dan para founder merasa bahwa nama AdventNet itu kurang menarik. Apalagi untuk perusahaan yang terlibat dalam memecahkan masalah bisnis untuk perusahaan kecil dan menengah. Mereka suka dengan nama Soho yang merupakan singkatan dari Small Office Home Office. Tapi sayang nama domain itu sudah tak lagi tersedia. Mereka akhirnya menggunakan Zoho.com pada tahun 2014.

Basis pelanggan Zoho telah melampaui 10 juta pengguna, di mana 50% pengunanya berasal dari Amerika Serikat. Sementara 30% datang dari Inggris dan sisanya dari bahan dunia yang lain.

Zoho sendiri dengan cepat mengembangkan beragam produk baru dan meluncurkan rata-rata empat produk baru setiap tahunnya.

Sempat Melawan Google

Pada awal 2017, Google meluncurkan G Suite, sebuah bundle aplikasi online untuk kantor yang berhadapan langsung dengan Zoho.

Para founder kemudian sadar bahwa pertarungan langsung dengan Google di bidang aplikasi kantor bukanlah pertarungan yang mereka bisa mereka menangkan. Oleh karena itu Zoho memutuskan untuk pindah ke layanan online untuk pengelolaan hubungan pelanggan atau CRM.

Zoho memilih untuk bertarung melawan Salesforce yang sebenarnya juga tak gampang karena saat itu Salesforce telah menjadi raksasa industri layanan CRM berbasis cloud di dunia.

Lalu, apa strategi yang digunakan Zoho untuk memenangkan pertempuran melawan Salesforce?

Baca Juga :

Strategi Kesuksesan Startup Zoho Tanpa Investor

strategi membangun startup tanpa investor

Zoho secara sadar mengetahui bahwa melawan Salesforce bukanlah hal yang mudah. Tapi, mereka memiliki beberapa strategi jitu dan perencanaan bisnis yang rupanya berhasil membawa mereka menuju kesuksesan. Apa saja strategi tersebut?

1. Harga yang Menyesuaikan Segmen

Salesforce didesain untuk digunakan oleh korporasi besar. Sehingga, fitur dan harganya tentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan korporasi besar. Zoho pun menerapkan strategi pemasaran dasar, yang menyesuaikan segmentasi pasar atau STP.

Zoho menghadirkan solusi untuk perusahaan kelas kecil dan menengah dengan harga yang sesuai dengan kemampuan finansial target pasar mereka. strategi Zoho adalah terus membangun aplikasi online baru yang dapat digunakan secara gratis atau dibeli dalam skala besar dengan harga yang terjangkau

2. Kampanye Marketing yang Kreatif

Pada pertengahan tahun 2010, Zoho memasang iklan Billboard di bandara dan di jalan-jalan utama di sekitar San Francisco Bay area dengan kata-kata “CRM without the force sale. Finally” atau “CRM tanpa penjualan paksa”.

Akhirnya, kampanye pemasaran yang menggunakan font yang mirip dengan logo Salesforce itu secara tidak langsung menargetkan pelanggan Salesforce.

Sedangkan iklan billboard lain berbunyi, “Your Salesforce discount code : ZOHO” atau “Kode diskon Salesforce Anda : ZOHO”.

Iklan itu dibuat ketika tim Zoho mengetahui bahwa Salesforce yang biasanya menagih pelanggannya lima kali lebih mahal dari Zoho, kini menawarkan diskon jika pelanggan menyatakan bahwa mereka sedang mencoba produk Zoho.

Kemudian ketika Salesforce mengalami kerugian pada tahun 2015, Zoho memasang iklan yang tampak seperti ucapan belasungkawa yang berbunyi, “Dear Salesforce, sorry for your losses” atua “Salesforce yang terhormat, turut menyesal atas kerugian Anda.”

Tentu saja, ini menjadi sebuah strategi marketing yang berani dan cerdik, serta dapat menarik leads secara tepat dan tertarget. Leads adalah sekumpulan calon pelanggan yang menunjukkan minat pada produk/jasa.

Baca Juga :

3. Curi Pelanggan dari Kandangnya Sendiri

Pada tahun 2013, Zoho menyusupi event marketing Salesforce. Tepatnya sebuah acara tahunan CRM yang diselenggarakan oleh Salesforce.

Dalam event tersebut, Zoho secara berani menyediakan truk makanan gratis dengan spanduk bertuliskan, “Mari coba Zoho, Salesforce tidak perlu tahu”

Secara efektif Zoho menarik penggemar teknologi dan pengguna produk Salesforce yang datang ke event itu. Selain itu, Zoho juga secara konsisten menggunakan berbagai jenis strategi pemasaran, termasuk digital marketing campaign untuk membuat pengguna baru mencoba gratis produk-produk mereka. Dan upaya tersebut membuahkan hasil.

Hingga pada akhir tahun 2015, Zoho memiliki lebih dari 15 juta pengguna. Di mana 10 hingga 15 persen basis pengguna CRMnya berasal langsung dari Salesforce. Kemudian pada tahun 2017, Zoho meluncurkan peluncuran Zoho One, platform aplikasi terpadu yang menghubungkan lebih dari 35 aplikasi Zoho ke dalam satu penawaran.

Satu tahun kemudian, 12 ribu perusahaan menggunakan Zoho One di seluruh dunia. Dan selang beberapa bulan kemudian, meningkat menjadi 20 ribu perusahaan.

Membangun Startup Tanpa Investor, Apakah Memungkinkan?

Tidak seperti perusahaan perangkat lunak lain yang tumbuh besar dengan cara melakukan merger dan akuisisi perusahaan atau produk lain, Zoho memilih untuk mengembangkan semua produk-produknya secara mandiri.

Memang tidak mudah bagi Zoho untuk melakukan akuisisi. Secara Zoho sendiri menjalankan bisnisnya tanpa menggunakan dana investor sama sekali. Sebab, Zoho bertumbuh secara organik (organic growth) dengan menginvestasikan kembali revenue dan income yang mereka peroleh untuk pengembangan produk dan juga untuk pertumbuhan perusahaan.

Dengan strategi bisnis yang jitu dan konsistensi, Zoho membuktikan bahwa startup tetap bisa sukses meskipun tidak menggunakan suntikan dana dari investor. Bahkan Zoho kini memiliki lebih dari 70 juta pengguna di seluruh dunia dengan 50 produk. Di mana sahamnya dipegang oleh para foundernya sendiri yang punya komitmen kuat untuk untuk membesarkan bisnis.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya membangun startup tanpa investor pun juga dapat menuai kesuksesan. Namun, perlu Anda ingat bahwa kuncinya adalah konsisten, memiliki komitmen kuat, serta menerapkan strategi bisnis yang tepat.

Baca Juga :

inMarketing adalah Digital Transformation Consultant dan Digital Marketing Strategy yang fokus pada Leads Conversion, Data-Driven dan Digital Analytics. Kami membantu korporasi untuk tumbuh lebih cepat dengan Marketing Technology Strategy. Konsultasi dengan kami? Contact.